Jalinan Kedunguan

Katakan padaku!
Katakan juga pada mereka!
Apakah jalinan ini hanya menyisakan kedunguan?
Iya, kedunguan atas nama pengorbanan
Kedunguan berjubah kesetian
Kedunguan dalam kemunafikan

Setelah senja itu
Aku tak lagi melihat jarak
Aku tak lagi mendapati kejujuran
Aku tak lagi merasakan ketulusan
Aku tak lagi mengecap kerinduan

Dan kini!
Saat kita larut dalam keambiguan
Saat kita pupus bersama khayal kosong
Kita semakin jauh dari kewarasan
Kita semakin tertipu

Ah, mengapa kita tak cukupkan saja?
Agar tak ada lagi semua itu
Aga tak ada lagi kau dan aku


Musim dingin yang penuh dengan kedunguan
Islamic Missions City, 5 Desember 2014

Ahmad Satriawan Hariadi  

[Masih] Tentang Perempuan

Ketika seseorang memiliki kedalaman pemikiran dan segudang pengalaman, ia pada akhirnya akan sadar bahwa ia tidak ada apa-apanya di hadapan perempuan. Perempuan memang lemah. Namun sadarkah anda bahwa itulah satu-satunya senjata perempuan yang paling ampuh untuk membuat laki-laki bersimpuh padu di hadapannya, tunduk patuh terhadap perintahnya.

Kemudian akan lain ceritanya ketika kelemahan itu tercabut dari jati diri perempuan. Iya, konstelasi kehidupan laki-laki dan perempuan tak lagi seperti sediakala. Kesalingan yang dulu ada antara keduanya kini berubah menjadi persaingan. Perhatian dan belas kasih berubah menjadi ketidakpedulian dan kebencian. Perempuan tak bisa lagi bermanja-manjaan atau tersedu-sedu agar mendapat perhatian dari kaum laki-laki. Semuanya berubah. 

Inilah senjata aneh yang pernah dimiliki makhluk Tuhan di atas muka bumi ini. Namun lucunya kebanyakan --bahkan semua-- perempuan tidak suka dikatai sebagai ‘makhluk lemah’. Kaum perempuan akan sangat girang jika mereka disebut makhluk kuat. Padahal, jika mereka benar-benar kuat dalam arti yang sebenarnya, sudah tentu tak ada lagi mata-laki-laki yang tertuju padanya.

***

Jika kita ingin memberikan perumpamaan, maka perumpamaan yang paling tepat untuk perempuan adalah seperti gunung. Iya, gunung akan indah menawan jika anda menatapnya dari kejauhan. Namun ketika anda mencoba mendekatinya, maka keindahan tersebut akan lenyap sedikit-demi sedikit, untuk digantikan oleh ribuan pertanyaan yang menjadi misteri. Bahkan ketika anda sudah berada di lembah gunung tersebut, bisa dipastikan kalau anda sudah tak mampu lagi dunia sebagaimana sebelumnya.

Dari pemaparan di atas, saya tidak peduli apakah anda bisa menangkap apa yang saya maksud atau tidak. Yang jelas, saya hanya ingin menegaskan bahwa, jika seorang laki-laki ingin agar perempuan itu tetap cantik di matanya, hendaklah ia menjaga jarak darinya. Janganlah sekali-kali anda mencoba mendekatinya, sebab mendekatinya adalah sebuah kecerobohan terbesar di dalam hidup.

Anda tentu bisa membayangkan bagaimana rasanya tersesat di dalam hutan lebat yang sinar matahari pun tak mampu menerobos masuk ke dalamnya. Jika pun ia bisa keluar dari hutan tersebut, maka sudah tentu butuh tenaga dan masa yang tidak sedikit untuk itu. Lalu akan besar kemungkinannya jika anda bakal tetap terpasung di dalam hutan tersebut untuk selama-lamanya.


Hay Sabi, 17 Oktober 2014

Ahmad Satriawan Hariadi

Sekilas Muhammad Farid Wajdi

Si tamu begitu terheran-heran melihat tuan rumah selalu berdiri --sebagaimana ia menyambut tamunya-- setiap kali pembantunya masuk ke ruang kerjanya.
“Kenapa anda harus repot-repot berdiri untuk pembantu anda?” tanya si tamu.
Tahukah anda apa jawaban si tuan rumah? Iya, ia tak menjawab pertanyaan si tamu, tapi malah balik bertanya, “Lalu apa bedanya pembantu saya dengan para tamu saya yang lain?!”
Akhirnya si tamu berkata kepada dirinya, “Aku seperti melihat Nabi pada akhlak orang ini.”
Dari kisah di atas, saya mencoba merenungi mengapa si tamu mengatakan bahwa ia seperti melihat Nabi pada akhlak si tuan rumah. Beberapa saat kemudian, saya baru menyadari bahwa seseorang, sebelum ia menjadi diri dia saat ini --apakah itu dokter, guru, filsuf, pilot, entrepreneur, presiden, rakyat jelata, pembantu rumah tangga--; sebelum ia menjadi itu semua adalah seorang manusia.
Iya, manusia yang telah dimuliakan oleh Allah jauh sebelum ia dilahirkan. Manusia yang harus dihormati dan dihargai, tanpa peduli jabatan dan strata sosialnya, tanpa peduli keyakinan dan kepercayaannya.
Saya pun teringat bahwa Nabi pernah berdiri memberikan penghormatan kepada jenazah yang lewat di depannya. Manakala beliau diberi tahu kalau jenazah yang barusan lewat di depannya adalah seorang Yahudi, Nabi lantas berkata, “Bukankah dia adalah seorang manusia?!”
Tahukah anda siapa si tuan rumah tersebut? Iya, dialah Muhammad Farid Wajdi (1878-1954), sosok langka seorang muslim yang pernah dilahirkan di era modern ini. Sosok unik yang jarang sekali kita temukan tandingannya. Sosok yang menyelamatkan muka kaum muslimin di hadapan para orientalis saat ia menyaingi mereka dengan mengarang sepuluh jilid “Ensiklopedi Islam Abad 20” seorang diri selama sepuluh tahun.
Ensiklopedi yang seharusnya dikerjakan oleh puluhan ulama dan pemikir menurut kapasitas dan keahlian mereka, sebagaimana Ensiklopedi Islam yang ditulis para orientalis dalam kurun waktu puluhan tahun; namun oleh Farid Wajdi dikerjakan seorang diri hanya dalam tempo sepuluh tahun saja.

