Risalah Perempuan

Perempuan. Iya, makhluk itu bernama perempuan. Keberadaannya adalah keseimbangan kehidupan. Jika kafilah kehidupan itu seperti burung, maka burung itu tidak akan pernah beranjak dari tempatnya, jika hanya mempunyai satu sayap. Begitu pula dengan kehidupan. Perempuan dan laki-laki adalah sepasang sayap yang membuat burung kehidupan bisa berterbangan membelai alam raya dalam keseimbangan dan ketenangan.

Arahkanlah pandanganmu kepada dirimu barang sejenak. Jika kau dapati kegoyahan jiwa yang membuatmu terlalu lambat atau terburu-buru menapaki getirnya penghidupan, lekaslah cari penyeimbangnya pada lawan jenismu. Lalu rajutlah benang cinta dan kasih dalam indahnya kesalingan.

Para wanita itu laksana pakaian bagi kalian
Kalian laksana pakaian bagi mereka

Perempuan. Makhluk yang bermahkota perasaan. Dengan kondisi demikian, Tuhan pun menahbiskan perempuan sebagai penjaga keberlangsungan ciptaan yang paling mulia. Dengan perasaan khusus itulah perempuan merawat janin kehidupan yang bermula dari rahimnya. Kemudian melawan pedih dan penat sepanjang jalan, demi kebaikan buah hatinya. Meskipun sesekali kelogisannya harus menggerutu karena terus didepak oleh kediktatoran perasaannya. 

Namun terlalu naif rasanya jika hanya berkutat dengan lukisan deskriptif kaum Hawa, tanpa mendatangkan hal baru yang kurasa lebih mengena dan lebih banyak mendatangkan manfaat. Sebab selama ada akal-akal yang selalu berpikir dan pena-pena yang senantiasa mewakili keberadaannya, maka pengulangan tidak akan mendapatkan tempatnya dalam hidup.

Perempuan dan keindahan itu ibarat manusia dan kepentingannya. Tidak terpisahkan dan memiliki dua dimensi yang berlawanan. Tak selamanya kepentingan itu berkonotasi negatif jika itu untuk orang banyak, dan tak selamanya keindahan itu positif bagi perempuan jika menyebabkannya tertelap lalu menangis sepanjang jalan.

Namun dibalik melekatnya keindahan pada hakikat perempuan, ternyata ada semacam kegoyahan yang sering mengusik keseimbangan jati diri dan perasaannya. Janganlah sekali-kali heran jika mereka selalu terlihat overaktif; baik ketika membenci, mencinta, marah, kecewa, sedih, dan lain-lain. Tidak terlalu berlebihan jika memutlakkan kegoyahan itu kepada titisan hawa ini. Walhasil, Nabi sejak dini berwasiat kepada kaum Adam.

"Berbaik-baiklah terhadap perempuan." 
"Bertakwalah dalam masalah perempuan."
"Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya."

Pesan-pesan di atas bukan hanya sekedar terucap lalu berlalu begitu saja. Tidak! Sama sekali tidak. Pesan-pesan di atas, meskipun terlihat sederhana, ternyata merupakan titah agung yang menembus dimensi waktu dan keadaan. Titah yang tujuannya melampaui batas pikir dan naluri manusia. Titah yang membawa risalah keseimbangan dan kebahagiaan dalam hidup.

Terkhayalkan olehku, setelah merenungi pesan Nabi tersebut, betapa sulitnya berbuat baik terhadap perempuan. Dan lebih susah lagi mengkonstankan perbuatan baik itu terhadap mereka. Anda mungkin heran, mengapa bisa demikian?

Bagaimana tidak susah, seorang laki-laki harus tahan banting dan ekstrasabar terhadap tabiat perempuan yang seringkali membuatnya harus gigit jari. Si laki-laki harus tertahan melihat istrinya ibarat lautan; baru beberapa saat setenang Lautan Teduh, lalu kini berombak bak Tsunami yang siap menyapu siapa saja yang menghadangnya.

Dengan tabiat kegoyahan yang melekat pada diri perempuan, mau tidak mau membuat ia sebentar-sebentar marah tanpa sebab, sebentar lagi menagis pilu, sebentar lagi tertawa lebar, sebentar lagi meminta ini dan itu, sebentar lagi merendahkan harkat dan martabat laki-laki.

Terkhayalkan olehku bagaimana ketika istri memarahi suaminya. Entah apapun alasannya. Terkhayalkan olehku bagaimana omongan sang istri yang tidak terputus-putus, sedangkan sang suami hanya bisa diam atau menjawab sekenanya. Terkhayalkan olehku bagaimana sang istri membuat suaminya begitu tertekan dengan caranya yang mengungkit-ungkit permasalahan ataupun keburukan suaminya dari A sampai Z. Terkhayalkan olehku bagaimana mimik sang istri meskipun suaminya bersikukuh meminta maaf kepadanya. Terkhayalkan olehku bagaimana dunia yang begitu lapang ini tiba-tiba dirasakan suami seperti tersekat dalam kardus kecil yang membuat napasnya terengah-engah.

Jika adanya demikian, maka jangan heran, mengapa Nabi, dalam berbagai kesempatan, seringkali menyuruh kaum Adam untuk bertakwa dalam masalah perempuan. Begitu juga denga suruhan Nabi untuk berbuat baik terhadap kaum perempuan, mengingat betapa susahnya hal tersebut.

Nabi pun tidak cukup menjelaskan hal tersebut dengan perkataan saja. Tetapi beliau langsung membuktikannya terhadap istrinya. Lihatlah, bagaimana Nabi—dengan akal yang besar beserta muruah yang senantiasa dijunjungnya—dengan suka rela mengiyakan ajakan Aisyah belia untuk lari-larian, demi keridaan sang istri.

