Jalinan Kedunguan

Katakan padaku!
Katakan juga pada mereka!
Apakah jalinan ini hanya menyisakan kedunguan?
Iya, kedunguan atas nama pengorbanan
Kedunguan berjubah kesetian
Kedunguan dalam kemunafikan

Setelah senja itu
Aku tak lagi melihat jarak
Aku tak lagi mendapati kejujuran
Aku tak lagi merasakan ketulusan
Aku tak lagi mengecap kerinduan

Dan kini!
Saat kita larut dalam keambiguan
Saat kita pupus bersama khayal kosong
Kita semakin jauh dari kewarasan
Kita semakin tertipu

Ah, mengapa kita tak cukupkan saja?
Agar tak ada lagi semua itu
Aga tak ada lagi kau dan aku


Musim dingin yang penuh dengan kedunguan
Islamic Missions City, 5 Desember 2014

Ahmad Satriawan Hariadi  

[Masih] Tentang Perempuan

Ketika seseorang memiliki kedalaman pemikiran dan segudang pengalaman, ia pada akhirnya akan sadar bahwa ia tidak ada apa-apanya di hadapan perempuan. Perempuan memang lemah. Namun sadarkah anda bahwa itulah satu-satunya senjata perempuan yang paling ampuh untuk membuat laki-laki bersimpuh padu di hadapannya, tunduk patuh terhadap perintahnya.

Kemudian akan lain ceritanya ketika kelemahan itu tercabut dari jati diri perempuan. Iya, konstelasi kehidupan laki-laki dan perempuan tak lagi seperti sediakala. Kesalingan yang dulu ada antara keduanya kini berubah menjadi persaingan. Perhatian dan belas kasih berubah menjadi ketidakpedulian dan kebencian. Perempuan tak bisa lagi bermanja-manjaan atau tersedu-sedu agar mendapat perhatian dari kaum laki-laki. Semuanya berubah. 

Inilah senjata aneh yang pernah dimiliki makhluk Tuhan di atas muka bumi ini. Namun lucunya kebanyakan --bahkan semua-- perempuan tidak suka dikatai sebagai ‘makhluk lemah’. Kaum perempuan akan sangat girang jika mereka disebut makhluk kuat. Padahal, jika mereka benar-benar kuat dalam arti yang sebenarnya, sudah tentu tak ada lagi mata-laki-laki yang tertuju padanya.

***

Jika kita ingin memberikan perumpamaan, maka perumpamaan yang paling tepat untuk perempuan adalah seperti gunung. Iya, gunung akan indah menawan jika anda menatapnya dari kejauhan. Namun ketika anda mencoba mendekatinya, maka keindahan tersebut akan lenyap sedikit-demi sedikit, untuk digantikan oleh ribuan pertanyaan yang menjadi misteri. Bahkan ketika anda sudah berada di lembah gunung tersebut, bisa dipastikan kalau anda sudah tak mampu lagi dunia sebagaimana sebelumnya.

Dari pemaparan di atas, saya tidak peduli apakah anda bisa menangkap apa yang saya maksud atau tidak. Yang jelas, saya hanya ingin menegaskan bahwa, jika seorang laki-laki ingin agar perempuan itu tetap cantik di matanya, hendaklah ia menjaga jarak darinya. Janganlah sekali-kali anda mencoba mendekatinya, sebab mendekatinya adalah sebuah kecerobohan terbesar di dalam hidup.

Anda tentu bisa membayangkan bagaimana rasanya tersesat di dalam hutan lebat yang sinar matahari pun tak mampu menerobos masuk ke dalamnya. Jika pun ia bisa keluar dari hutan tersebut, maka sudah tentu butuh tenaga dan masa yang tidak sedikit untuk itu. Lalu akan besar kemungkinannya jika anda bakal tetap terpasung di dalam hutan tersebut untuk selama-lamanya.


Hay Sabi, 17 Oktober 2014

Ahmad Satriawan Hariadi

Sekilas Muhammad Farid Wajdi

Si tamu begitu terheran-heran melihat tuan rumah selalu berdiri --sebagaimana ia menyambut tamunya-- setiap kali pembantunya masuk ke ruang kerjanya.
“Kenapa anda harus repot-repot berdiri untuk pembantu anda?” tanya si tamu.
Tahukah anda apa jawaban si tuan rumah? Iya, ia tak menjawab pertanyaan si tamu, tapi malah balik bertanya, “Lalu apa bedanya pembantu saya dengan para tamu saya yang lain?!”
Akhirnya si tamu berkata kepada dirinya, “Aku seperti melihat Nabi pada akhlak orang ini.”
Dari kisah di atas, saya mencoba merenungi mengapa si tamu mengatakan bahwa ia seperti melihat Nabi pada akhlak si tuan rumah. Beberapa saat kemudian, saya baru menyadari bahwa seseorang, sebelum ia menjadi diri dia saat ini --apakah itu dokter, guru, filsuf, pilot, entrepreneur, presiden, rakyat jelata, pembantu rumah tangga--; sebelum ia menjadi itu semua adalah seorang manusia.
Iya, manusia yang telah dimuliakan oleh Allah jauh sebelum ia dilahirkan. Manusia yang harus dihormati dan dihargai, tanpa peduli jabatan dan strata sosialnya, tanpa peduli keyakinan dan kepercayaannya.
Saya pun teringat bahwa Nabi pernah berdiri memberikan penghormatan kepada jenazah yang lewat di depannya. Manakala beliau diberi tahu kalau jenazah yang barusan lewat di depannya adalah seorang Yahudi, Nabi lantas berkata, “Bukankah dia adalah seorang manusia?!”
Tahukah anda siapa si tuan rumah tersebut? Iya, dialah Muhammad Farid Wajdi (1878-1954), sosok langka seorang muslim yang pernah dilahirkan di era modern ini. Sosok unik yang jarang sekali kita temukan tandingannya. Sosok yang menyelamatkan muka kaum muslimin di hadapan para orientalis saat ia menyaingi mereka dengan mengarang sepuluh jilid “Ensiklopedi Islam Abad 20” seorang diri selama sepuluh tahun.
Ensiklopedi yang seharusnya dikerjakan oleh puluhan ulama dan pemikir menurut kapasitas dan keahlian mereka, sebagaimana Ensiklopedi Islam yang ditulis para orientalis dalam kurun waktu puluhan tahun; namun oleh Farid Wajdi dikerjakan seorang diri hanya dalam tempo sepuluh tahun saja.

Lihatlah betapa dalam dan betapa luasnya pengetahuan tokoh ini! Apalagi jika kita menyadari kalau Farid Wajdi hanyalah lulusan SMP.

Cairo, 3 November 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Gegabah dalam Kehidupan Ilmiah (!)

Tidak ada yang lebih disayangkan dari kehidupan ilmiah seseorang, selain ketika ia terjebak di dalam kungkungan, yang menyebabkan ia tidak kuasa untuk menilik pendapat-pendapat yang lain, lalu melakukan komparasi antara pendapat-pendapat yang berseberangan, hingga akhirnya keluar dengan kesimpulan yang adil dan objektif.

Namun apa daya, orang-orang semacam ini hanya melihat satu pendapat (atau jika ia lebih terbuka sedikit, maka hanya terfokus pada satu pendapat di antara pendapat-pendapat yang ada di depannya); sehingga tanpa berpikir panjang, ia dengan begitu tergesanya menjustifikasi, lalu mendiskreditkan, bahkan jika perlu mengkafirkan.

Penyakit semacam ini biasanya mewabah dikalangan para pemula, karena naluri ketergesaan yang didorong oleh semangat yang berapi-api. Atau bisa juga mewabah di kalangan para tetua, karena naluri fanatis yang berawal dari akal yang stagnan dan mata yang tertutup. Atas dasar inilah mengapa kita seringkali mendapati beberapa pelajar yang masih ‘ingusan’, dengan mudahnya mendiskreditkan orang-orang besar dari para ulama maupun pemikir.

Di antara ulama dan pemikir yang seenaknya didiskreditkan oleh orang di atas adalah Sayyid Jamaluddin Al-Afghany dan Syeikh Muhammad Abduh. Kita harus akui bahwa ada beberapa ‘ketimpangan’ yang membuat kita bertanya-tanya atau bahkan gigit jari, di dalam kehidupan ilmiah, sosial, dan politik mereka berdua.