Lihatlah betapa dalam dan betapa luasnya pengetahuan tokoh ini! Apalagi jika kita menyadari kalau Farid Wajdi hanyalah lulusan SMP.

Cairo, 3 November 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Gegabah dalam Kehidupan Ilmiah (!)

Tidak ada yang lebih disayangkan dari kehidupan ilmiah seseorang, selain ketika ia terjebak di dalam kungkungan, yang menyebabkan ia tidak kuasa untuk menilik pendapat-pendapat yang lain, lalu melakukan komparasi antara pendapat-pendapat yang berseberangan, hingga akhirnya keluar dengan kesimpulan yang adil dan objektif.

Namun apa daya, orang-orang semacam ini hanya melihat satu pendapat (atau jika ia lebih terbuka sedikit, maka hanya terfokus pada satu pendapat di antara pendapat-pendapat yang ada di depannya); sehingga tanpa berpikir panjang, ia dengan begitu tergesanya menjustifikasi, lalu mendiskreditkan, bahkan jika perlu mengkafirkan.

Penyakit semacam ini biasanya mewabah dikalangan para pemula, karena naluri ketergesaan yang didorong oleh semangat yang berapi-api. Atau bisa juga mewabah di kalangan para tetua, karena naluri fanatis yang berawal dari akal yang stagnan dan mata yang tertutup. Atas dasar inilah mengapa kita seringkali mendapati beberapa pelajar yang masih ‘ingusan’, dengan mudahnya mendiskreditkan orang-orang besar dari para ulama maupun pemikir.

Di antara ulama dan pemikir yang seenaknya didiskreditkan oleh orang di atas adalah Sayyid Jamaluddin Al-Afghany dan Syeikh Muhammad Abduh. Kita harus akui bahwa ada beberapa ‘ketimpangan’ yang membuat kita bertanya-tanya atau bahkan gigit jari, di dalam kehidupan ilmiah, sosial, dan politik mereka berdua.

Dan ketimpangan semacam ini di dalam kehidupan orang-orang besar dari para ulama maupun pemikir; merupakan hal yang yang lumrah. Sehingga --mengutip perkataan Dr. Muhammad Ramadan Al-Buty ketika membuka pembahasannya mengenai Sayyid Jamaluddin Al-Afghany-- akan jarang kita temukan sosok yang aktivitasnya melintasi sebuah negara dengan karakter pergerakannya yang bertaraf internasional; yang tidak lepas dari beberapa ‘ketimpangan’ di dalam perjalanan hidupnya.

Namun apakah ketimpangan ini akan membuat kita menutup mata terhadap hal-hal besar yang mereka persembahkan untuk agama dan umat? Apakah ketimpangan ini akan membuat kita memandang rendah mereka? Apakah ketimpangan ini akan membuat kita yang masih ‘ingusan’ dan ‘kerdil’ ini merasa sejajar dengan mereka? Apakah sikap kritis seorang ulama terhadap mereka bisa melegitimasi kita untuk merendahkan mereka?

Jika orang di atas mencoba untuk lebih teliti dan lebih sabar terhadap dirinya sendiri, ia akan mendapati Syeikh Al-Buty di dalam buku “Syakhsiyat Istauqafatni”, mengajarinya bagaimana sikap kritis, namun senantiasa menjaga adab, bagaimanapun rupa atau bentuk ketimpangan yang ia dapati, saat membaca perjalanan hidup para pemikir maupun ulama.

Namun sebagaimana karakter para pemula, yang baru membaca beberapa buku, lalu merasa sudah di atas angin; kata-kata orang di atas mengisyaratkan bahwa ia seakan lebih alim, lebih fakih, dan lebih kritis dari Sayyid Jamaluddin Al-Afghany, Syeikh Muhammad Abduh, dan Dr. Muhammad Imarah.

Bahkan jika orang di atas lebih kritis lagi dengan tidak terpaku pada satu sumber, ia tentu akan meragukan perkataan Dr. Al-Buty ketika menjelaskan bahwa Syeikh Muhammad Abduh tidak lagi berada pada ‘rel kebenaran’ setelah beliau berguru pada Al-Afghany, sembari terheran, bagaimana mungkin kita membela orang yang suratnya kepada Al-Afghany penuh dengan ‘kekufuran’.

Mengapa?

