Inilah Hari
















Inilah hari, wawasanku membeliak
Dan banyak hal baru yang ku petik
Bersama sepuh yang berusaha eksis
Di belantika kabar dan tulisan

Inilah aku bersama para punggawa
Dengan semangat yang terbakar
Mengambil kalimat langka dan berharga
Lalu sesekali bertanya penasaran

Inilah aku bersama carik keceriaan
Mendulang bekal di hari kemudian
Meski keadaan dibalut tawa cekikikan
Namun tetap meraup mahalnya pengalaman

Inilah hari, obsesi baru ditancapkan
Tak peduli berapa banyak aral melintang
Aku tetap berjalan di tengah kalang kabut
Menggapai mimpi indah kemarin petang

Inilah hari, aku merasa hampa
Ternganga kagum bersama kebodohan
Membisiki halus agar selalu berbenah
Juga menutut diri agar selalu belajar

 
Acara pelatihan jurnalistik oleh Pensosbud KBRI Cairo yang menghadirkan Mohamed Sarwat (wartawan senior harian Youm7) dan DR. Mustafa Abdurrahman (wartawan senior Harian Kompas dan kompas.com untuk kawasan Timur Tengah) di Gedung Pancasila KBRI Cairo, 15/02/2012 pukul 10.00 s/d 17.00

Tak Tergantikan














Untuk kali ini, tinggalkan aku pergi
sebab adamu hanya menyisakan hati
yang membuatku terus memikirkanmu seorang diri

Untuk kali ini, janganlah menoleh ke belakang
sebab tatapanmu tidak hanya mengekang
tetapi menjerat harapan yang akan datang

Untuk kali ini, biarkan aku sendiri
merenung mencoba melepaskan diri
dari pesona cinta dan obsesi malam ini

Untuk kali ini, lenyaplah sementara waktu
karena sampai saat ini aku tak kunjung mampu
mengubur nama dan jiwamu di hatiku

Untuk kali ini, simpanlah kata-kata itu
jangan sampai ia terucap oleb bibir manismu
yang akhirnya membuatku kepayang seperti dulu

Untuk kali ini, aku ingin kau tegas
berikut keseriusan di balik ucapanmu yang lugas
bahwa bualan lama telah berakhir seperti aku bernapas

Untuk kali ini, aku pun harus berterus terang
meski bersusah payah membuat sosokmu hilang
nyatanya kau tetap ada, kini dan akan datang

10/2/2012 03.15
Tiba-tiba kepikiran sosok yang menakjubkan, entahlah siapa, aku juga nggak tahu!











Sakit

Kini aku tak kuasa menyulam mimpi-mimpi
Rasa perih mendudukkan jasad dan harapan
Sedangkan akal dan jiwa melayang entah kemana
Bersama tumpukan bacaan yang mengantre
Akhirnya sayup-sayup kecerian tampak jelas
Menjanjikan ada tawa di seberang sana
Jadi, biarkan aku bersemayam di sini


Saat sakit, 3/2/2012

Keberkahan


 











Keberkahan itu kini hilang dari kediamannya
Bersamanya, para pencari sedang kebingungan
Dan sebagian lagi berbaring lelap atau lupa
Entahlah, mungkin paradigma kini bak ayunan 
Atau jiwa sudah muak dengan ajaran lama
Hingga nilai keluhuran melepuh di tongkrongan

Keberkahan itu kini tersisa dalam cerita
Bersamanya, para pencari enyah tak peduli
Sebagian lagi sibuk menyekarnya di pusara
Sambil menceritakan pengalaman di sana-sini
Namun tetap saja seperti kerikil tak bernyawa
Yang semakin keras berteriak namun tetap tuli

Keberkahan itu kolaborasi ikhlas dan konsistensi
Yang menuntut teguh hati melawan bisikan halus
Bernyawa sabar saat dibuai penat dan frustrasi
Lambat laun yang tetap berjalan hanya yang tulus
Sedangkang pecundang kini terengah-engah mati
Bersama penyesalan yang dibalut cacian-cacian ketus

Keberkahan juga bersemayam di depan sang guru
Sebab kasih langit merintikkan benih ketekunan
Membakar nyali agar tidak ciut dan menggerutu
Hingga berlalu tegar di bawah panji-panji cobaan
Jalan pun berakhir manis saat sampai di penjuru
Berikut tanpa tangis-tangis sendu di ujung jalan

Islamic Mission City, 2 Februari 2012 pukul 00.01

Aku dan Keadaan

 











Akulah jasad yang tak bosan bergerak
Melawan kerapuhan karena tuntutan nafsu yang bising
Menjadikan setiap hasrat menikmati hidangan yang menggoda

Akulah mata yang terus terpejam
Khawatir bila terus terobsesi pada pesona dara
Membuyarkan fokus karena resonansi jiwa yang terus memikirkannya

Akulah kaki yang ragu-ragu melangkah
Sebab tujuan selalu penuh terisi oleh tawa semu
Akhirnya mengebiri semangat dan mewajarkan disorientasi

Akulah tangan yang selalu mengepal
Mengantisipasi intimidasi dan serangan seketika
Sebab keamanan telah terkubur mati di rumah-rumah maupun di jalanan

Akulah jiwa yang terus memberontak
Tidak menerima keadaan yang semakin amburadul
Lenyapnya moral dan tersayatnya karakter, merupakan secuil dari bobroknya keadaan ini

Akulah pribadi yang terus diuji
Berbagai  tawaran kotor dan ajakan nista
Bersusah payah membuatku manut di bawah temaram

Akulah sisa-sisa harapan yang masih tegar
Melawan badai musibah yang datang silih berganti
Sementara pemangku kebijakan sedang sibuk menghitung untung-rugi

Akulah rakyat yang ada di pelosok sana
Menyaksikan modernisasi mengintervensi nilai adat dan agama
Hingga lambat laun menggerus nilai gotong royong dengan pragmatisme yang oportunistis

Akulah yang muak dengan keadaan ini
Ditambah lagi stagnasi kawula di bawah bayang-bayang
Akhirnya arah dan tujuan menghilang, begitu juga dilema yang terus menerjang   

Islamic Mission City, 25 Januari 2012 13.40

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India