Dan ketimpangan semacam ini di dalam kehidupan orang-orang besar dari para ulama maupun pemikir; merupakan hal yang yang lumrah. Sehingga --mengutip perkataan Dr. Muhammad Ramadan Al-Buty ketika membuka pembahasannya mengenai Sayyid Jamaluddin Al-Afghany-- akan jarang kita temukan sosok yang aktivitasnya melintasi sebuah negara dengan karakter pergerakannya yang bertaraf internasional; yang tidak lepas dari beberapa ‘ketimpangan’ di dalam perjalanan hidupnya.

Namun apakah ketimpangan ini akan membuat kita menutup mata terhadap hal-hal besar yang mereka persembahkan untuk agama dan umat? Apakah ketimpangan ini akan membuat kita memandang rendah mereka? Apakah ketimpangan ini akan membuat kita yang masih ‘ingusan’ dan ‘kerdil’ ini merasa sejajar dengan mereka? Apakah sikap kritis seorang ulama terhadap mereka bisa melegitimasi kita untuk merendahkan mereka?

Jika orang di atas mencoba untuk lebih teliti dan lebih sabar terhadap dirinya sendiri, ia akan mendapati Syeikh Al-Buty di dalam buku “Syakhsiyat Istauqafatni”, mengajarinya bagaimana sikap kritis, namun senantiasa menjaga adab, bagaimanapun rupa atau bentuk ketimpangan yang ia dapati, saat membaca perjalanan hidup para pemikir maupun ulama.

Namun sebagaimana karakter para pemula, yang baru membaca beberapa buku, lalu merasa sudah di atas angin; kata-kata orang di atas mengisyaratkan bahwa ia seakan lebih alim, lebih fakih, dan lebih kritis dari Sayyid Jamaluddin Al-Afghany, Syeikh Muhammad Abduh, dan Dr. Muhammad Imarah.

Bahkan jika orang di atas lebih kritis lagi dengan tidak terpaku pada satu sumber, ia tentu akan meragukan perkataan Dr. Al-Buty ketika menjelaskan bahwa Syeikh Muhammad Abduh tidak lagi berada pada ‘rel kebenaran’ setelah beliau berguru pada Al-Afghany, sembari terheran, bagaimana mungkin kita membela orang yang suratnya kepada Al-Afghany penuh dengan ‘kekufuran’.

Mengapa?

Karena semua buku-buku Syeikh Muhammad Abduh yang terkenal dan diakui validitas berikut kualitasnya, semisal Risalah Tauhid, Tafsir Juz Amma, dan Al-Islam wan Nasraniyah; ditulis setelah beliau pulang dari pengasingan. Karena Syeikh Muhammad Abduh benar-benar memulai kehidupan ilmiahnya dalam menelurkan semua karyanya dan mendidik murid-murid yang nantinya bakal menjadi para Pemimpin dan Grand Syeikh (seperti Saad Zaghlul, Syeikh al-Maraghy dan Syeikh Mustafa Abdul Raziq) dan melakukan reformasi multidimensional di Al-Azhar; setelah beliau kembali dari pengasingan.

Artinya apa? Kita seyogianya tak langsung membenarkan begitu saja, ketika Syeikh Al-Buty mengatakan demikian, meskipun kita tetap yakin bahwa ketimpangan-ketimpangan --seperti beberapa fatwa ataupun surat-surat beliau kepada Al-Afghany, sebagaimana dicontohkan Dr. Al-Buty-- akan selalu ada di dalam perjalanan hidup Syeikh Muhammad Abduh.

Apalagi jika kita tahu, kalau faktanya Syaikh Muhammad Abduh belum pernah berfatwa ataupun menulis buku, sebelum bertemu dengan al-Afghany. Jika adanya demikian, bagaimana mungkin kita bisa menjustifikasi bahwa fatwa dan tulisan Syeikh Muhammad Abduh sebelum bertemu dengan Al-Afghany seluruhnya benar, atau berada di atas rel kebenaran; sementara instrumen untuk menjustifikasi tidak ada?!

Lalu kita akan dibuat terheran dan tidak habis pikir oleh orang di atas, saat dengan santainya mengatakan, “Dr. Muhammad Imarah sudah mencoba mengadakan pembelaan terhadap Jamaluddin Al-Afghany di dalam kitabnya tentang Al-Afghany. Hanya saja, menurut saya, pembelaan itu hanya tafalsuf belaka.”

Mengapa? Karena dari pemaparannya saja, kita berani berkesimpulan kalau orang tersebut belum pernah membaca buku Dr. Imarah yang ia maksudkan. Dengan kata lain, ia mendengar tentang buku ini dari orang lain. Jikapun ia pernah membacanya, maka bisa dipastikan bahwa ketika ia membaca buku ini, akal dan pikirannya entah kemana, sehingga tidak sanggup meraba titik jangkau kenapa buku ini ditulis.

Jikapun ia pernah membacanya, tentu ia akan bisa membedakan antara tahqiq (penelitian) dan tafalsuf (berfilsafat), saat Dr. Imarah menghabiskan 29 halaman untuk melakukan tahqiq terhadap asal usul Al-Afghany dari 80 halaman yang dikhusukan untuk Bitaqah Hayah. Jikapun ia pernah membacanya, ia tidak akan begitu saja mengatakan Dr. Imarah sudah mencoba mengadakan pembelaan. Mengapa? Karena tujuan buku ini ditulis adalah untuk memaparkan ide dan gagasan reformis Al-Afghany, berikut beberapa pengalaman Al-Afghany di dalam pergerakan politiknya. []


Hay Sabie, 10 Oktober 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Cerita Kebersamaan

Cerita itu bermula dari halte tua
di alun-alun yang kini ringkih tak terurus
Ingatkah kamu perahu lusuh
yang kemudian kita naiki bersama?
Menyisir gemercik ketenangan sungai Nil saat senjakala
Mengisi untaian detik dengan kelakar-kelakar ringan
hingga akhirnya kita menyadari
bahwa yang berinteraksi bukan hanya tatapan kita,
bukan hanya napas kita,
bukan hanya raga kita.

Lihatlah!
Lihatlah jiwa kita yang kini mulai saling memahami!
Lihatlah makna-makna yang dipancarkan aura kita ini
mulai berbicara dalam diam,
mulai berbisik dalam harap,
mulai bersimpuh dalam doa!

Lihatlah ruh kita mulai berlepas
dari jasad kita yang kaku,
lalu berterbangan di langit ketulusan
lalu ikut berlarian bersama awan pengorbanan!

Lihatlah bagaimana kata-kata begitu iri dengan kita berdua
karena tak kuasa
melukiskan suasana langit yang menyelimuti kita ini!

Biarlah jiwa kita yang berbicara,
memahamkan kita bahwa kebersamaan dan keakraban ini
sama sekali tak membutuhkan kata-kata
untuk menjelaskan siapa keduanya,
sama sekali tak membutuhkan istilah
untuk membuat ia tak lekang oleh waktu.

Biarlah diam ini sebagai bukti,
bahwa ruh kita ingin terus bersama
dan selalu akrab hingga akhirnya.

Biarlah ketidakpastian ini sebagai tanda,
bahwa kita tak mau tertipu oleh kata-kata
yang seringkali membuat dua menusia berjauhan,
lalu tersekat dalam ambigunya sebuah jalinan.


Senin, 6 Oktober 2014, pukul 01.54 dini hari
Ahmad Satriawan Hariadi

Ila Walady

Arahan dan nasihat merupakan salah satu dari sekian banyak aktivitas yang memiliki ketergantungan kepada siapa arahan dan nasihat itu ditujukan. Sehingga merupakan kejanggalan dalam berpikir dan kemiskinan dalam pengalaman, jika anda memberikan arahan dan nasihat kepada orang terpelajar, sebagaimana anda mengarahkan dan menasihati bocah ingusan.

Jika anda ingin menyelami permasalahan ini lebih jauh lagi, maka tanyakanlah kepada diri kita sendiri, sudah berapa banyak arahan dan nasihat yang masuk ke telinga kita? Lalu dari sekian banyak arahan dan nasihat itu, berapa banyak yang mengena dan mengubah paradigma kita dalam menapaki hidup ini?