Karena semua buku-buku Syeikh Muhammad Abduh yang terkenal dan diakui validitas berikut kualitasnya, semisal Risalah Tauhid, Tafsir Juz Amma, dan Al-Islam wan Nasraniyah; ditulis setelah beliau pulang dari pengasingan. Karena Syeikh Muhammad Abduh benar-benar memulai kehidupan ilmiahnya dalam menelurkan semua karyanya dan mendidik murid-murid yang nantinya bakal menjadi para Pemimpin dan Grand Syeikh (seperti Saad Zaghlul, Syeikh al-Maraghy dan Syeikh Mustafa Abdul Raziq) dan melakukan reformasi multidimensional di Al-Azhar; setelah beliau kembali dari pengasingan.

Artinya apa? Kita seyogianya tak langsung membenarkan begitu saja, ketika Syeikh Al-Buty mengatakan demikian, meskipun kita tetap yakin bahwa ketimpangan-ketimpangan --seperti beberapa fatwa ataupun surat-surat beliau kepada Al-Afghany, sebagaimana dicontohkan Dr. Al-Buty-- akan selalu ada di dalam perjalanan hidup Syeikh Muhammad Abduh.

Apalagi jika kita tahu, kalau faktanya Syaikh Muhammad Abduh belum pernah berfatwa ataupun menulis buku, sebelum bertemu dengan al-Afghany. Jika adanya demikian, bagaimana mungkin kita bisa menjustifikasi bahwa fatwa dan tulisan Syeikh Muhammad Abduh sebelum bertemu dengan Al-Afghany seluruhnya benar, atau berada di atas rel kebenaran; sementara instrumen untuk menjustifikasi tidak ada?!

Lalu kita akan dibuat terheran dan tidak habis pikir oleh orang di atas, saat dengan santainya mengatakan, “Dr. Muhammad Imarah sudah mencoba mengadakan pembelaan terhadap Jamaluddin Al-Afghany di dalam kitabnya tentang Al-Afghany. Hanya saja, menurut saya, pembelaan itu hanya tafalsuf belaka.”

Mengapa? Karena dari pemaparannya saja, kita berani berkesimpulan kalau orang tersebut belum pernah membaca buku Dr. Imarah yang ia maksudkan. Dengan kata lain, ia mendengar tentang buku ini dari orang lain. Jikapun ia pernah membacanya, maka bisa dipastikan bahwa ketika ia membaca buku ini, akal dan pikirannya entah kemana, sehingga tidak sanggup meraba titik jangkau kenapa buku ini ditulis.

Jikapun ia pernah membacanya, tentu ia akan bisa membedakan antara tahqiq (penelitian) dan tafalsuf (berfilsafat), saat Dr. Imarah menghabiskan 29 halaman untuk melakukan tahqiq terhadap asal usul Al-Afghany dari 80 halaman yang dikhusukan untuk Bitaqah Hayah. Jikapun ia pernah membacanya, ia tidak akan begitu saja mengatakan Dr. Imarah sudah mencoba mengadakan pembelaan. Mengapa? Karena tujuan buku ini ditulis adalah untuk memaparkan ide dan gagasan reformis Al-Afghany, berikut beberapa pengalaman Al-Afghany di dalam pergerakan politiknya. []


Hay Sabie, 10 Oktober 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Cerita Kebersamaan

Cerita itu bermula dari halte tua
di alun-alun yang kini ringkih tak terurus
Ingatkah kamu perahu lusuh
yang kemudian kita naiki bersama?
Menyisir gemercik ketenangan sungai Nil saat senjakala
Mengisi untaian detik dengan kelakar-kelakar ringan
hingga akhirnya kita menyadari
bahwa yang berinteraksi bukan hanya tatapan kita,
bukan hanya napas kita,
bukan hanya raga kita.

Lihatlah!
Lihatlah jiwa kita yang kini mulai saling memahami!
Lihatlah makna-makna yang dipancarkan aura kita ini
mulai berbicara dalam diam,
mulai berbisik dalam harap,
mulai bersimpuh dalam doa!

Lihatlah ruh kita mulai berlepas
dari jasad kita yang kaku,
lalu berterbangan di langit ketulusan
lalu ikut berlarian bersama awan pengorbanan!

Lihatlah bagaimana kata-kata begitu iri dengan kita berdua
karena tak kuasa
melukiskan suasana langit yang menyelimuti kita ini!

Biarlah jiwa kita yang berbicara,
memahamkan kita bahwa kebersamaan dan keakraban ini
sama sekali tak membutuhkan kata-kata
untuk menjelaskan siapa keduanya,
sama sekali tak membutuhkan istilah
untuk membuat ia tak lekang oleh waktu.

Biarlah diam ini sebagai bukti,
bahwa ruh kita ingin terus bersama
dan selalu akrab hingga akhirnya.

Biarlah ketidakpastian ini sebagai tanda,
bahwa kita tak mau tertipu oleh kata-kata
yang seringkali membuat dua menusia berjauhan,
lalu tersekat dalam ambigunya sebuah jalinan.


Senin, 6 Oktober 2014, pukul 01.54 dini hari
Ahmad Satriawan Hariadi

Ila Walady

Arahan dan nasihat merupakan salah satu dari sekian banyak aktivitas yang memiliki ketergantungan kepada siapa arahan dan nasihat itu ditujukan. Sehingga merupakan kejanggalan dalam berpikir dan kemiskinan dalam pengalaman, jika anda memberikan arahan dan nasihat kepada orang terpelajar, sebagaimana anda mengarahkan dan menasihati bocah ingusan.

