Pagi yang Indah

Mentari masih malu-malu
merangkai senyum di ufuk 
Anak Adam berduyun-duyun
menampakkan riak-riak kecil
Yang melekat tampak menyilaukan
Aroma mereka merintikkan ketenangan


Keadaan selepas fajar sunyi
menjernihkan harapan esok hari
Kalimat-kalimat mereka mengalun
"Allahu Akbar",,, sesekali berbisik


Saatnya derap langkah melaju
Selingan pekikan takbir menggugah
Kemenangan bersorak lalu tertawa lepas
Adakah yang lebih indah dari pesonanya?


Suasana melunakkan jiwa
yang dipeluk dendam masa lalu
Kini lapang seperti lendang hari terakhir
Senyum pun menjadi penuntas kisah lama

begitu indah suasana pagi ini,,,




hari yang fitri, 1 Syawal 1432 H

Malaikat atau Iblis?

Untuk seutas cela,
terkadang harus ada peluh
yang memikul meski sederhana.


Atau untuk rajutan pujian,
yang jatuh berserakan di pinggir jalan
namun luput tak terlintas.


Kadang menjadi Iblis 
membuat nafas tersenggal
Kadang Menjadi Malaikat pun
membuat mata terlelap 


Menjadi Malaikat atau Iblis?


29082011 05.53 pagi

Tangis atau Tawa?


Menanam kisah kemarin,
memelihara langkah hari ini,
dan mengetam esok lusa.

Begitu sederhanakah hidup?

Katakan padaku, "Ya,"
atau diam!

Tulisan-tulisan menumpuk,
memuat jalan cinta yang panjang.
Ternyata ada tawa dan tangis
Sesal senja yang sia-sia
Menangislah! 

Lalu?

Di jauh sana ada rajutan tawa yang panjang,
terlalu kuat dilindas usia.

Inilah mereka,
lihatlah dengan mata telanjang!
Melompat-lompat di taman keabadian,
atau tertawa girang sesekali waktu.
Melihat puncak cinta

Tinggal pilih,
tangis atau tawa?


28082011 03.29 dini hari

Introspeksi di Ujung Penghabisan


Seakan ada mata air yang tiba-tiba mengalir deras di tengah padang pasir yang tandus, bak munculnya air Zam-Zam bagi Hajar, istri Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail alaihimassalam, yang kemudian menjadi anugerah bagi umat manusia hingga hari kiamat. Bahkan ia merupakan satu-satunya mata air yang langsung berasal dari surga. Begitulah, aku mencoba menganalogikan bulan permata, bulan anugerah, bulan pembebasan dari api neraka, dan bulan yang memanusiakan manusia sesuai fitrah penciptaannya.


Kedatangannya begitu dielu-elukan, diagungkan, dan dimuliakan. Meskipun begitu, ia hanyalah sebuah fasilitas, atau wasilah yang Allah anugerahkan kepada umat Rasulullah saw. Namun bukan fasilitas biasa. Ia adalah fasilitas teragung, yang hanya akan disadari oleh hamba yang benar-benar menggunakan akal dan hatinya, dan tentu sangat disayangkan jika ia berlalu begitu saja.

Tidak terasa Ramadan yang mulia ini akan meninggalkanku. Kini sudah menginjak hari ke 27. Tiga hari lagi ia akan pergi, pergi untuk kembali menemuiku, atau aku yang terlebih dahulu meninggalkannya sebelum menemuiku.

Aku sendiri risih dengan pertanyaan yang dilontarkan hatiku. Adakah air mata kesedihan yang menetes ketika mengantar kepergiannya? Adakah peluh yang bersimbah karena giatnya raga beribadah? Atau adakah perasaan rugi karena tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya? Bukankah Rasulullah saw telah mengingatkan bahwa orang yang paling merugi adalah orang yang ketika bulan Ramadan telah berlalu namun belum mendapatkan ampunan dari Allah?.

Aku menangis sejadi-jadinya, merasakan diriku begitu merugi, sangat rugi. Sudahkah Allah mengampuniku? Adakah rahmat Allah menaungiku? Adakah pembebasan dari api neraka untukku? Aku tidak bisa menyalahkan keadaan dan lingkunganku. Yang harus disalahkan adalah diriku sendiri. Aku yang tidak tegas terhadap diriku. Rupanya keadaan terlalu memanjakanku. Tingkahku seakan aku abadi di dunia, padahal diriku dan kematian perlahn-lahan saling mendekati. Tertawaku seakan membuatku merasa aman dari pengawasan Allah. Perbuatan maksiatku seakan menganggap Allah buta dan tuli terhadap apa yang aku lakukan.