Kemudian kita harus menyadari bahwa setiap masa memiliki gaya hidup, cita rasa, dan paradigmanya masing-masing. Lalu atas dasar inilah kita harus tahu, bahwa arahan dan nasihat akan lebih mengena, jika selaras dan seiring dengan perkembangan zaman. Dengan begitu, arahan dan nasihat juga memiliki ketergantungan pada kapan kedua hal tersebut disampaikan.

Jika kita menilik jumlah buku arahan dan nasihat secara keseluruhan, maka sebagian besar diperuntukkan untuk usia dini hingga remaja. Jika anda pernah mengenyam pendidikan di pesantren, maka anda tidak akan asing dengan buku-buku semisal Akhlaqu lil Banin atau Akhlaq lil Banat. Atau jika anda menilik perbukuan di Mesir, maka buku-buku semisal al-Mursyid al-Amin akan banyak anda temukan.

Lalu kita akan dibuat keteteran saat diminta untuk mencari buku arahan dan nasihat yang dikhususkan untuk mahasiswa sarjana maupun pascasarjana. Iya, buku yang terkategori demikian nyaris tidak ada. Padahal, di dalam kenyataannya, mahasiswa --yang pada hakikatnya memiliki kejiwaan yang begitu labil-- juga tidak kalah butuh terhadap arahan dan nasihat, sebagaimana anak kecil membutuhkan keduanya. Iya, arahan dan nasihat yang sesuai dengan dunia, kapasitas, cita rasa, dan paradigma mahasiswa.

Lalu dalam hal ini, buku Ila Walady, menurut saya, sejauh ini merupakan satu-satunya buku arahan dan nasihat yang sangat sesuai dengan dunia, kapasitas, cita rasa, dan paradigma mahasiswa. Buku setebal 159 halaman ini merupakan kumpulan artikel pemikir sekaligus sastrawan besar Mesir, Ahmad Amin, di majalah bulanan Al-Hilal. Pada akhir tahun 1949, majalah Al-Hilal meminta Ahmad Amin untuk menulis silsilah artikel yang berjudul “Risalah Ila Waladi”, yang memuat arahan, nasihat dan pengalaman berharga Ahmad Amin kepada para mahasiswa. 

Namun yang membuat buku ini terasa begitu spesial dan begitu mengena adalah karena buku ini lebih diperuntukkan kepada mahasiswa yang jauh-jauh meninggalkan kampung halamannya, alias mahasiswa rantau. Mengapa? Karena saat Ahmad Amin menulis buku ini, walady (anakku) yang dimaksudkan di sana adalah putra Ahmad Amin yang waktu itu kebetulan sedang menimba ilmu di Inggris.

Sehingga tidak heran, pada arahan dan nasihat yang kedua, Ahmad Amin berbicara mengenai tiga tipe dan karakteristik mahasiswa yang merantau belajar ke Eropa. Selain itu, Ahmad Amin juga berbicara tentang politik ala mahasiswa. Ia sembari menjelaskan dengan santun bagaimana bentuk politik mahasiswa yang konstruktif, berikut yang destruktif. Hal-hal semacam ini, menurut saya, sangat penting bagi kita, selaku mahasiswa rantau, untuk kita kaji dan renungkan secara mendalam.

Di samping itu, saya mendapati uslub Ahmad Amin di dalam buku ini jauh berbeda dengan uslubnya di dalam buku-bukunya yang pernah saya baca; semisal Hayati, Zu’ama al-Islah fi al-Ashr al-Hadits, Fajru a-Islam, Duha al-Islam, dan sebagian dari Zuhru al-Islam. Saya melihat uslub Ahmad Amin di dalam Ila Walady ini memadukan antara uslubnya Taha Hussein dan Ahmad Hasan al-Zayyat. Meskipun begitu, ciri khas Ahmad Amin di dalam hal kejelasan maknanya, keluasan wawasannya, kedalaman pemikirannya, dan ketajaman analisisnya; tetap seperti sedia kala, sebagaimana kita dapati di dalam buku-bukunya yang lain. []


Islamic Mission City, 23 September 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Mengambil Risiko

Merupakan sebuah kemestian bahwa selalu ada risiko yang setia menanti anda di balik setiap pilihan. Jika anda ingin seperti kerikil yang berserakan di jalanan, maka anda cukup bersikap masa bodoh dengan sekeliling anda.

Lalu jika anda ingin nama anda harum dikenang sejarah, maka tidak ada teman bagi anda selain pengorbanan dan pengorbanan. Kemudian tiba saatnya anda harus menentukan pilihan; apakah mau menjadi kerikil atau tidak. Semuanya kembali kepada diri anda, bukan orang lain.

Atas dasar inilah kita jangan sampai terhenti pada poin kekaguman saja saat membaca kisah mereka yang harum dikenang sejarah. Kita juga jangan sampai lupa bahwa ada risiko besar yang mereka ambil untuk harumnya sebuah keabadian.

Kita harus tahu bahwa di balik nama besar mereka, ada tubuh yang berharikan keletihan, ada tumpukan beban pikiran yang menelapkan kenyamanan dan memasung ketenangan, ada rajutan derita dalam setiap langkah yang tertapaki, dan ada untaian cobaan dan malapetaka yang menghalangi tertuainya mimpi dan harapan.

Tidak sadarkah kita bahwa keberanian itu --sebagaimana kata al-Mutanabbi-- membuat celaka, dan kedermawanan itu membuat miskin? Apakah kita mengira bahwa Nabi Muhammad dan para sahabatnya hanya santai dan berleha-leha di rumah mereka saat menyebarkan agama Allah?

Artinya, semakin harum namanya seseorang di dalam sejarah, semakin besar pula risiko yang ia ambil. Pertanyaannya adalah seberapa besar risiko yang anda ambil untuk keabadian anda kelak?
   
Saya merasa bahwa hal yang membuat fakta sejarah, berubah menjadi khayal belaka di mata kita, adalah karena ketidakberanian kita mengambil risiko besar. Penyebabnya pun beragam; apakah karena kita terlalu mementingkan diri sendiri, atau terbuai oleh keindahan dan kenyamanan sesaat, atau mungkin karena mentalitas inferior yang mewabahi negeri ini sudah begitu mengakar di dalam diri kita. []


Hay Sabie, 12 September 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Karena Aku Mencintaimu

Biarlah kita berjarak
Berseberangan jauh
Bila perlu tak bersua
Agar kita merasa

Biarlah rasa terpasung
Tersekat kesedihan
Meratapi masa suram
Bersama sesal malam

Kedekatan saat ini
Hanya awal tangis sepi
Tawa riang bersama
Hanya awal derita

Bilamana ia datang
Meyekar kubur rindu
Menyirami gersang hati
Menemani kembali


Asrama Turki, Hay Sabie, 1 September 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Bermuka Dua


Kawan, tatapan kebencianmu
Mengisyaratkan kesengsaraan
Membias wajah kematianku
Menyegerakan senja hidupku
Kawan, buka saja penutupmu!
Agar api kedengkian itu
Tak membakar langkah-langkah esok
Tak memasungmu di balik tembok


Islamic Missions City, 30 Agustus 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Tak Ada Lagi

Kini tak ada lagi tempat untuk senyap
Tempat di mana merebahkan keluh kesah
Saat wajah polos itu menyisakan cacian
Saat apa yang terlihat hanya tipuan

Kini tak ada lagi tempat untuk tenang
Tempat jiwa berlepas dari perih itu
Saat keangkuhan menjelma keramahan  
Saat kemunafikan dalam keanggunan


22 Agustus 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Taman Kerinduan


apa yang tersisa
dari kisah lama Gibran dan Salma
bila kini aku tersekat dalam bimbang
menjamu keresahan dan kesendirian
setelah kepergianmu senja itu
terpikir kembali..
saat kulihat pantulan mentari
dari kerudung jinggamu
saat aku tak sadar
jika kau telah bermekar
memenuhi taman kerinduanku


Islamic Missions City, 30 Juli 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Dari Meninggalnya Gusti hingga GAMIS II

Jika anda melihat sebuah komunitas yang kerjaannya cuma bisa saling mengandalkan, kemudian menyalahkan satu sama lain saat terjadi sebuah bencana, maka yakinlah seyakin-yakinnya bahwa komunitas tersebut jauh dari kata dewasa dan terdidik, serta jauh dari kata peradaban dan inovasi. 

Kita harus tahu, bahwa usia dan jenjang pendidikan yang tinggi, bukan garansi sebuah kedewasaan sikap dan kematangan pikiran. Sehingga kita tidak perlu heran, mengapa sebuah komunitas masisir yang berisikan mahasiswa, perkerja, dan diplomat ini; terlihat lebih banyak omong daripada perbuatan nyatanya.