Jika anda ingin menyelami permasalahan ini lebih jauh lagi, maka tanyakanlah kepada diri kita sendiri, sudah berapa banyak arahan dan nasihat yang masuk ke telinga kita? Lalu dari sekian banyak arahan dan nasihat itu, berapa banyak yang mengena dan mengubah paradigma kita dalam menapaki hidup ini?

Kemudian kita harus menyadari bahwa setiap masa memiliki gaya hidup, cita rasa, dan paradigmanya masing-masing. Lalu atas dasar inilah kita harus tahu, bahwa arahan dan nasihat akan lebih mengena, jika selaras dan seiring dengan perkembangan zaman. Dengan begitu, arahan dan nasihat juga memiliki ketergantungan pada kapan kedua hal tersebut disampaikan.

Jika kita menilik jumlah buku arahan dan nasihat secara keseluruhan, maka sebagian besar diperuntukkan untuk usia dini hingga remaja. Jika anda pernah mengenyam pendidikan di pesantren, maka anda tidak akan asing dengan buku-buku semisal Akhlaqu lil Banin atau Akhlaq lil Banat. Atau jika anda menilik perbukuan di Mesir, maka buku-buku semisal al-Mursyid al-Amin akan banyak anda temukan.

Lalu kita akan dibuat keteteran saat diminta untuk mencari buku arahan dan nasihat yang dikhususkan untuk mahasiswa sarjana maupun pascasarjana. Iya, buku yang terkategori demikian nyaris tidak ada. Padahal, di dalam kenyataannya, mahasiswa --yang pada hakikatnya memiliki kejiwaan yang begitu labil-- juga tidak kalah butuh terhadap arahan dan nasihat, sebagaimana anak kecil membutuhkan keduanya. Iya, arahan dan nasihat yang sesuai dengan dunia, kapasitas, cita rasa, dan paradigma mahasiswa.

Lalu dalam hal ini, buku Ila Walady, menurut saya, sejauh ini merupakan satu-satunya buku arahan dan nasihat yang sangat sesuai dengan dunia, kapasitas, cita rasa, dan paradigma mahasiswa. Buku setebal 159 halaman ini merupakan kumpulan artikel pemikir sekaligus sastrawan besar Mesir, Ahmad Amin, di majalah bulanan Al-Hilal. Pada akhir tahun 1949, majalah Al-Hilal meminta Ahmad Amin untuk menulis silsilah artikel yang berjudul “Risalah Ila Waladi”, yang memuat arahan, nasihat dan pengalaman berharga Ahmad Amin kepada para mahasiswa. 

Namun yang membuat buku ini terasa begitu spesial dan begitu mengena adalah karena buku ini lebih diperuntukkan kepada mahasiswa yang jauh-jauh meninggalkan kampung halamannya, alias mahasiswa rantau. Mengapa? Karena saat Ahmad Amin menulis buku ini, walady (anakku) yang dimaksudkan di sana adalah putra Ahmad Amin yang waktu itu kebetulan sedang menimba ilmu di Inggris.

Sehingga tidak heran, pada arahan dan nasihat yang kedua, Ahmad Amin berbicara mengenai tiga tipe dan karakteristik mahasiswa yang merantau belajar ke Eropa. Selain itu, Ahmad Amin juga berbicara tentang politik ala mahasiswa. Ia sembari menjelaskan dengan santun bagaimana bentuk politik mahasiswa yang konstruktif, berikut yang destruktif. Hal-hal semacam ini, menurut saya, sangat penting bagi kita, selaku mahasiswa rantau, untuk kita kaji dan renungkan secara mendalam.

Di samping itu, saya mendapati uslub Ahmad Amin di dalam buku ini jauh berbeda dengan uslubnya di dalam buku-bukunya yang pernah saya baca; semisal Hayati, Zu’ama al-Islah fi al-Ashr al-Hadits, Fajru a-Islam, Duha al-Islam, dan sebagian dari Zuhru al-Islam. Saya melihat uslub Ahmad Amin di dalam Ila Walady ini memadukan antara uslubnya Taha Hussein dan Ahmad Hasan al-Zayyat. Meskipun begitu, ciri khas Ahmad Amin di dalam hal kejelasan maknanya, keluasan wawasannya, kedalaman pemikirannya, dan ketajaman analisisnya; tetap seperti sedia kala, sebagaimana kita dapati di dalam buku-bukunya yang lain. []


Islamic Mission City, 23 September 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Mengambil Risiko

Merupakan sebuah kemestian bahwa selalu ada risiko yang setia menanti anda di balik setiap pilihan. Jika anda ingin seperti kerikil yang berserakan di jalanan, maka anda cukup bersikap masa bodoh dengan sekeliling anda.

Lalu jika anda ingin nama anda harum dikenang sejarah, maka tidak ada teman bagi anda selain pengorbanan dan pengorbanan. Kemudian tiba saatnya anda harus menentukan pilihan; apakah mau menjadi kerikil atau tidak. Semuanya kembali kepada diri anda, bukan orang lain.

Atas dasar inilah kita jangan sampai terhenti pada poin kekaguman saja saat membaca kisah mereka yang harum dikenang sejarah. Kita juga jangan sampai lupa bahwa ada risiko besar yang mereka ambil untuk harumnya sebuah keabadian.

Kita harus tahu bahwa di balik nama besar mereka, ada tubuh yang berharikan keletihan, ada tumpukan beban pikiran yang menelapkan kenyamanan dan memasung ketenangan, ada rajutan derita dalam setiap langkah yang tertapaki, dan ada untaian cobaan dan malapetaka yang menghalangi tertuainya mimpi dan harapan.