Aku ingin lari ke masjid untuk bersujud di hari penghabisan, membaca Al-Quran, menyibukkan lidahku dengan lantunan zikir. Aku ingin hatiku hidup dengan cahaya iman. Aku ingin gemblengan Ramadan membawa pengaruh besar dalam hidupku, dan puncaknya aku ingin masuk surga lewat pintu Ar-Rayyan bersama Rasulullah saw.

Itulah harapanku di ujung penghabisan. Semoga aku bisa bertemu kembali dengan kemulianmu Ramadan! Dan aku mendapatkan sebuah kalimat yang tersirat menjelang keperginmu, “Ketegasan kepada diri sendiri adalah awal perubahan.” (ASH)

Madinah Buuts Islamiyah Cairo, 27 Ramadan 1432 H

Tawa Senjakala

Senjakala, aku mengukir senyum
bersama mereka
Lampau, bahu membahu
mencari nama
Kini pengakuan mengejar
jerih payah
Mata mereka tak berkedip
melihat kami menari
Kami bermekaran di sela-sela
cucuran keringat
Menangguhkan hari-hari penuh tawa
Karena bahagia akan menetas
Mereka adalah manusia pekerja
Mereka diakui
Mereka menang
Selepas LPJ PPR, 24 Agustus 2011
(Buat mereka, Panitia Pemilu Raya PPMI-Mesir 2011)

Kidung Kesunyian


Aku melihat tawa
di dunia mereka
Sedang duniaku penuh
kemurungan
Murung karena pemahaman
yang dalam
Biarlah langit yang menjadi
saksi bisu
Aku murung karena bumiku
semakin menjauhi langit

Kidung-kidung kebanggaan
mereka tampakkan
Lalu menyulam sutera
fatamorgana
Adakah kali ini senjakala
bersemayam di ufukku?
Hanya langit yang tahu
makna sunyi ini

Demikian lanjutan
kisah-kisah lama
Melihat utusan-utusan surga
tegak berdiri

Aku hanya diam
Aku hanya menerawang
cakrawala pikiranku
Aku hanya bersujud
Aku hanya mencintai

Pesona Terakhir


Beberapa saat lamanya, ia masih saja dalam peraduan yang sunyi. Sesekali butiran air mata menetes, lalu ia kembali mengarahkan keningnya ke tempat yang paling bawah, bumi. Kini tangannya menengadah penuh harap, berulang kali ia memuji mengagungkan Sang Pemberi, sembari menyesalkan kekeliruan dan kelalaiannya selama ini. “Wahai Tuhanku yang Maha Pemaaf, Engkau menyukai permintaan maaf. Maka maafkanlah aku,” lirihnya berulang-ulang.

Saat yang dinanti pun menyapa. Ramadan mulai menampakkan pesona yang terakhir, puncak pesona keindahan taman-taman surga. Biarlah wahyu Tuhan yang menjadi saksi, satu dari sepuluh malam penghujung Ramadan adalah benar adanya. Benar bahwa malam tersebut seumpama 84 tahun kehidupan, jika benar seseorang memaksimalkan potensi kedekatannya dan penghambaannya kepada Pemilik malam itu. Namun tidak ada yang tahu, kapan malam itu menyapa harapan-harapan para hamba.

“Jika tiba sepuluh malam penghujung Ramadan; ia menghidupkan malam-malamnya, membangunkan anggota keluarganya, dan mengencangkan ikatan sarungnya (menjauhi istri-istrinya dan bersungguh-sungguh dalam penghambaannya).” begitulah, orang-orang menceritakan bagaimana sang guru besar – yang notabenenya adalah utusan Allah – saat memasuki pesona terakhir. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi saw benar-benar bersungguh-sungguh mencari puncak pesona tersebut, meski dosa dan kesalahannya, baik yang telah berlalu maupun yang akan datang telah diampuni oleh Maha Pengampun. Nabi saw yang mulia seakan mengisyaratkan bahwa tidak ada akhir dari kebaikan, meski kebaikan memeluk anda dengan eratnya, lakukanlah yang terbaik, dan berikan yang terbaik pula untuk diri anda sendiri maupun orang lain.

Di lain sisi, Nabi saw sesekali mengingatkan para sahabatnya, “Siapa saja di antara kalian yang beribadah pada saat malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan mengharap balasan hanya dari Allah semata, maka semua dosa dan kesalahannya yang lampau terampuni.”

Suatu hari istri tercinta Nabi saw, Aisyah, bertanya kepada suaminya tentang apa yang mesti diucapkan ketika mendapati malam yang mulia tersebut, “Wahai istriku, katakan: Wahai Tuhanku yang Maha Pemaaf, Engkau menyukai permintaan maaf. Maka maafkanlah aku.” jawab sang suami penuh perhatian.