Karena komunitas ini begitu banyak omong, maka ketika mereka berembuk untuk menyelesaikan sebuah permasalahan, permusyawarahan mereka pun hanya terhenti di meja, lalu tersendat dana, kemudian hilang entah kemana. 

Karena pikiran yang sangat miskin inovasi, maka hasil permusyawarahan mereka pun serupa hasil bincang ringan anak-anak sekolahan, atau seperti mimpi seorang pengkhayal yang tak menemukan cara untuk merealisasikan mimpinya.

Karena pragmatisme yang sudah mengakar, maka yang lebih kentara ketika terjadi musibah seperti sekarang ini adalah kepentingan politis yang busuk. Oleh karena itu, mereka hanya memikirkan, bagaiamana agar foto-foto yang merekam bentuk tanggap dan keprihatinan sesaat mereka terhadap sebuah musibah; bisa dilihat oleh jutaan manusia.

Padahal, mereka baru mau tanggap dan menampakkan batang hidungnya, setelah semua urusan terselesaikan. Dengan begitu, anda tidak perlu heran, mengapa gerak-gerik mereka begitu lamban dalam segala hal. 

Pemandangan memuakkan semacam ini bukannya terjadi sekali dua kali, tapi berkali-kali. Namun anehnya komunitas kita ini seolah-olah masa bodoh dengan rajutan musibah yang menimpa kita. Sikap kita yang seperti ini, seakan-akan mengisyaratkan sebuah kepasrahan untuk menantikan bencana berikutnya. Iya, kita ini tidak pernah mau belajar dari kelalaian dan kesalahan kita sebelumnya.

Inilah yang terjadi dengan almarhumah Gusti Rahma Yeni, berikut musibah yang menimpanya. Musibah ini, sebagaimana kata salah seorang teman, merupakan klimaks dari rentetan kriminalitas yang tak pernah diusut tuntas. Iya, sebelum kejadian naas ini, kita tidak tahu sudah berapa rumah masisir yang dibobol dan dicuri, sudah berapa banyak kawan masisir yang dirampok di tengah jalan.

Oleh karena itu, penulis mengira bahwa inilah saatnya para pemangku kebijakan harus benar-benar serius memikirkan keselamatan warga Indonesia di negeri Mesir ini. Para pemangku kebijakan harus benar-benar menunjukkan langkah-langkah konkret untuk menjamin keselamatan WNI. Para pemangku kebijakan harus berhenti berleha-leha, sembari mencari-cari alasan agar selamat dari badai kritikan.

Namun apa yang terjadi setelah tragedi memilukan ini berlalu? Kita tetap seperti sediakala, tetap saling mengandalkan, tetap saling menyalahkan, tetap membuat masalah terkatung-katung tanpa langkah-langkah solutif, tetap memikirkan diri sendiri dan kelompok. Bahkan saking anehnya komunitas kita ini, di sela-sela duka yang menyelimuti masisir, masih ada terdengar sentimen kedaerahan yang menyeruak ke permukaan.

Kemudian jika kita memperhatikan hasil Gathering Masisir (GAMIS) II “Tentang Keamanan Masisir” tanggal 23 Juli lalu, kita akan menemukan hasil rapat yang rupanya bakal berujung seperti sebelum-sebelumnya. Terhenti di meja, lalu tersendat dana, kemudian hilang dimakan waktu.

Tidak hanya itu, ketika kita membaca dengan saksama poin-poin penting GAMIS II ini, kita akan menemukan hasil bincang-bincang yang sangat jauh dari kata realisasi. Jika anda tidak percaya, simaklah salah satu poin penting hasil rapat tersebut; seperti daerah Hay Asyir sudah tidak lagi aman untuk ditinggali. Kemudian kita pun bertanya: jika memang demikian, maka apa solusi anda terkait ketidakamanan wilayah Hay Asyir ini? Apakah memindahkan semua masisir beserta rumah-rumah kekeluargaan ke wilayah yang baru dan aman? Kemudian sejauh mana patroli DKKM bisa menjamin keamanan masisir? Begitu juga dengan poin-poin lainnya, yang menunjukkan bahwa kita memang sangat miskin inovasi.

Lalu berbeda halnya jika kita melihat hasil keputusan musyawarah WIHDAH dan Keputrian Nusantara, yang merupakan tindak lanjut dari GAMIS II tersebut. Dengan mencermati hasil keputusan musyawarah tersebut, kita akan melihat perbedaan yang begitu signifikan dibandingkan dengan poin-poin penting GAMIS II. Salah satu penyebabnya adalah karena hasil rapat Wihdah tersebut lebih konkret dalam pengaktualannya, dan tentu lebih praktis ketimbang hasil GAMIS II yang sebagian besar poin-poinnya masih dalam tahap perencanaan.

Tetapi hasil keputusan musyawarah WIHDAH tersebut tetap saja mengundang tanya; misalnya sejauh mana peraturan ini mengikat para mahasiswi agar mereka senantiasa menaatinya? Apakah ada tindakan tegas dari WIHDAH jika ada mahasiswi yang melanggar aturan ini? Apakah WIHDAH mempunyai petugas khusus yang mengawasi penerapan aturan ini di kalangan mahasiswi, berikut data pelakasanaannya; sehingga tidak sekedar rapi dan tegas di atas kertas, namun loyo dan amburadul dalam pengaktualannya?  

Anda boleh berkata bahwa penulis dalam hal ini bisanya cuma mengkritik dan mengkritik, tanpa memberikan solusi yang konkret. Iya, penulis akui hal ini. 

Namun apakah hal demikian itu menjadi sebuah kesalahan, jika ada seseorang yang berusaha menjelaskan penyakit umum yang mewabahi komunitasnya?! Apakah merupakan sebuah keburukan, jika ada seseorang yang mengangkat suara terkait kebobrokan yang menguasi seluruh elemen komunitasnya?! 

Apakah kemudian masuk akal, jika kita kita terus saja membohongi diri kita sendiri, dengan mengatakan bahwa komunitas kita ini adalah komunitas yang sehat, sementara fakta mengatakan sebaliknya?! []


Islamic Missions City, 29 Juli 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Memahami Esensi Idul Fitri

Tidak ada momen yang begitu jelas menunjukkan esensi Idul Fitri selain momen ketika Nabi mengatakan, “Idul Fitri merupakan hari di mana semua manusia berbuka.” Dengan diucapkannya kalimat sederhana penuh makna ini, seakan-akan sebuah konstitusi universal tentang kemanusiaan baru saja dikumandangkan. 

Mengapa demikian? Karena kata “semua manusia” menunjukkan bahwa perbedaan strata sosial tidak akan menemukan tempatnya lagi di hati manusia. Karena kata “berbuka” mengisyaratkan bahwa pada hari yang fitri ini, kenikmatan lahir dan batin bersama-sama merangkul semua manusia dalam ikhlasnya penghambaan dan indahnya kesalingan.

Kata “berbuka” juga memiliki cakupan yang menembus batas ruang dan waktu. Ya, kata tersebut bukan sekedar istilah untuk mengakhiri puasa pada petang hari dengan makan atau minum. Sama sekali tidak! Kata “berbuka” lebih dari itu. Kata “berbuka” adalah simbol keikhlasan dan kesetiakawanan. Kata “berbuka” juga merupakan lambang supremasi totalitas penghambaan dan sempurnanya kebahagiaan. 

Artinya, ketika Nabi mengatakan demikian, maka Idul Fitri bukan sekedar perkumpulan manusia di sebuah ladang luas untuk menunaikan salat, kemudian menyimak pemaparan sang khatib. Idul Fitri juga bukan sekedar salam-salaman ataupun permohonan maaf seseorang saat bejumpa sesamanya. Akan tetapi lebih dari itu. 

Idul Fitri merupakan simbol tegaknya syiar-syiar langit. Idul Fitri merupakan lambang kebahagiaan universal yang meliputi seluruh lapisan manusia. Pada hari yang fitri inilah kesetaraan benar-benar menemukan eksistensi di alam nyata. Karena seluruh elemen masyarakat, mulai dari balita hingga kakek-nenek, dari yang paling miskin hingga yang paling kaya, dari rakyat jelata hingga penguasa tertinggi; berkumpul dan bersatu padu di bawah panji langit, sembari mengagungkan nama Sang Pencipta. 