Tidak sadarkah kita bahwa keberanian itu --sebagaimana kata al-Mutanabbi-- membuat celaka, dan kedermawanan itu membuat miskin? Apakah kita mengira bahwa Nabi Muhammad dan para sahabatnya hanya santai dan berleha-leha di rumah mereka saat menyebarkan agama Allah?

Artinya, semakin harum namanya seseorang di dalam sejarah, semakin besar pula risiko yang ia ambil. Pertanyaannya adalah seberapa besar risiko yang anda ambil untuk keabadian anda kelak?
   
Saya merasa bahwa hal yang membuat fakta sejarah, berubah menjadi khayal belaka di mata kita, adalah karena ketidakberanian kita mengambil risiko besar. Penyebabnya pun beragam; apakah karena kita terlalu mementingkan diri sendiri, atau terbuai oleh keindahan dan kenyamanan sesaat, atau mungkin karena mentalitas inferior yang mewabahi negeri ini sudah begitu mengakar di dalam diri kita. []


Hay Sabie, 12 September 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Karena Aku Mencintaimu

Biarlah kita berjarak
Berseberangan jauh
Bila perlu tak bersua
Agar kita merasa

Biarlah rasa terpasung
Tersekat kesedihan
Meratapi masa suram
Bersama sesal malam

Kedekatan saat ini
Hanya awal tangis sepi
Tawa riang bersama
Hanya awal derita

Bilamana ia datang
Meyekar kubur rindu
Menyirami gersang hati
Menemani kembali


Asrama Turki, Hay Sabie, 1 September 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Bermuka Dua


Kawan, tatapan kebencianmu
Mengisyaratkan kesengsaraan
Membias wajah kematianku
Menyegerakan senja hidupku
Kawan, buka saja penutupmu!
Agar api kedengkian itu
Tak membakar langkah-langkah esok
Tak memasungmu di balik tembok


Islamic Missions City, 30 Agustus 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Tak Ada Lagi

Kini tak ada lagi tempat untuk senyap
Tempat di mana merebahkan keluh kesah
Saat wajah polos itu menyisakan cacian
Saat apa yang terlihat hanya tipuan

Kini tak ada lagi tempat untuk tenang
Tempat jiwa berlepas dari perih itu
Saat keangkuhan menjelma keramahan  
Saat kemunafikan dalam keanggunan


22 Agustus 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Taman Kerinduan


apa yang tersisa
dari kisah lama Gibran dan Salma
bila kini aku tersekat dalam bimbang
menjamu keresahan dan kesendirian
setelah kepergianmu senja itu
terpikir kembali..
saat kulihat pantulan mentari
dari kerudung jinggamu
saat aku tak sadar
jika kau telah bermekar
memenuhi taman kerinduanku


Islamic Missions City, 30 Juli 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Dari Meninggalnya Gusti hingga GAMIS II

Jika anda melihat sebuah komunitas yang kerjaannya cuma bisa saling mengandalkan, kemudian menyalahkan satu sama lain saat terjadi sebuah bencana, maka yakinlah seyakin-yakinnya bahwa komunitas tersebut jauh dari kata dewasa dan terdidik, serta jauh dari kata peradaban dan inovasi. 

Kita harus tahu, bahwa usia dan jenjang pendidikan yang tinggi, bukan garansi sebuah kedewasaan sikap dan kematangan pikiran. Sehingga kita tidak perlu heran, mengapa sebuah komunitas masisir yang berisikan mahasiswa, perkerja, dan diplomat ini; terlihat lebih banyak omong daripada perbuatan nyatanya.

Karena komunitas ini begitu banyak omong, maka ketika mereka berembuk untuk menyelesaikan sebuah permasalahan, permusyawarahan mereka pun hanya terhenti di meja, lalu tersendat dana, kemudian hilang entah kemana. 

Karena pikiran yang sangat miskin inovasi, maka hasil permusyawarahan mereka pun serupa hasil bincang ringan anak-anak sekolahan, atau seperti mimpi seorang pengkhayal yang tak menemukan cara untuk merealisasikan mimpinya.

Karena pragmatisme yang sudah mengakar, maka yang lebih kentara ketika terjadi musibah seperti sekarang ini adalah kepentingan politis yang busuk. Oleh karena itu, mereka hanya memikirkan, bagaiamana agar foto-foto yang merekam bentuk tanggap dan keprihatinan sesaat mereka terhadap sebuah musibah; bisa dilihat oleh jutaan manusia.

Padahal, mereka baru mau tanggap dan menampakkan batang hidungnya, setelah semua urusan terselesaikan. Dengan begitu, anda tidak perlu heran, mengapa gerak-gerik mereka begitu lamban dalam segala hal. 

Pemandangan memuakkan semacam ini bukannya terjadi sekali dua kali, tapi berkali-kali. Namun anehnya komunitas kita ini seolah-olah masa bodoh dengan rajutan musibah yang menimpa kita. Sikap kita yang seperti ini, seakan-akan mengisyaratkan sebuah kepasrahan untuk menantikan bencana berikutnya. Iya, kita ini tidak pernah mau belajar dari kelalaian dan kesalahan kita sebelumnya.