Di antara kebiasaan sang guru sejak disyariatkannya puasa adalah beri’tikaf, terutama di sepuluh malam penghabisan. Nabi saw mengasingkan dirinya di masjid, menyendiri sambil melafazkan senandung-senandung ketenangan. Tujuan (main point) sekaligus ruh dari i’tikaf itu sendiri adalah menetapnya hati kepada Allah yang Maha Dekat. Selain menetap, kedekatan tersebut seakan menyelimuti hati yang hanya berisikan kalimat-kalimat Tuhan, nama mulia yang memenuhi relung-relung hati para hamba yang hanya mengharap ridha dan kasih sayangNya. Keadaan tersebut menyebabkan terputusnya segala bentuk kesibukan dengan ciptaan, dan hanya tersibukkan oleh Sang Pencipta. Inilah tujuan i’tikaf  yang paling agung.

Nabi saw menekuni kebiasaan tersebut hingga takdir Tuhan tiba, lalu dengan titahNya Ia memerintahkan malaikat untuk mengambil ruhnya yang suci dari dunia yang yang sudah tua renta ini. Namun hanya sekali sang guru meninggalkan kebiasaan tersebut, tak pelak Nabi saw pun menggantinya di bulan Syawal.

Nabi saw juga pernah melakukan i’tikaf sekali di sepuluh malam pertama, begitu juga di sepuluh malam pertengahan, dengan harapan bertemu dengan pesona teragung. Namun setelah nampak bahwa malam kemuliaan tersebut ada pada salah satu malam dari sepuluh malam penghabisan, tak pelak Nabi saw langsung menghabiskan sepuluh malam tersebut dengan beri’tikaf hingga ajal menjemputnya.

Begitulah teladan dari sang guru semenjak 14 abad silam, bagaimana kesungguhan beliau dalam penghambaannya di sepuluh malam penghabisan. Bulan yang mulia ini akan segera berlalu beberapa hari ke depan. Sebagai orang yang masih memiliki rasa peka dan rasa sadar diri, rugi rasanya jika ia berlalu begitu saja. Apalagi jika ia berlalu, di sisi lain dosa kita kepada Sang Pencipta terus mengepul bagai asap.

Kini waktunya membuka mata hati selebar-lebarnya. Waktunya melihat diri kita sendiri sedetail-detailnya dari berbagai dimensi, lalu berbenah dan merekonstruksi sikap kita. Biarlah yang telah berlalu hilang termakan zaman. Saatnya kita fokus untuk memperbaiki hubungan kita dengan Sang Pencipta yang Maha Pengampun mumpung masih dalam naungan Ramadan yang mulia.

Saatnya meneladani sang guru. Saatnya bersungguh-sungguh untuk i’tikaf, sebagaimana Nabi saw menekuninya dengan sungguh-sungguh. Siapa yang tahu kalau pesona terakhir akan menyapa, ketika kita benar-benar bersungguh dalam penghambaan kepada Pemilik malam itu. Siapa yang tahu sekali lagi. Jadi, kita harus bersungguh-sungguh dengan segenap kemampuan yang ada untuk mendapatkan pesona terakhir yang juga pesona teragung.

Siapa yang tahu? (ASH)

Madinat Buuts Islamiyah, 20 Ramadan 1432 H pukul 01.48


Refrensi: Zaadul Ma'ad, karangannya Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah
               Fiqh Sunnah, karangannya Syaikh Sayyid Sabiq

Lebaran dan Orang Tua

Mungkin anda pernah mendengar kata-kata ini, ”Pak, saya mau baju yang ini.” Atau penah melakukan yang ini, "Bu minta duit dong, buat beli baju lebaran.”  Kemudian anda akan mendengar jawaban dari mereka, ”Maaf nak, pakai baju lebaran yang kemarin aja ya, Ibu belum ada uang.” atau jawaban seperti ini, “Ini ada uang sedikit, pakai untuk sekedarnya saja ya.”

Itu adalah sekelumit fenomena yang terjadi menjelang lebaran. Mungkin contoh di atas terlalu wah, seakan seperti pentas drama, atau menganggapnya seperti anak kecil yang merengek kepada orang tuanya agar dibelikan baju lebaran seperti teman-temannya yang lain. Memang itu semua adalah tradisi yang sudah sangat mengakar di tengah masyarakat kita. Di samping menjalankan perintah Rasulullah saw untuk mengenakan pakaian terbaik yang kita punya namun bukan berarti membeli yang baru.