Dengan penyebutan Idul Fitri sebagai hari berbukanya semua manusia, maka pada hari itu juga tak ada lagi sikap riya, congkak, acuh tak acuh, dan kikir. Dengan penyebutan Idul Fitri sebagai hari berbukanya semua manusia, maka yang ada pada hari itu adalah sikap ikhlas, rendah hati, solidaritas, dan kedermawanan.

Jadi, momen Idul Fitri merupakan awal tertatanya kehidupan seorang mukmin, baik secara personal maupun sosial. Idul Fitri juga merupakan waktu yang paling tepat untuk memulai hidup sebagai manusia yang utuh. Ya, manusia yang memegang teguh identitas kemanusiaannya. Manusia yang tidak tunduk kepada siapapun selain Sang Pencipta. Manusia yang berakhlak dengan akhlak khalifah Allah yang sejati. 

Manusia yang selalu menyambut hari barunya dengan hati yang lebih ikhlas, pikiran yang lebih dewasa, ilmu yang semakin dalam, wawasan yang semakin luas, dan perangai yang semakin mulia. Manusia yang setiap waktu tersibukkan untuk menata dirinya sendiri, mengarahkan sesamanya, dan melestarikan lingkungannya. Bukan manusia yang sibuk menuruti hawa nafsunya, menyakiti sesamanya, dan mencemari lingkungannya.

Dengan memahami esensi Idul Fitri sebagaimana sabda Nabi di atas, tempaan fisik dan mental selama sebulan penuh di bulan Ramadan, tidak akan berlalu sia-sia begitu saja dengan usainya bulan penuh berkah tersebut. Tidak! Ramadan, menurut penulis, merupakan langkah persiapan, untuk memulai ribuan langkah sesungguhnya yang harus ditapaki seorang muslim setelah Ramadan.

Ramadan juga merupakan satu-satunya sarana untuk mengetahui titik tertinggi kapabilitas mental dan fisik seorang mukmin dalam ibadahnya. Melalui Ramadan, kita akan mengetahui sejauh mana kejujuran kita terhadap diri kita sendiri. Kita akan menyadari seberapa jauh keimanan kita mempengaruhi gerak-gerik kita sehari-hari. Kita akan menyaksikan sejauh mana ketakwaan kita melindungi kita, agar tak terjerumus ke dalam lembah dosa dan maksiat. Kita juga akan mengetahui daya tahan fisik kita saat menapaki getirnya penghidupan.

Kemudian timbul pertanyaan besar kepada diri kita. Apakah tempaan Ramadan selama sebulan penuh tersebut akan berlalu begitu saja? Sanggupkah kita menjadikan hari-hari kita setelah Ramadan layaknya hari-hari Ramadan? Akankah kita, yang sudah berpuasa sebulan penuh, tetap menjadi sosok malaikat berwujud manusia yang --sebagaima kata Grand Sheikh Mahmud Shaltut-- tidak berbohong, tidak saling mencurigai, tidak saling fitnah, tidak membuat rencana jahat terhadap orang lain, tidak menipu, dan tidak memakan harta manusia dengan batil?

Itulah segelintir pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh keikhlasan diri dan konsistensi perbuatan kita.

Dengan memahami esensi Idul Fitri yang sesungguhnya, kita mestinya mulai untuk memanusiakan orang lain. Mulai memanusiakan orang lain berarti kita mulai menerima dan menghargai segenap perbedaan; apakah itu perbedaan suku, ras, mazhab, pandangan politik, bahkan agama. Mulai memanusiakan orang lain berarti mulai menatap manusia dengan tatapan kasih sayang. Mulai memanusiakan orang lain berarti mulai mengerahkan segala kemampuan moril maupun materiil untuk meringankan beban penghidupan sesama.

Kita tentunya tahu, jika Allah berkehendak, maka seluruh umat manusia akan sama-sama kaya, akan sama-sama berkulit putih, akan sama-sama berada di bawah naungan Islam. Namun kehendak Allah berkata lain. Ya, Allah menghendaki sebagian umat manusia tetap berada di jalan yang menyimpang, agar kita sepenuhnya menyadari bahwa hidayah Allah masih bersama sebagian yang lain. Karena jika tidak ada keburukan, maka kebaikan tidak akan pernah ada wujudnya di muka bumi. Begitulah sunnatullah.

Keburukan maupun penyimpangan yang muncul dari perbuatan manusia sama sekali tidak bisa dijadikan alasan untuk membenci manusia. Yang bisa kita lakukan adalah membenci perbuatannya, bukan manusia itu sendiri. Karena bagaimana mungkin kita membenci makhluk yang telah dimuliakan oleh Allah ketika Ia berfirman, “Sungguh Kami benar-benar telah memuliakan keturunan Adam.”
 
Dengan demikian, memahami esensi Idul Fitri secara utuh, merupakan sarana yang paling tepat untuk memanifestasikan “sebaik-baik umat” ke dalam kehidupan nyata. Karena dengan memahami esensi Idul Fitri, seseorang secara tidak langsung telah menjadi rahmat bagi seluruh alam. Itu semua karena ia menyadari, bahwa Allah telah menghendaki kebaikan untuk segala eksistensi di atas permukaan bumi ini. Sehingga mau tidak mau, ia pun mulai berlaku baik terhadap semua ciptaan Allah, tanpa pandang pandang bulu. []


Ahmad Satriawan Hariadi
Islamic Mission City, 26 Juli 2014

Puisi dan Cinta (Cerpen)