Inilah yang terjadi dengan almarhumah Gusti Rahma Yeni, berikut musibah yang menimpanya. Musibah ini, sebagaimana kata salah seorang teman, merupakan klimaks dari rentetan kriminalitas yang tak pernah diusut tuntas. Iya, sebelum kejadian naas ini, kita tidak tahu sudah berapa rumah masisir yang dibobol dan dicuri, sudah berapa banyak kawan masisir yang dirampok di tengah jalan.

Oleh karena itu, penulis mengira bahwa inilah saatnya para pemangku kebijakan harus benar-benar serius memikirkan keselamatan warga Indonesia di negeri Mesir ini. Para pemangku kebijakan harus benar-benar menunjukkan langkah-langkah konkret untuk menjamin keselamatan WNI. Para pemangku kebijakan harus berhenti berleha-leha, sembari mencari-cari alasan agar selamat dari badai kritikan.

Namun apa yang terjadi setelah tragedi memilukan ini berlalu? Kita tetap seperti sediakala, tetap saling mengandalkan, tetap saling menyalahkan, tetap membuat masalah terkatung-katung tanpa langkah-langkah solutif, tetap memikirkan diri sendiri dan kelompok. Bahkan saking anehnya komunitas kita ini, di sela-sela duka yang menyelimuti masisir, masih ada terdengar sentimen kedaerahan yang menyeruak ke permukaan.

Kemudian jika kita memperhatikan hasil Gathering Masisir (GAMIS) II “Tentang Keamanan Masisir” tanggal 23 Juli lalu, kita akan menemukan hasil rapat yang rupanya bakal berujung seperti sebelum-sebelumnya. Terhenti di meja, lalu tersendat dana, kemudian hilang dimakan waktu.

Tidak hanya itu, ketika kita membaca dengan saksama poin-poin penting GAMIS II ini, kita akan menemukan hasil bincang-bincang yang sangat jauh dari kata realisasi. Jika anda tidak percaya, simaklah salah satu poin penting hasil rapat tersebut; seperti daerah Hay Asyir sudah tidak lagi aman untuk ditinggali. Kemudian kita pun bertanya: jika memang demikian, maka apa solusi anda terkait ketidakamanan wilayah Hay Asyir ini? Apakah memindahkan semua masisir beserta rumah-rumah kekeluargaan ke wilayah yang baru dan aman? Kemudian sejauh mana patroli DKKM bisa menjamin keamanan masisir? Begitu juga dengan poin-poin lainnya, yang menunjukkan bahwa kita memang sangat miskin inovasi.

Lalu berbeda halnya jika kita melihat hasil keputusan musyawarah WIHDAH dan Keputrian Nusantara, yang merupakan tindak lanjut dari GAMIS II tersebut. Dengan mencermati hasil keputusan musyawarah tersebut, kita akan melihat perbedaan yang begitu signifikan dibandingkan dengan poin-poin penting GAMIS II. Salah satu penyebabnya adalah karena hasil rapat Wihdah tersebut lebih konkret dalam pengaktualannya, dan tentu lebih praktis ketimbang hasil GAMIS II yang sebagian besar poin-poinnya masih dalam tahap perencanaan.

Tetapi hasil keputusan musyawarah WIHDAH tersebut tetap saja mengundang tanya; misalnya sejauh mana peraturan ini mengikat para mahasiswi agar mereka senantiasa menaatinya? Apakah ada tindakan tegas dari WIHDAH jika ada mahasiswi yang melanggar aturan ini? Apakah WIHDAH mempunyai petugas khusus yang mengawasi penerapan aturan ini di kalangan mahasiswi, berikut data pelakasanaannya; sehingga tidak sekedar rapi dan tegas di atas kertas, namun loyo dan amburadul dalam pengaktualannya?  

Anda boleh berkata bahwa penulis dalam hal ini bisanya cuma mengkritik dan mengkritik, tanpa memberikan solusi yang konkret. Iya, penulis akui hal ini. 

Namun apakah hal demikian itu menjadi sebuah kesalahan, jika ada seseorang yang berusaha menjelaskan penyakit umum yang mewabahi komunitasnya?! Apakah merupakan sebuah keburukan, jika ada seseorang yang mengangkat suara terkait kebobrokan yang menguasi seluruh elemen komunitasnya?! 

Apakah kemudian masuk akal, jika kita kita terus saja membohongi diri kita sendiri, dengan mengatakan bahwa komunitas kita ini adalah komunitas yang sehat, sementara fakta mengatakan sebaliknya?! []


Islamic Missions City, 29 Juli 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Memahami Esensi Idul Fitri

Tidak ada momen yang begitu jelas menunjukkan esensi Idul Fitri selain momen ketika Nabi mengatakan, “Idul Fitri merupakan hari di mana semua manusia berbuka.” Dengan diucapkannya kalimat sederhana penuh makna ini, seakan-akan sebuah konstitusi universal tentang kemanusiaan baru saja dikumandangkan. 

Mengapa demikian? Karena kata “semua manusia” menunjukkan bahwa perbedaan strata sosial tidak akan menemukan tempatnya lagi di hati manusia. Karena kata “berbuka” mengisyaratkan bahwa pada hari yang fitri ini, kenikmatan lahir dan batin bersama-sama merangkul semua manusia dalam ikhlasnya penghambaan dan indahnya kesalingan.

Kata “berbuka” juga memiliki cakupan yang menembus batas ruang dan waktu. Ya, kata tersebut bukan sekedar istilah untuk mengakhiri puasa pada petang hari dengan makan atau minum. Sama sekali tidak! Kata “berbuka” lebih dari itu. Kata “berbuka” adalah simbol keikhlasan dan kesetiakawanan. Kata “berbuka” juga merupakan lambang supremasi totalitas penghambaan dan sempurnanya kebahagiaan. 