Hari raya Idul Fitri memang identik dengan berbagai revolusi dalam hati dan penampilan kita. Tidak bisa disangkal bahwa gemblengan Ramadan selama 1 bulan penuh telah memperkaya hati kita. Kekayaan hati yang dimaksud adalah jiwa yang semakin dekat kepada Allah. Hati yang semakin qana’ah, dada yang  dipenuhi dengan kesabaran, rasa takut untuk kembali jatuh ke lembah dosa yang selama ini biasa kita lakukan, apapun bentuknya, dan tentu semangat yang menyala untuk kembali proaktif dalam kegiatan-kegiatan ilmiah yang menunjang keilmuan dan karakter kita.

Selanjutnya dari segi penampilan, sudah tentu tidak mau ketinggalan, semua yang melekat dari ujung rambut hingga ujung kaki serba baru. Perasaan yang begitu bahagia dan tenang, subhanallah!. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?.” Begitulah Allah berulang kali mengingatkan kita.

Namun titik temu (main point) yang ingin saya sampaikan adalah ketika kita dengan begitu bahagia menikmati semua ini, adakah pernah terbesit dalam benak kita untuk sekedar meraba apa yang ada dalam pikiran orang tua kita menjelang lebaran?.

Ah! Tidak usah terlalu lama, kita semua sudah tahu jawabannya. Ternyata di balik semua kebahagiaan itu, ada orang yang jauh-jauh hari telah memutar otak dan memeras keringat untuk mempersiapkan keperluan-keperluan, ya termasuk kebutuhan menjelang lebaran seperti sekarang ini. Namun apa yang kita lihat, dia tetap menampakkan senyuman termanis yang pernah kita lihat. Tidak ada beban sedikitpun. Siapa yang menyangka bahwa dia telah mengeluh dalam batinnya, tak lama kemudian menyandarkan kepada Sang Pencipta. Yang dia adukan adalah bagaimana memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Yang dia adukan adalah bagaimana agar anaknya tidak malu di hadapan teman-temannya karena tidak mempunyai pakaian baru. Yang dia adukan adalah bagaimana agar cara menyelesaikan semua permasalahan itu.

Sudahlah!, kita tidak usah terlalu peka, nanti masalahnya semakin runyam tanpa ada penyelesaiannya. Yang penting kita saling mengingatkan bahwa di balik bahagia, tawa, dan perasaan bangga dengan apa yang ada dalam genggaman kita saat ini sesungguhnya ada keringat yang tidak pernah berhenti menetes dan ada otak yang tidak pernah berhenti berpikir. Rasakanlah, kemudian pikirkan, lalu doakan mereka.

Akhirnya kita sebagai hamba yang fakir kepada Allah senantiasa memohon kepada-Nya agar mereka diampuni dosa-dosanya, dimudahkan segala urusannya, dan dilapangkan rezekinya agar bisa memberikan kita bekal dalam menuntut ilmu. Amin ya Rabbal Alamin. (ASH)

Madinat Buuts Islamiyah Cairo, 30 Ramadan 1431 H. 

Profesor Dr. Mohammed Ragab El-Bayoumi, Sang Sastrawan Sekaligus Ulama Besar


Sabtu pagi yang kelam, beberapa orang terlihat mondar-mandir kebingungan. Ada yang yang duduk bersandar sambil meneteskan air mata. Ada pula yang diam membisu menatap kosong. Ia kini telah pergi, pergi untuk selama-lamanya. Dunia Sastra Arab berkabung. Dan Al-Azhar kembali kehilangan salah satu kader terbaiknya. Sang Sastrawan yang sekaligus Ulama’ Besar. Orang arab biasa menyebut seseorang yang menguasai berbagai disiplin ilmu dengan ‘alim mausu’i (encyclopedic scientist). Dialah Profesor Dr. Mohammed Ragab El-Bayoumi, sang ‘alim mausu’i yang mengusai berbagai macam disiplin ilmu, begitu juga dengan wawasan beliau yang sangat luas.

Beliau lahir pada awal Oktober 1923 di Desa Kafr Gadid, salah satu desa di Provinsi Daqhalia yang terletak di Delta Mesir bagian utara. Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengahnya di Ma’had Al-Azhar Zaqaziq, beliau kemudian melajutkan pendidikan tingginya di fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar Cairo dan selesai pada tahun 1949. Beliau tidak langsung menyelesaikan progaram Pascasarjananya, beliau lebih memilih untuk mengabdikan ilmunya setelah berhasil menggondol gelar Diploma di Institut Pendidikan Tinggi 1950. Dan akhirnya pada tahun 1965, beliau berhasil mempertahankan tesisnya di hadapan para pengujinya untuk memperoleh gelar Magister dengan judul Al-Adab Al-Andalusi Baina At-Ta’atstsur Wa At-Ta’tsir (Andalusian Literature, Between Affected and Impact), dilanjutkan dengan program doktoralnya di bidang sastra dan kritik sastra yang diselesaikan dua tahun kemudian, yaitu pada tahun 1967 dengan desertasi yang berjudul Al-Bayan An-Nabawi (Prophet's Statement) dan berhasil meraih predikat Summa Cumlaude.