Seandainya yang saya tangkap dari puisi Kakak itu benar, apa keinginan Kakak setelah saya tahu/baca?
Itulah bunyi pesannya kepadaku. Sederhana namun membuatku kalang kabut. Singkat namun membuat lidahku kelu tak berdaya. Jelas seterang matahari namun tak mampu kujawab. Tajam sehingga perasaanku tertusuk-tusuk oleh pesan itu.
Satu menit, sepuluh menit, satu jam, hingga setengah hari, aku tak kunjung kuasa menjawab pertanyaannya. Ada apa ini? Bukankah dia hanya sekedar sosok yang namanya kupinjam untuk mengisi puisiku sebagaimana gadis-gadis yang pernah kupinjam namanya? Ah! Aku juga bingung.
Dulu ada Nayla, Umayma, dan Amira. Nama-nama yang pernah kupinjam untuk mengisi puisi-puisiku. Namun hanya menjadi inspirasi, lalu berlalu begitu saja. Tak ada yang spesial. Sahabatku, Ziad, pun seringkali meledekku karena puisi-puisiku selama ini tidak pernah terdasar pada fakta.
“Di mana-mana, orang jatuh cinta itu ya sama cewek. Lah kamu, jatuh cinta sama yang khayalmu yang nggak jelas itu. Dasar aneh!” ledek Ziad seperti biasa. “Makanya suka dulu sama perempuan.”
“Suka kok,” jawabku kesal. “Kalau aku nggak suka, ya mana mungkin aku mengkhayalkan perempuan di dalam puisiku? Mikir dong!”
“Hayo, kalau kamu suka sama perempuan, siapa dia coba? Siapa namanya?”
Lidahku keluh tak kuasa menjawab. Kulihat Ziad hanya tertawa girang atas keberhasilannya membuatku keok tak berdaya. Aku kemudian mencoba menerawang cakrawala pikiranku. Meraba-raba kemungkinan perempuan yang pernah atau akan mendapatkan tempat spesial di hatiku. Nihil. Siapa ya perempuan yang kusuka?
Memang, setiap kali aku bertemu ataupun berpapasan dengan perempuan yang berwajah jelita, aku memang terperangah. Namun tak lebih dari satu detik. Setelah itu hilang entah kemana. Kurasa itu normal. Bahkan jika seseorang laki-laki tak merasa aneh alias berdesir melihat karya surga yang anggun dan berparas menawan, maka kelaki-lakiannya perlu dipertanyakan. Aku terkekeh sendiri. Aku termasuk laki-laki normal kan?!
Iya, hanya sebatas terperangah barang sesaat. Itulah kisahku bersama perempuan semenjak aku menginjakkan kakiku di Negeri Piramid ini empat tahun yang lalu. Adapun selebihnya, maka laptop dan buku. Jika tidak, maka main bola dan Masjid al-Azhar.
Karena duniaku yang begitu sempit ini, aku tak jarang menerima ledekan dari teman-temanku. Jika kata ‘jomblo’ terucap, maka perhatian mereka selalu tertuju kepadaku. Seakan-akan jomblo dan namaku umpama sepasang raga dan ruh. Tak mungkin terpisah. Jika terpisah, maka tak ada lagi eksistensi dari jomblo maupun namaku.
***
“Sebelum perkuliahan ini selesai, coba kalian buka halaman 212. Di sana ada puisi milik Mikhail Na’imah, salah satu penyair besar Arab abad dua puluh yang tinggal di Amerika Serikat. Na’imah adalah sahabat dekat Kahlil Gibran, yang mendirikan al-Rabitha al-Qalamiya di New York tahun 1921. Tugas kalian adalah memberikan pandangan kalian terhadap puisi tersebut. Apa saja pembaruan-pembaruan yang dilakukan Na’imah di dalam puisinya. Apakah itu terkait uslubnya, khayalnya, maupun inovasi maknanya. Minggu depan, kalian mengumpulkan tugas kalian dalam bentuk tulisan, yang tak kurang dari lima halaman.”
Plak! Dosenku menutup bukunya, lalu beranjak keluar.
Aku hanya bisa duduk termangu mendengar apa yang baru saja kudengar. Kulihat diktat kuliahku, lalu kubuka halaman 212. Kubaca puisi yang berjudul al-Nahru al-Mutajammid (Sungai yang Beku) tersebut dengan pelan dan penuh penghayatan. Puisi yang indah dan dalam. Kubaca sekali, dua kali, lima kali, hingga puluhan kali. Aku tak bosan membacanya. Bahkan kini aku sudah menghafalnya di luar kepala.
Karena begitu terobsesi dengan puisi tersebut, setelah pulang dari kampus, aku langsung saja menyelesaikan tugasku hari itu juga. Done! Akan tetapi kini aku merasakan keganjilan. Iya, jika Na’imah bisa menulis puisi seindah itu, kenapa aku tidak. Iya, aku harus menulis puisi seperti Na’imah. Namun dengan tema yang berbeda. Iya, jika Na’imah berhasil membahasakan kesedihan --karena sungai yang dulu tempatnya bercerita dan bercanda ria kini  menjadi sumber kesedihan--, maka aku akan mencoba mengungkapkan cinta yang kusembunyikan diam-diam selama ini kepada seorang gadis.
Tetapi siapa gerangan gadis yang bakal kuungkapkan cintaku kepadanya itu? Siapa? Aku bingung karena tak tahu harus menjawab apa. Selama ini belum ada gadis yang bisa kuelu-elukan sosoknya, kusebut-sebut namanya dalam diam, yang mengisi relung-relung hatiku. Tidak ada.
Tidak! Meskipun gadis itu belum ada wujudnya di dalam dunia nyata, aku harus tetap menulis puisi seperti Na’imah. Toh bukannya dulu aku pernah meminjam nama-nama asing yang mengisi puisiku. Lalu apa susahnya aku mencari nama yang indah sebagai sosok gadis yang menjadi tokoh utama di dalam puisiku. Aku tertawa cekikikan. Gampang!
Suara tilawah menjelang fajar sudah menggema di antero Kairo. Namun, hingga detik ini aku belum bisa menggoreskan satu bait pun. Tak terhitung sudah berapa lembar kertas yang berisi coretan-coretan hampa. Kepalaku mumet. Ingin rasanya berteriak sekeras-kerasnya agar kabut-kabut kelam yang menghalangi sinar inspirasi ini bisa beranjak dari tempatnya.
Selepas subuh, aku kembali berkutat dengan obsesiku ini. Kubuka-buka kumpulan puisi milik para penyair Arab klasik --seperti al-Mutanabbi, Ibnu al-Rumy, al-Ma’arry, dan lain-lain-- dengan harapan agar bisa memberikanku inspirasi. Namun tetap saja. Tanganku tetap dengan kekakuannya. Pikiranku tetap dengan kekosongannya. Khayalku tetap dengan kesempitannya. Dengan untaian letih yang menggerogoti sekujur tubuhku, akhirnya aku merebahkan badanku. Aku terkapar lemas lalu terlelap.
***
Tiga hari sudah pikiranku tersibukkan oleh puisi yang hendak kutulis ini. Celakanya, aku belum menemukan inspirasinya. Aku harus memulai puisinya bagaimana? Lalu memakai bahr apa? Kemudian harus menggunakan qafiyah apa? Isi puisinya seperti apa? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa kujawab. Akan tetapi ada hal yang  membuat semua pertanyaan di atas tak terjawabkan olehku adalah pertanyaan kepada siapa kuperuntukkan puisiku ini? Benar! Untuk siapa puisi ini?
Terpikirkan olehku jika puisi-puisi sebelumnya cukup menggunakan khayal karena hanya berkutat pada lukisan deskriptif sang perempuan. Terpikirkan olehku jika puisiku kali ini adalah pengungkapan cinta yang telah lama tersembunyi dan tak cukup menggunakan khayal saja. Aku harus menjadi orang yang benar-benar jatuh cinta. Benar-benar merasakan kerinduan yang mendalam saat berjauhan. Benar-benar merasakan perih yang membuncah karena tak kunjung kuasa mengungkapkan perasaan cinta yang sudah lama kupendam.
Aku pun akhirnya menyimpulkan bahwa puisi ini akan mendapatkan ruhnya, jika aku benar-benar jatuh cinta. Aku juga menyimpulkan bahwa ini hanya akan bisa terjadi, jika gadis yang kucintai diam-diam itu benar-benar eksis di alam nyata. Gadis yang membuatku terperangah saat menatap matanya. Gadis yang membuatku gigit jari karena sifat pemalunya. Gadis yang membuatku merasa paling spesial karena keramahannya.
Siapakah gadis itu wahai langit-langit kamarku? Siapakah kiranya dia wahai rak-rak buku yang mengelilingiku? Amboi! Kenapa kalian tak juga memberikanku jawaban?!
***
“Mau kemana, Bro?”
“Eh Ziad,” aku menoleh ke arahnya. “Ke PMIK (Perpustakaan Mahasiswa Indonesia kairo). Ada tugas akhir tahun yang harus aku selesaikan sebelum ujian termin dua ini.”
“Oh.. Ya sudah, kalau begitu hati-hati di jalan ya.”