Artinya, ketika Nabi mengatakan demikian, maka Idul Fitri bukan sekedar perkumpulan manusia di sebuah ladang luas untuk menunaikan salat, kemudian menyimak pemaparan sang khatib. Idul Fitri juga bukan sekedar salam-salaman ataupun permohonan maaf seseorang saat bejumpa sesamanya. Akan tetapi lebih dari itu. 

Idul Fitri merupakan simbol tegaknya syiar-syiar langit. Idul Fitri merupakan lambang kebahagiaan universal yang meliputi seluruh lapisan manusia. Pada hari yang fitri inilah kesetaraan benar-benar menemukan eksistensi di alam nyata. Karena seluruh elemen masyarakat, mulai dari balita hingga kakek-nenek, dari yang paling miskin hingga yang paling kaya, dari rakyat jelata hingga penguasa tertinggi; berkumpul dan bersatu padu di bawah panji langit, sembari mengagungkan nama Sang Pencipta. 

Dengan penyebutan Idul Fitri sebagai hari berbukanya semua manusia, maka pada hari itu juga tak ada lagi sikap riya, congkak, acuh tak acuh, dan kikir. Dengan penyebutan Idul Fitri sebagai hari berbukanya semua manusia, maka yang ada pada hari itu adalah sikap ikhlas, rendah hati, solidaritas, dan kedermawanan.

Jadi, momen Idul Fitri merupakan awal tertatanya kehidupan seorang mukmin, baik secara personal maupun sosial. Idul Fitri juga merupakan waktu yang paling tepat untuk memulai hidup sebagai manusia yang utuh. Ya, manusia yang memegang teguh identitas kemanusiaannya. Manusia yang tidak tunduk kepada siapapun selain Sang Pencipta. Manusia yang berakhlak dengan akhlak khalifah Allah yang sejati. 

Manusia yang selalu menyambut hari barunya dengan hati yang lebih ikhlas, pikiran yang lebih dewasa, ilmu yang semakin dalam, wawasan yang semakin luas, dan perangai yang semakin mulia. Manusia yang setiap waktu tersibukkan untuk menata dirinya sendiri, mengarahkan sesamanya, dan melestarikan lingkungannya. Bukan manusia yang sibuk menuruti hawa nafsunya, menyakiti sesamanya, dan mencemari lingkungannya.

Dengan memahami esensi Idul Fitri sebagaimana sabda Nabi di atas, tempaan fisik dan mental selama sebulan penuh di bulan Ramadan, tidak akan berlalu sia-sia begitu saja dengan usainya bulan penuh berkah tersebut. Tidak! Ramadan, menurut penulis, merupakan langkah persiapan, untuk memulai ribuan langkah sesungguhnya yang harus ditapaki seorang muslim setelah Ramadan.

Ramadan juga merupakan satu-satunya sarana untuk mengetahui titik tertinggi kapabilitas mental dan fisik seorang mukmin dalam ibadahnya. Melalui Ramadan, kita akan mengetahui sejauh mana kejujuran kita terhadap diri kita sendiri. Kita akan menyadari seberapa jauh keimanan kita mempengaruhi gerak-gerik kita sehari-hari. Kita akan menyaksikan sejauh mana ketakwaan kita melindungi kita, agar tak terjerumus ke dalam lembah dosa dan maksiat. Kita juga akan mengetahui daya tahan fisik kita saat menapaki getirnya penghidupan.

Kemudian timbul pertanyaan besar kepada diri kita. Apakah tempaan Ramadan selama sebulan penuh tersebut akan berlalu begitu saja? Sanggupkah kita menjadikan hari-hari kita setelah Ramadan layaknya hari-hari Ramadan? Akankah kita, yang sudah berpuasa sebulan penuh, tetap menjadi sosok malaikat berwujud manusia yang --sebagaima kata Grand Sheikh Mahmud Shaltut-- tidak berbohong, tidak saling mencurigai, tidak saling fitnah, tidak membuat rencana jahat terhadap orang lain, tidak menipu, dan tidak memakan harta manusia dengan batil?

Itulah segelintir pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh keikhlasan diri dan konsistensi perbuatan kita.

Dengan memahami esensi Idul Fitri yang sesungguhnya, kita mestinya mulai untuk memanusiakan orang lain. Mulai memanusiakan orang lain berarti kita mulai menerima dan menghargai segenap perbedaan; apakah itu perbedaan suku, ras, mazhab, pandangan politik, bahkan agama. Mulai memanusiakan orang lain berarti mulai menatap manusia dengan tatapan kasih sayang. Mulai memanusiakan orang lain berarti mulai mengerahkan segala kemampuan moril maupun materiil untuk meringankan beban penghidupan sesama.

Kita tentunya tahu, jika Allah berkehendak, maka seluruh umat manusia akan sama-sama kaya, akan sama-sama berkulit putih, akan sama-sama berada di bawah naungan Islam. Namun kehendak Allah berkata lain. Ya, Allah menghendaki sebagian umat manusia tetap berada di jalan yang menyimpang, agar kita sepenuhnya menyadari bahwa hidayah Allah masih bersama sebagian yang lain. Karena jika tidak ada keburukan, maka kebaikan tidak akan pernah ada wujudnya di muka bumi. Begitulah sunnatullah.