Dengan gelar doktor yang diraihnya, beliau kemudian ditunjuk menjadi dosen di Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar. Sepuluh tahun kemudian beliau mendapatkan gelar akademik tertinggi yaitu Profesor, lalu menjadi Dekan Fakultas Bahasa Arab di Manshura selama sepuluh tahun. Kemudian menjadi Guru Besar Tamu di berbagai universitas di antaranya Universitas Imam Muhammad Bin Saud, Saudi Arabia. Beliau juga menjadi pembimbing sekaligus penguji berbagai risalah ‘ilmiah (tesis magister dan desertasi doktoral) dan mengikuti seminar dan diskusi di berbagai forum baik di dalam maupun luar negeri. Dan jabatan terkhir beliau adalah sebagai Pimpinan Redaksi Majalah Al-Azhar, majalah yang diterbitkan oleh Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyah (Islamic Research Academy), salah satu lembaga tinggi di bawah naungan Al-Azhar yang menghimpun para ulama’ dan pakar di semua bidang. Beliau juga adalah anggota di lembaga tersebut.

Bakat kepenulisan Profesor Dr. Mohammed Ragab El-Bayoumi sudah terasah semenjak remaja. Bakat tersebut telah melekat sedemikian kuatnya, hal ini bisa kita lihat dengan artikel-artikel beliau yang sudah dimuat di Majalah Ar-Risalah, sebuah majalah sastra yang menampung tulisan-tulisan para satrawan terkemuka masa itu diantaranya; Al-‘Aqqad, Thaha Husain, Ahmad Amin, Zaki Mubarak, Taufiq Hakim, dan masih banyak lagi sastrawan-sastrawan sekaliber mereka. Di antara artikel beliau waktu itu adalah “Ma’na Baitin Wa I’rabuhu”, sebuah artikel yang menjelaskan isi kandungan syair dari penyair Al-A’sya, salah satu penyair besar zaman Jahiliah. Di samping menjelaskan, beliau juga menguraikan secara panjang lebar sisi keindahan syair tersebut, padahal usia beliau waktu itu baru menginjak tujuh belas tahun (1940).

Dengan demikian tidak diragukan lagi, dengan bakat yang diasah semenjak belia, tulisan-tulisan beliau dalam bidang sastra maupun pemikiran-pemikiran Islam banyak dimuat di berbagai majalah baik di Mesir maupun negara-negara Arab mulai dari era 50-an hingga saat ini. Di antaranya Majalah Al-Azhar (Mesir), Majalah Al-Faisal (Saudi Arabia), Majalah Al-Dhuha (Qatar), Majalah Al-Wa’yu Al-Islami (Kuwait), Majalah Manarul Islam (Uni Emirat Arab), dan masih banyak lagi yang belum disebutkan.

Ketika memimipin majalah Al-Azhar, beliau merenovasi dan membawanya kepada era baru, dengan mengikutsertakan para pakar pembaharu namun tetap pada ide dasarnya, yaitu melestariakan turats yang menjadi akar atau sumber pemecahan masalah fiqih dalam dunia islam, begitu juga halnya sebagai referensi dalam pengeluaran fatwa-fatwa. Demikian pula dengan kutaib-kutaib (kitab mini) yang berisikan makalah-makalah berbagai macam disiplin ilmu, yang menjadi hadiah dari majalah tersebut merupakan hasil dari ide cemerlang beliau.

Disamping menulis artikel-artikel,beliau juga tetap aktif menulis buku, tak kurang dari 70 karangan beliau menghiasi perpustakaan-perpustakaan Islam. Delapan di antaranya berupa kumpulan-kumpulan syair, lebih dari sepuluh di bidang sastra dan sejarah, yang menceritakan kehidupan para pujangga kontemporer, para pembaharu dan tokoh-tokoh lainnya. Demikian juga sekitar dua puluh cerita yang beliau tulis untuk anak-anak dan remaja.

Beliau juga memiliki banyak karangan di bidang keislaman antara lain; Al-Bayan Al-Qur’aniAl-Bayan An-NabawiMin Munthaliq Islami (dua jilid), Fi Mizan Al-Islam (dua jilid), Al-Islam wa Ushul Al-Hukm, dan masih banyak lagi. Begitu juga karangan beliau dalam bidang sejarah dan sastra, di antaranya; Adab As-Sirah An-Nabawiyyah ‘Inda Ar-Ruwad Al-Mu’ashirin, Baina Al-Adab Wa An-Naqd, An-Nahdhah Al-Islamiyah Fi Siyar A’lamiha Al-Mu’ashirin (lima jilid), Nazharat Adabiyah (empat jilid), dan lain-lain.