Setelah tiba di PMIK, aku langsung menuju rak-rak tempat buku bahasa Arab berjejer rapi. Ketika aku sedang asyiknya mencari-cari buku rujukanku, secara tak sengaja mataku beradu pandang dengan mata seorang perempuan. Hanya sesaat. Secara refleks aku dengan sesegera mungkin mengalihkan pandanganku. Buku-buku yang tersusun rapi di depanku ini rupanya hanya menyisakan mata dan keningnya. Tak lebih. Aku pun kembali pada tujuanku, yaitu mencari buku yang kuinginkan. Aku tersenyum kecut. Apa peduliku dengan dia?
“Eh, ada Kak Muzanni,” tiba-tiba aku mendengar suara perempuan yang tidak asing bagiku. “Lagi nyari buku apa, Kak?”
“Aya?” aku menoleh ke arah kiri dengan sedikit gelagapan. “Lagi nyari bukunya Bintu al-Syathi nih. Tapi ngga ketemu-ketemu dari tadi.”
“Loh kok sama sih, Kak? Aku juga lagi nyari buku beliau yang berjudul al-I’jaz al-Bayani. Aku ada tugas dari kajian untuk meresensi buku itu. Kakak nyari buku yang sama juga?”
“Nggak, Ay. Saya lagi nyari Tafsir al-Bayani beliau yang jilid dua.”
“Buat apa, Kak?”
“Saya lagi bikin Bahts akhir tahun. Doanya ya, biar saya lulus S1 tahun ini.”
Aya mengangguk pelan. Lalu kembali sunyi. Aku tersibukkan oleh pencarianku. Begitu juga Aya. Karena buku yang kucari-cari tak kunjung ketemu, aku langsung pulang ke asrama dengan kekecewaanku.
Sambil tidur-tiduran, aku kembali mencari-cari cara agar aku bisa menyelesaikan puisiku tersebut. Dengan menghadirkan kembali rajutan peristiwa yang telah kualami hari ini, dari lubuk hati yang paling dalam, aku merasa bahwa puisiku ini bakal segera rampung. Iya, sosok itu adalah Aya.
Setahuku, sejak mengenal Aya lewat tulisan-tulisannya yang dimuat di Buletin IQRA’ milik kajian al-I’jaz, Aya adalah mahasiswi yang sangat open minded dan berwawasan luas. Bahkan setelah secara tidak sengaja aku berkenalan dengannya di sebuah acara seminar, Aya adalah sosok yang ramah dan enak diajak bicara. Tidak jarang aku mendengar celetukan-celetukan tentang dia.
“Jika ada perempuan yang paling idealis dan tegas layaknya prajurit khusus, maka itu adalah Aya,” kata salah seorang temanku.
“Tulisan-tulisan Aya di blognya itu simpel dan apa adanya. Saya suka tulisan seperti itu,” ujar temanku yang lain.
“Meskipun Aya tidak terkategorikan mahasiswi yang terkenal dengan dengan kecantikannya, namun ia justru selalu menjadi bahan pembicaraan kaum mahasiswa, khususnya mereka yang lebih senior dari dia,” celetuk Ziad.
Begitulah, Aya yang mungil itu ternyata menjadi primadona mahasiswa tingkat akhir di antero Kairo. Aku? Tidak! Sampai detik ini aku cenderung dingin dan biasa saja terhadap Aya. Aku tersibukkan oleh duniaku, yaitu dunia sastra, meskipun aku tak jarang mengikuti perkembangan pemikiran Islam modern. Dia? Sama sepertiku, tersibukkan oleh dunianya sendiri, yaitu dunia kajian dan organisasi. Aku tidak terlalu banyak tahu detailnya. Jika kami chatting, maka sekenanya saja. Dia yang terkadang lama membalas obrolanku, kuanggap biasa saja.
Pada titik ini, setelah aku menghadirkan semua hal yang berkaitan dengan mahasiswi tafsir tersebut. Aku semakin mantap untuk memilih dia sebagai sosok yang kucintai sedalamnya di dalam puisiku ini. Iya, aku kini mantap memilih Aya. Iya, kini Aya mulai menuliskan kisahnya di lembaran hidupku. Iya, Aya kini mulai menjadi trending topic di pikiranku. Jika untuk menjaga perasaan cinta ini tetap mekar, aku harus menyebut-nyebut namanya; akan kusebut namanya dalam diam, saat temaram, di tengah keributan, di mana dan kapan saja. Semua ini tak lain karena aku ingin all out dalam menuliskan puisiku ini.
Benar! Aku benar-benar tenggelam ke dalam dunianya Aya. Lalu lihatlah! Satu bait, dua bait, tiga bait, sepuluh bait, dua puluh bait. Done! Puisi ini telah selesai kugarap dalam kurun waktu dua hari. Girangnya bukan main. Aku sangat senang. Aku tak tahu tiba-tiba air mataku menetes bahagia. Allah!
***
Untuk menghindari kejadian yang tidak diharapkan, aku berpikir jika aku harus memberi tahu Aya terkait puisi, yang setiap baitnya mengelu-elukan namanya penuh takzim. Itu semua agar tidak terjadi kesalahpahaman suatu saat nanti antara aku dan dia. Tak ayal, aku segera bergegas menemuinya di PMIK. Mengapa di PMIK? Karena dia adalah pengunjung rutin perpustakaan sederhana tersebut. Benar saja, saat aku tiba di PMIK, dia sedang asyik membaca sambil berdiri di depan rak buku.
“Ay, boleh bicara sebentar?”
“Eh Kak Muzan. Ahlan,” jawab Aya dengan sedikit terperangah.
“Sebelumnya saya minta maaf karena ngeganggu Aya membaca.”
“Nyante aja kali, Kak,” ujarnya sambil tersenyum. “Mau ngomong apa? Kayaknya penting banget.”
“Begini, saya kan kemarin nulis puisi bahasa Arab dan saya memakai nama Aya di dalamnya. Tujuan saya hanyalah ingin memberi tahu Aya sekaligus meminta izin. Boleh nggak?” aku menyodorkan selembar kertas.
Setelah beberapa saat membaca puisiku, Aya kemudian menghela napas panjang, seakan-akan ia ingin mengatakan sesuatu.
“Di dalam puisi itu ada yang namanya Tajribah Syu’uriyyah, yang mana seorang penyair berlagak seperti orang yang jatuh cinta, padahal ia sendiri tidak jatuh cinta, seperti puisi saya ini,” aku terlebih dahulu bicara untuk mencairkan suasana. “Tenang saja, Ay! Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya meminjam nama Aya saja. Nggak lebih.”
“Bukan itu maksud saya, Kak.”
“Lalu?”
“Saya tidak mempermasalahkan apakah Kakak mau pakai nama saya atau siapapun,” ujar Aya penuh kehati-hatian. “Saya cuma nggak enak aja sama teman-teman terdekat saya, saat melihat nama saya menjadi judul puisi Kakak. Saran saya sih judulnya diganti aja pakai yang lain.”
“I..ya, gampang. Inysaallah nanti saya ganti,” aku terkekeh.
Keadaan kemudian menjadi senyap. Aya kembali membaca. Aku kembali ke asramaku. Pikiranku kini agak tenang. Aya tidak marah sedikitpun. Ia hanya memintaku untuk mengganti judulnya saja. Kejadian ini memang sudah kuprediksikan sebelumnya. Aya bukan sosok yang berpikiran sempit. Aku hanya memastikannya saja.
***
Ujian termin dua tinggal dua hari lagi. Namun bayangan Aya masih saja menghantuiku. Padahal sudah hampir sebulan aku merampungkan puisi tersebut. Bahkan semakin hari, semakin menjadi-jadi. Aku sendiri heran dengan diriku yang tak kunjung kuasa berlepas dari bayangan Aya. Tiap kali aku memandang jauh ke depan, pada saat itu juga kulihat Aya berdiri di kejauhan sana, seakan-akan ia sedang menungguku. Akibatnya, saat aku berjalan, aku lebih banyak merunduk ketimbang melihat ke depan atau menoleh kesana kemari.
Awalnya aku merasa bahwa kejadian semacam ini terkategori normal. Namun akhir-akhir ini aku merasa ada yang tidak beres dengan diriku. Oh No! Wahai diriku, jangan bilang kalau aku benar-benar jatuh cinta pada Aya! Jangan bilang aku kini telah memendam perasaan diam-diam terhadapnya! Jangan bilang kalau sudah mulai tersenyum sendiri saat mengingat dia! Jangan bilang kalau bayangan raut wajah Aya yang kecewa, selalu hadir, jika aku bermalas-malasan!
Musim ujian kali ini pun jauh berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya. Jika sebelumnya aku menjalani ujian dengan santai tanpa beban, maka kali ini aku menjalaninya dengan rasa takut yang mendalam. Aku merasa selalu diawasi oleh bayangan Aya, yang mau tidak mau membuatku lebih serius dan lebih fokus. Jauh di lubuk hatiku yang terdalam, ada semacam ketakutan. Iya, aku takut jika hasil ujianku nanti mengecewakan Aya. Aku takut jika nilai ujianku berada di bawah dia.
Ketika ujianku usai, berkelebat di pikiranku keinginan untuk mengetahui bagaimana kabar Aya, bagaimana ujiannya, apakah ujiannya sudah usai sepertiku, terus apa saja rencananya pas liburan musim panas ini. Dari sekian banyak pertanyaan di atas, ada satu pertanyaan yang ingin sekali kutanyakan kepadanya. Iya, aku ingin tahu pendapatnya mengenai puisi yang kutuliskan untuknya itu.