Keburukan maupun penyimpangan yang muncul dari perbuatan manusia sama sekali tidak bisa dijadikan alasan untuk membenci manusia. Yang bisa kita lakukan adalah membenci perbuatannya, bukan manusia itu sendiri. Karena bagaimana mungkin kita membenci makhluk yang telah dimuliakan oleh Allah ketika Ia berfirman, “Sungguh Kami benar-benar telah memuliakan keturunan Adam.”
 
Dengan demikian, memahami esensi Idul Fitri secara utuh, merupakan sarana yang paling tepat untuk memanifestasikan “sebaik-baik umat” ke dalam kehidupan nyata. Karena dengan memahami esensi Idul Fitri, seseorang secara tidak langsung telah menjadi rahmat bagi seluruh alam. Itu semua karena ia menyadari, bahwa Allah telah menghendaki kebaikan untuk segala eksistensi di atas permukaan bumi ini. Sehingga mau tidak mau, ia pun mulai berlaku baik terhadap semua ciptaan Allah, tanpa pandang pandang bulu. []


Ahmad Satriawan Hariadi
Islamic Mission City, 26 Juli 2014

Move On

Hidup dalam bayang-bayang kemurungan hanya akan membuat hari-hariku menjadi mati. Hidup dalam bayang-bayang kesedihan hanya akan membuat bunga-bunga harapan menjadi layu. Hidup dalam bayang-bayang pesimisme hanya akan menyisakan jasad tak bernyawa.
 
Begitulah akhirnya aku sadar, bahwa jika aku terus murung, sedih, dan pesimis; maka sebaiknya aku mundur saja dari pentas kehidupan ini. Aku juga sadar bahwa mulai saat ini, aku harus move on. Tidak sepantasnya aku terus-terusan meratapi kasih yang tak sampai itu. Tidak sepantasnya aku terus-terusan mengutuk keadaan yang tidak kunjung mau bersahabat denganku.

Bagiku, gadis itu adalah hadiah jiwa di penghujung masaku menimba ilmu di Al-Azhar. Karena setelah empat tahun keras membatu, hatiku akhirnya luluh juga oleh sosok yang berjiwa malaikat itu. Aku pun mulai optimis, bahwa pasak jiwaku kini telah berada di pelupuk mataku. Tetapi bagaimanapun optimisnya diriku, tetap saja roda hidup tak selamanya berjalan sesuai harapan. Karena di seberang sana, selain bingung dengan perasaannya sendiri, hati si gadis masih tetap dingin membeku.

Masa depan boleh saja menyatukanku dengan gadis asing pilihan Mamak dan Bapak. Masa depan bisa saja mengikatku dengan gadis yang eksistensinya masih disembunyikan takdir. Namun masa depan tetap tidak akan pernah punya kuasa atas hatiku. Tetap tidak akan pernah punya kuasa atas perasaanku. Iya, hati dan perasaanku telah dimiliki oleh gadis itu.

Aku tidak peduli dengan cinta satu arah ini. Aku tidak peduli dengan apapun yang dia katakan kepadaku. Aku tidak peduli dengan sikap dan penilaiannya terhadapku. Aku hanya tahu, setiap kali aku merindukan dia, aku selalu menengadah ke langit, sembari berdoa agar ia selalu tenang, damai, dan semangat menggapai mimpinya. Aku hanya tahu, setiap kali aku melihat bayangannya hadir di benakku, hatiku selalu berdesir, “Tuhan, jangan jadikan aku sebagai penghalang jalannya menuju-Mu.” Aku hanya tahu, bahwa aku merasa bahagia dan tenang, saat aku tahu bahwa ia baik-baik saja.

Kamu mungkin mengatakan bahwa Setan telah berhasil mempermainkan hati dan perasaanku. Kamu mungkin berasumsi bahwa Setan telah menyihir pandanganku, hingga  kawah dosa pun berubah menjadi taman ibadah di mataku. Namun aku tetap tidak peduli. Itu semua karena aku tahu sepenuhnya, bahwa hawa nafsuku sama sekali tidak mempunyai tempat di sini. Jika langkah ini terdikte oleh nafsuku, sudah tentu kamu melihatku sebagai sosok yang paling egois. Tapi nyatanya hatiku selalu condong untuk mengalah untuk kebaikan dia, dan menerima sepenuhnya semua keputusan yang dia ambil, meskipun harus menyisakan perih hingga akhir hayatku.

Bagaimanapun juga, gadis itu telah menuliskan kisahnya di hatiku. Lalu aku akan menjadi sangat naif jika terus bersikukuh untuk melupakannya. Bagaimana mungkin aku sanggup melupakan orang yang telah terkubur di dadaku. Dia akan selalu ada di manapun aku menginjakkan kaki, bahkan sampai menutup mata.

Namun tahukah kamu apa yang lebih naif dari yang di atas? Iya, aku akan seribu kali lebih naif, jika terus menerus murung, bersedih, dan pesimis. Aku harus yakin bahwa hanya Tuhan yang tahu apa yang terbaik untuk hidupku sepenuhnya. Aku tidak boleh berputus asa karena keadaanku yang begitu menyedihkan ini. Karena hanya orang-orang yang tidak percaya Tuhan-lah yang berputus asa dari rahmat-Nya.

Akhirnya aku pun harus yakin bahwa aku harus tetap bernapas, harus tetap bergerak, dan harus tetap berusaha menggapai mimpiku. []


Islamic Missions City, 14 Juli 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India