Dengan melihat produktifitas beliau yang sangat tinggi dalam menelorkan karya-karya monumentalnya, beliau mendapatkan beberapa penghargaan, di antaranya; penghargaan Shauqi Award di bidang puisi dari Majelis Tinggi Kesenian dan Sastra Mesir tahun 1960, penghargaan Arabic Academy Award di bidang Literature Studies tahun 1963, penghargaan Arabic Academy Award di bidang Literary Biography tahun 1964, dan lain-lain.

Akhirnya tepat pada Sabtu pagi tanggal 5 Februari 2011, di tengah hiruk pikuk dan gegap gempita Revolusi Mesir yang dimotori para pemuda semenjak tanggal 25 Januari 2011 dan berakhir dengan jatuhnya Muhammad Husni Mubarak dari kursi kepresidenan tanggal 11 Februari 2011, Sang Sastrawan sekaligus Ulama’ Besar, Sang ‘Alim Mausu’i  pergi untuk selama-lamanya menghadap keharibanNya.

Tak pelak, dengan kepergian beliau di usianya yang ke 88 yang tak hanya meninggalkan duka di kalangan sanak keluarga melainkan Al-Azhar yang notabenenya adalah Manarah Al-Ilmi Wa Al-Islam Al-Wasathi, begitu juga dunia sastra Arab, dan tentu Majalah Al-Azhar. Bagaimana tidak, beliau telah memberikan kontribusi sedemikian besarnya baik dalam bentuk pemikiran-pemikiran keislaman maupun karya-karya kesastraan selama tujuh puluh tahun lamanya. Tepat beberapa minggu setelah wafatnya, Majma’ Al-Buhuts Al-Islamiyah (Islamic Research Academy) menggelar sidang yang ke sepuluh, bertepatan dengan tanggal 24 Februari 2011 yang dipimpin langsung oleh Grand Syaikh Al-Azhar Prof. Dr. Ahmad At-Tayyib dalam rangka berbelasungkawa dan penyampaian opsi-opsi untuk mengenang Sang Sastrawan sekaligus Ulama’ Besar.

Dr. Umar Husain As-Sa’di, salah seorang dari sedemikian banyak para ulama dan cendikiawan yang menulis artikel tentang Sang ‘Alim Mausu’i di majalah Al-Azhar mengatakan: “Sesungguhnya perjalanan hidup Profesor Dr. Mohammed Ragab El-Bayoumi merupakan perjalanan hidup yang penuh dengan cahaya dan kemuliaan. Beliau menghabiskan waktunya untuk menuntut ilmu kemudian mengajarkannya. Hidup di antara kitab-kitab, membaca dan mengarang. Hingga menjadi kemampuan dan keunikan yang langka, bagaimana tidak, beliau mampu melahap buku yang tebalnya melebihi lima ratus halaman dalam dalam hitungan menit lalu menghasilkan karya-karya monumental yang membuat anda mampu membaca langsung kepribadian Sang Guru Besar, di samping beliau memiliki budi pekerti yang mulia.”

Semoga Allah Swt. merahmati dan menempatkan beliau di surgaNya yang luas, dan menjadikan sumbangsih beliau terhadap Islam dan kaum Muslimin yang penuh dengan keikhlasan menjadi amal jariyah beliau di hari kiamat kelak. Amin ya Rabbal ‘Alamin. (ASH)

وإني لأرجو اللهَ حتَّى كأنَّما *** أَرَى بجَمِيلِ الظَنِّ مالله صَانِعُ

*Tulisan ini telah saya kirimkan ke Buletin Informatika
Refrensi: Majalah Al-Azhar edisi Maret dan April 2011

Modal Saat Iman Lemah




Hidup seakan hambar, tak ada cerita untuk melukiskannya, ia hanya berlalu begitu saja, entah mengapa? ٍSesaat kemudian kemalasan merasuk tanpa diminta, sangat pelan, sehingga seakan tidak sadar bahwa kemalasan telah menggerogoti seluruh bagian dari hidup. Kini hidup bisa dikatakan bak mayat berjalan, ia makan, minum, tidur, dan tentu bernafas. Hanya itu, tidak ada sedikitpun yang menunjukkan bahwa ia memang hidup. Lalu hidup yang dimaksud seperti apa? Bukankah ia masih bernyawa? Bukankah ia masih bernafas, makan, minum, tidur, dan lain sebagainya?