Dengan sisa nyali yang masih ada pada diriku, aku mencoba memberanikan diri untuk mengirimi Aya pesan lewat jejaring sosial, menanyakan semua yang berkelebat di pikiranku. Hingga akhirnya aku menanyakan pendapat dia mengenai puisi yang kutulis untuk dia. Tahukah kamu apa jawaban Aya? Dia belum membaca puisinya. Saat kusodorkan kertas itu, dia hanya melihat namanya saja yang waktu itu menjadi judul puisi itu. Tak lebih. Kecewa? Iya, aku kecewa.
Aku berpikir bahwa Aya harus tahu, bagaimana susahnya menulis puisi yang menyebut-nyebut namanya tersebut. Aya harus tahu semua kejadian yang menimpaku saat menulis puisi tersebut. Tak ayal, aku menulis pesan yang lumayan panjang kepadanya, menceritakan bagaimana aku menyebut-nyebut namanya. Begitu juga dengan bayangannya yang terus menghantuiku setelah puisi itu kurampungkan.
Tahukah kamu bagaimana respons Aya? Iya, dia tidak membalas pesanku. Kurasa dia tersinggung karena aku yang mungkin terlalu blak-blakan saat menceritakan pengalamanku tersebut. Sedangkan aku? Tentu saja aku mengkhawatirkan keadaan gadis itu. Kamu tentunya tahu bagaimana perasaan orang yang tersekat kerinduan, saat orang yang didambakannya diam seribu bahasa. Oh Aya, kenapa kamu diam?!
Sejak saat itu, aku semakin memikirkan gadis mungil itu. Begitu juga dengan bayangannya yang semakin menghantuiku. Kini aku benar-benar dirundung kegelisahan dan kebimbangan. Jauh di dalam hatiku, aku merasa bahwa aku terlalu berlebihan dengan obsesiku ini. Aku menyalahkan diriku, kenapa aku harus mengikutsertakan gadis tak berdosa itu ke dalam duniaku yang penuh dengan obsesi gila ini.
Namun tak selamanya Aya diam. Enam hari kemudian, aku mendapat pesan dari Aya.
“Wah, sepertinya belum ada sesuatu dari saya yang pantas menjadi inspirasi orang lain. Ala kulli hal, jazakallah khaira. Niat Kakak baik sekali.
Tapi maaf, saya agak kurang berkenan dengan penyampaian Kakak, karena itu membuat saya tidak nyaman. Padahal Kakak adalah seseorang yang sangat saya kagumi dan ingin saya hormati sebagai senior.
Afwan jika ada kata yang kurang berkenan.
O ya, saya bisa baca puisinya di mana ya, Kak?”
Dugaanku benar. Aya memang tersinggung. Bahkan sangat geram. Kata-kata setelah ‘padahal’ itu menunjukkan bahwa aku tak bernilai apa-apa lagi di mata gadis itu, sekaligus mencerminkan betapa dewasa dan tegasnya dia. Malu? Iya, aku sangat malu padanya. Kini aku merasa di titik nadir hidupku. Tahukah kamu bagaimana perihnya hati, saat orang yang kamu cintai dan dambakan, memandangmu sebelah mata?
Di tengah-tengah kesedihanku, aku berpikir bahwa Aya harus membaca puisi itu, agar ia tahu bahwa aku tidak main-main. Aya harus tahu bahwa semua yang tertera didalam puisi itu adalah kalimat jiwaku. Tak ada yang dibuat-buat.
“Aya mungkin nggak percaya dengan apa yang saya sampaikan di pesan saya sebelumnya. Tapi setelah anda baca puisi itu, you're gonna know the truth.
Ala kulli hal, saya memohon maaf yang sedalamnya atas pernyataan saya yang sebelumnya. Puisinya udah ada di blog. Saya baru posting dua hari yang lalu.”
Aya tak langsung membalas. Dan memang begitulah dia. Bedanya, kini aku selalu menantikan balasan dari dia. Aku selalu berharap ia menggerakkan jemarinya, meski hanya satu kata saja. Tapi nihil! Aya tak langsung membalas. Padahal ia sudah melihat pesannya sejak kukirimkan. Mungkinkah dia sedang membaca puisi itu? Ah, aku sama sekali tidak tahu.
Sehari kemudian, ia mengirimkan balasan.
“Saya sudah baca puisi itu di blog Kakak. Ternyata di luar dugaan saya. Dan ana mau langsung aja. Seandainya yang saya tangkap dari puisi Kakak itu benar, apa keinginan Kakak setelah saya tahu/baca?”
Jleb! Lagi-lagi aku dibuat tak berdaya oleh gadis ini. Meskipun begitu, aku sendiri sudah mempunyai jawaban dari pertanyaan Aya di atas. Iya, aku ingin Aya menjadi ibu dari anak-anakku. Itulah perkataan hati kecilku. Namun kini aku bingung, apakah aku menjawab seperti itu? Tentu tidak. Mana berani aku berkata demikian. Mengungkapkan perasaan secara langsung kepada perempuan adalah hal yang paling tabu di dalam hidupku. Lagian hal tersebut tentu mengganggu konsentrasi belajarnya. Namun yang lebih penting dari semua itu adalah siapa tahu Aya sudah punya calon suami alias sudah bertunangan. Aku bimbang.
***
Dua minggu sudah berlalu, namun aku belum memberikan Aya jawaban. Aku benar-benar bimbang. Hari-hariku penuh dengan keraguan dan kekhawatiran. Ragu-ragu untuk menjawab, dan khawatir, apa yang bakal terjadi setelah aku menjawab pertanyaan Aya dengan jujur. Apakah Aya bakal membenciku, kemudian tak mau lagi mengenalku? Apakah perasaanku bakal ditolak mentah-mentah oleh dia? Jika pun diterima, lalu aku harus bagaimana? Apakah aku harus melamarnya?
Aku memang sudah memikirkan bahwa tak lama lagi aku bakal menikah. Itu semua karena aku ingin sekali mempunyai seorang titisan. Ada kerinduan yang begitu mendalam akan sosok keturunanku tersebut. Sayangnya, aku hanya memikirkan titisanku, namun lupa memikirkan siapa ibu yang bakal melahirkannya. Akibatnya, aku belum berpikir terlalu jauh untuk itu. Dalam pikiranku hanyalah keinginan untuk benar-benar menjadi manusia, dengan keberadaan titisanku di pangkuanku. Merasakan indahnya hidup dari keringat sendiri, tanpa bergantung kepada siapapun selain kasih sayang langit. Menyadari sekaligus merasakan betapa kerasnya penghidupan ini.
Iya, aku selalu memimpikan kehadiran titisanku. Mengkhayalkan suasana ketika kudapati fokusku hanya pada bagaimana agar ia tak seperti bapaknya yang hidupnya selalu bimbang dan setengah-setengah. Bagaimana agar ia tak bodoh dan sok pintar seperti bapaknya. Bagaimana agar ia tak menjadi pembangkang dan pengkritik seperti bapaknya.
Itulah salah satu pendorong mengapa aku harus menjawab pertanyaan Aya dengan jujur. Jujur bahwa aku ingin ia menjadi ibu dari anak-anakku. Jujur bahwa aku siap memenuhi semua persyaratan yang ia ajukan agar aku layak menjadi suaminya. Jujur bahwa aku akan memberikan segala yang kupunya untuk membuat ia bahagia dan bangga. Jujur bahwa aku ingin ia menjadi sosok ibu yang membuat mataku tertuju kepadanya, mengisi relung hatiku, membuat waktuku tertahan beberapa saat ketika menatap matanya.
Namun di sana ada hal yang menghalangiku untuk jujur. Iya, aku merasa bahwa aku hanya orang asing yang tidak tahu diri, karena mencoba memintanya menjadi pendampingku. Aku merasa bahwa aku sama sekali tak bernilai apa-apa di matanya. Aku merasa bahwa aku tidak mempunyai tempat di hatinya. Apalagi jika menyadari bahwa bahwa Aya selama ini tak pernah langsung membalas pesan-pesan yang kukirimkan kepadanya. Begitu juga dia yang begitu dingin saat aku bersua dengannya dalam berbagai kesempatan.
Setelah berpikir panjang, akhirnya aku memutuskan untuk diam hingga akhirnya. Aku berkeyakinan, bahwa cintaku kepada Aya adalah murni dari hatiku yang terdalam. Aku berkeyakinan bahwa cinta yang sejati, tidak butuh diungkapkan dengan kata-kata. Aku berkeyakinan bahwa cinta sejati adalah cinta yang diungkapkan dengan perbuatan nyata dan pengorbanan tulus.
Aku hanya ingin memperlihatkan kepada Aya, bahwa nama dan jiwanya selalu ada dalam setiap tulisan yang kugoreskan, dan keringat yang bercucuran saat menapaki kerasnya penghidupan. Karena dikatakan secara langsung atau tidak, bagiku itu tetap cinta. Aya, maafkan aku! Aku tak bisa memberi tahu kalau aku mencintaimu sedalamnya.

Islamic Missions City, 1 Juli 2014
Ahmad Satriawan Hariadi
  

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India