Lihat pula, bagimana Nabi menghadapi sikap Aisyah yang menguntit beliau malam-malam dari belakang ketika menziarahi makam Khadijah, kemudian Aisyah tidak mau membukakan pintu bagi Sang Nabi. Kemudian bagaimana sabarnya Sang Nabi terhadap Aisyah yang kehilangan keseimbangan tatkala melampiaskan kekecewaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah "perempuan tua yang telah tiada", karena merasa dirinya lebih cantik, lebih muda, dan lebih layak menjadi nomor satu di hati Nabi.

Adapun tidak lanjut dari perintah ini adalah larangan untuk terburu-buru menceraikan sang istri, entah bagaimana pun keadaannya.

Pergauli mereka sebaik-baiknya
Jika kebencian menginjak ubun-ubun
Semoga di dalam riak-riak kebencian 
Terpendam kebaikan yang berlimpah

Siapa yang tahu jika yang terbenci itu suatu saat melahirkan anak yang paling cerdas yang pernah ada di muka bumi ini. Siapa yang tahu jika yang tak tersukai itu senantiasa mengharapkan kebaikan Tuhan bagi si pembenci. Siapa yang tahu jika diam-diam ia menyesali sikapnya yang keterlaluan namun lekas urung mengakui kesilapan masa lalu. Lagi sekali siapa yang tahu?

Tabiat perempuan yang terlihat paradoks dengan tabiat laki-laki seringkali menghadirkan bayangan negatif, baik dalam perspektif laki-laki, maupun dlam perspektif perempuan. Namun tidakkah tersadari jika kedua hal yang peradoks tersebut adalah kesempurnaan dan keseimbangan hidup?!

Salah satu tabiat yang paling kentara dari perempuan adalah tabiat selalu ingin berkuasa yang dibarengi dengan kediktatoran. Iya, perempuan selalu ingin berada di atas. Suka memerintah, namun enggan diperintah. Jika pada awal pernikahan si istri berhasil membahasakan sempurnanya ketaatan, maka lambat laun ketaatan itu semakin terkikis bersama bergulirnya zaman dan keadaan. Anak-anak pun menjadi legitimasi bagi sang istri untuk mulai membangkang, kemudian menyalahkan, dan akhirnya melakukan kudeta terhadap suaminya. Kini sang istri-lah yang menjadi penguasa tunggal untuk hari ini dan seterusnya. Rumah pun menjadi neraka tatkala kemauan sang istri tidak terturuti. Suami hanya bisa diam, sedangkan anak-anak hanya bisa menangis.

Namun perkara semacam ini bukan hal yang luput dari ajaran langit. Jauh-jauh hari Nabi mengingatkan, "Jika seorang perempuan menunaikan salat lima waktu, berpuasa pada bulan Ramadan, menjaga mertabatnya, dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga lewat pintu mana saja yang ia kehendaki." Atau di lain kesempatan beliau memberikan analogi, "Jika aku memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada seseorang, akan kuperintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya."

Terpikirkan olehku kalau perkataan Nabi di atas adalah upaya untuk memarginalkan hawa nafsu perempuan yang ingin selalu berada di atas awan. Selalu ingin menjadi nomor satu dalam segala hal, baik di hati suaminya, di hati anak-anaknya, bahkan di hati semua orang. Lalu ia akan sangat murka jika dibandingkan dengan sesamanya, namun ia sendiri sangat getol membadingkan dirinya dengan perempuan lain.

Terpikirkan olehku jika marginalisasi kekuasaan perempuan tersebut bertujuan untuk menciptakan keseimbangan antara dua makhluk Tuhan yang paling mulia ini. sehingga perempuan pun kembali kepada tujuan penciptaannya bagi kaum Adam, yaitu "Litaskunu ilaiha", makhluk yang menyediakan ketenangan bagi kaum laki-laki, makhluk yang mengusir hama-hama kegelisahan dan kepenatan hidup, makhluk yang menjadi sumber energi untuk menaklukkan tantangan kehidupan yang keras dan tidak menganal batas.

Perempuan. Makhluk indah yang mempunyai risalah mulia dalam penciptaannya. Menjagai keberlangsungan hidup manusia. Menjadi sumber ketenangan dan inspirasi. Bukan membuat sempit alam raya yang dibentangkan Tuhan dengan nalurinya yang superioris dan diktatoris. Dengan keseimbangan itulah burung kafilah kehidupan berterbangan di alam raya dengan kedua sayapnya, laki-laki dan perempuan.
  
Inilah beberapa sisi mengenai perempuan. Batapa banyak sisi-sisi lain makhluk ini yang menarik untuk dibahas.


Islamic Missions City, 9 Juni 2013

1 komentar:

Neng Fauziya said...

Perempuan, kuat dan rapuh disaat bersamaan. Siluet aura wanginya bisa dengan mudah menyandera hatimu, kau pun bisa dengan mudah memecahkan kristal jiwanya hanya dengan satu kata.

Perempuan, lembut...namun terkadang menjadi culas saat perasaannya tak utuh lagi. Lindungi hati dan raganya,maka dia akan memberimu segala yang dia miliki.
Atau sakiti saja, maka rasa cekat tak berujung akan selalu ada di belakangmu layaknya bayangan yang terus mengikuti.

Perempuan, seperti dirimu saat bercermin. Terbalik namun bukan maya. Nyata namun bisa menjadi cinta semu tergantung langkah yang kau ambil untuk mendapatkannya.

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India