Jawabannya adalah ia memang masih hidup dalam maknanya, namun mati dalam hakikatnya. Hakikat hidup adalah beribadah, hidup adalah berzikir, hidup adalah ketika waktu diatur dan ditata sedemikian rupa sehingga ia berlalu dalam naungan cinta dan ridha Allah, hidup adalah adalah ketika orang tua ridha, hidup adalah ketika jatuhnya tetesan keringat karena membantu sesama, hidup adalah kepedulian terhadap nasib saudara-saudara lalu membantu atau mendoakan mereka, dan tentu hidup adalah bergerak dan terus bergerak.

Kenyataan harus diterima serealistis mungkin, tidak bisa dipungkiri bahwa ia melakukan rotasi terus menerus tanpa henti, hari ini jiwa begitu semangat melakukan ibadah dan ketaatan, bahkan tak jarang hingga meneteskan air mata pengakuan dosa seraya memohon ampunan, lalu berdoa dengan khusyu’, tadharru’, dan khufyah. Namun besok, lusa, atau di lain waktu jiwa akan merasa lelah dengan semua ibadah dan ketaatan tersebut, jiwa seakan terlalu uzur untuk melakukannya, sehingga yang sunnah-sunnah mulai ditinggalkan, bacaan Alquran dijarangkan, kepergian ke masjid ditunda sampai menjelang iqamat, dan yang paling miris adalah shalat jamaah ditinggalkan.

Ini adalah realita, ia merupakan sunnatullah yang harus dialami oleh  setiap anak cucu Adam. Sama sekali bukan penyakit, siapapun dan bagaimanapun kedudukannya sama saja. Mulai dari manusia yang paling tinggi kedudukannya di sisi Allah (Rasulullah saw), para Nabi alaihimussalam, sahabat-sahabat Rasulullah saw, tabi’in, para ulama’ hingga manusia seperti kita ini tidak akan luput dari hal tersebut.
Lantas apa yang membedakan mereka dengan kita? Mengapa jiwa mereka seakan tidak pernah lelah untuk beribadah dan melakukan ketaatan?

Kita akan mendengar bahwa Rasulullah saw mengerjakan shalat malam terus menerus hingga kakinya bengkak karena terlalu lama berdiri, atau Said ibn Musayyab selama 40 tahun tahun tidak pernah melihat punggung orang lain di depannya ketika shalat (kerena selalu berada di shaf pertama) dan selalu mendapatkan takbiratul ihram-nya imam, atau Imam Ahmad ibn Hanbal yang selalma 60 tahun tidak pernah berselisih dengan istrinya apalagi bertengkar kemudian melakukan KDRT, atau Imam Bukhari yang semenjak baligh tidak pernah berbohong sedikitpun, dan masih banyak lagi contoh-contoh yang akan membuat kita tercengang kemudian kita akan mengatakan tidak mungkin bisa seperti itu.

Yang membedakan kita dengan mereka adalah kualitas kesabaran. Ya, kualitas kesabaran. Bukan hanya dalam ibadah dan ketaatan, melainkan dalam segala aspek kehidupan. Dan itu akan membedakan antara pecundang dan pemenang, pemimpin besar dan orang munafik (koruptor), orang yang berprestasi gemilang dan pemalas.

Kesabaran yang dimaksud adalah kesabaran mengahadapi jiwa yang sedang lelah dengan berbagai macam ibadah dan ketaatan terutama di bulan suci Ramadan agar tetap istiqamah. Kesabaran yang dimaksud adalah kesabaran terhadap rasa bosan dan penat agar tetap senantiasa belajar. Kesabaran yang dimaksud adalah kesabaran untuk menahan jiwa agar tidak melakukan hal yang sia-sia. Dan puncaknya adalah kesabaran ketika lemahnya iman. (ASH)


Madinat Buuts Islamiyah, 19 Ramadan 1431 H


66 Tahun Indonesia, Bagaimana Memaknai Kemerdekaan (Catatan Kecil)



Tidak terasa usia Ibu Pertiwi semakin tua, hari ini Ibu Pertiwi tepatnya berusia 66 tahun. Usia yang tidak muda lagi, begitu banyak rentetan pristiwa yang mengiringi perjalanannya. Mulai dari perang mempertahankan kemerdekaan, penumpasan gerakan-gerakan sparatis pada dekade 50-an, kemudian pengkhianatan oleh kaum komunis pertengahan 60-an sekaligus tumbangnya rezim Soekarno dengan ideologi Nasakom-nya.

Selanjutnya bangsa kita dipimpin oleh Soeharto selama tiga dekade menggunakan sistem militer-parlemen-birokrasi, kira-kira begitulah bahasanya. Sistem sudah terbukti mempertahankan kekuasaannya selama 30 tahun lamanya. Namun pada akhir dekade 90-an tepatnya tanggal 21 Mei 1998, rezim yang begitu kokoh itu roboh oleh para mahasiswa dari seluruh penjuru tanah air, kekuatan mereka yang dianggap begitu enteng ternyata bisa meluluhlantakkan tatanan birokrasi rezim Orde Baru, padahal jumlah mahasiswa pada saat itu tidak lebih 10% dari seluruh warga negara Indonesia.

Begitulah, pelajaran berharga yang dapat dipetik adalah jangan meremehkan sesuatu yang kecil, karena gunung yang begitu besar berasal dari bebatuan kecil atau lautan yang begitu luas dan dalam juga berasal dari tetesan air, kira-kira begitulah bunyi pesannya.

Kembali pada pembahasan, setelah itu bangsa kita memasuki fase baru yaitu zaman reformasi yang tentu Anda tahu dengan berbagai kebebasan berekspresi di khalayak umum. Zaman yang baru berumur 13 tahun ini ternyata sudah mengalami pergantian presiden sebanyak 4 kali, mulai dari BJ Habibie sampai dengan SBY yang hingga kini masih memimpin negeri ini.

Nah! Kira-kira begitulah ringkasan singkat perjalanan bangsa kita yang tercinta ini untuk sekedar mengingatkan. Namun bukan itu yang ingin saya sampaikan di sini, sebab kita sudah mempelajarinya ketika duduk di bangku sekolah menengah dulu. Kira-kira apa makna yang bisa kita petik dari perayaan hari kemerdekaan yang bertepatan dengan bulan Ramadhan yang mulia ini?

Tentu kita semua sudah tahu akan pentingnya kemerdekaan, "merdeka atau mati", kata-kata itulah yang terhujam ke alam bawah sadar para pejuang kita ketika mempertahankan kemerdekaan yang baru saja diproklamirkan oleh sang dwitunggal negeri ini (Soekarno-Hatta), sehingga mereka seakan melihat pasukan sekutu dengan persenjataan modern lebih kecil dari semut, lebih bodoh dari keledai, dan harus diusir dari bumi pertiwi ini.

Mengapa kemerdekaan harus dibayar dengan tetesan darah dan air mata, mengapa harus ada nyawa yang melayang demi kemerdekaan, dan mengapa kemerdekaan begitu bernilai? Itulah rentetan pertanyaannya. Dan tentu jawabannya karena kemerdekaan adalah harga diri, kemerdekaan adalah persatuan, kemerdekaan adalah kemajuan, kemerdekaan adalah kekayaan, kemerdekaan adalah kesejahteraan, kemerdekaan adalah tegaknya moral, dan kemerdekaan adalah sarana kedekatan kepada Allah.

 Namun apa yang terjadi setelah 66 tahun kita merdeka? Bukankah kita sudah merdeka, bukankah Belanda dan sekutunya sudah terusir dari bumi pertiwi ini? Lantas mengapa bangsa kita seperti dijajah? Meski relatif, namun sebagai orang yang berakal tentu harus realistis, berkaca pada kenyataan yang terjadi. Moral, ekonomi, pendidikan, persatuan, atau kedaulatan misalnya. Ah! terlalu miris jika harus mengingat dan menjabarkannya. Namun ia tetap bangsa Indonesia, bangsa yang di mana kita lahir dan dibesarkan. Bangsa yang harus kita harumkan namanya, bangsa yang harus dibela mati-matian.

 Kesadaran ada pada diri kita. meski sulit, apa salahnya jika kita mau berusaha. Kita adalah cerminan dari bangsa kita yang tercinta ini, kita harus maju, kita harus bersatu, kita harus belajar dengan sungguh-sungguh di manapun kita berada, kita harus memperbaiki kualitas diri kita, baik kepribadian, intelaktualitas, maupun ekonomi, dan kita harus menjadi ujung tombak perubahan menuju yang lebih berkualitas dan bermartabat di mata dunia agar tidak dipandang sebelah mata oleh mereka.

Dan mari kita menjaga kesucian diri, memperbagus niat, memperbanyak kajian-kajian ilmiah, beribadah sebaik mungkin, dan tentu tanpa kemalasan, karena malas lebih berbahaya dari virus HIV, malas akan membuat bangsa Indonesia tertidur, malas akan menyebabkan tersebarnya kemiskinan, dan puncaknya adalah penghambat masuk surga.

 Mengakhiri tulisan ini, kita berdoa semoga Allah mengubah dan memajukan bangsa Indonesia lewat tangan-tangan kita para pemuda dan pemudi, yang takut kepada Allah, yang haus akan ilmu, dan yang merasakan penderitaan orang-orang yang membutuhkan. Amin ya rabbal 'alamin. (ASH)

Indonesia, kami bangga menjadi bangsa Indonesia.

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Madinat Buuts Islamiyah, 17 Agustus 2011 dini hari

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India