I'tiraf


Tuhan,
bagaimana bisa aku selalu berpaling
bagaimana bisa aku lari menjauh
bagaimana bisa aku lupa dan luput
bagaimana bisa aku terlelap

Tuhan,
kini aku terhentak
kini aku teringat
kini aku terharu
kini aku tertunduk

Tuhan,
aku kembali
aku bersimpuh
aku tak kuasa
aku menengadah

Tuhan,
bila masaku tiba
biarkan seutas senyum mengakhiri
agar langkah jelas arah
bersama rida di ubunku
meniti taman penantian

Tuhan
Tuhan
Tuhan

27/3/2012

Kapan dan Dimana Cinta?


Hidup sebatang kara di ufuk kesunyian
Saat hidup dan mati sama-sama menengadahkan tangannya
Berhasrat menggendongku di pundaknya letih
Sempoyongan membisikkan ketakutan nanti malam
Hidup bebas dan berkeliaran di senja ini
Menelusuri kumpulan remang-remang di pasar itu
Mencari-cari keindahan dan hiruk-pikuk yang memabukkan
Tak usah kau sangka,
Akulah yang tertatih lesu karena kesunyian ini
Mencari arah yang masih tabu dan buram
Bersama raga yang kering kerontang dimakan masa
Mata pun sayu berlingkar hampa di jalanan
Sapaan angin yang menggigil ini tak ada rasa
Mereka bercerita, musim semi ada di ufuk timur
Aku melepuh dipasung sepi dan omong kosong
Aku pun menghitung jari-jariku untuk harapan
Kapan kau mengelus pipiku yang mati rasa ini
Bila cekikikan ini kita rayakan bersama?
Namun sosokmu masih kelam
Dimanakah cinta?



Sunyinya penghujung musim dingin, 24/3/2012

Mereka, Para Penulis


Merekalah yang kuminta keluangan masa
Mengukir sejarah mereka sendiri
Dalam konsentrasi dan keheningan suasana
Menggerakkan jemari-jemari yang lusuh

Merekalah yang tidak sadar diri
Aku  yang tertatih-tatih membawakan hidangan
Memeras siang dan malamku hanya demi mereka
Nyatanya mereka tetap saja enyah tak peduli

Merekalah yang begitu meraja dan meratu
Meminta, menyuruh, memprotes, dan mengintervensi seenaknya
Sedangkan kepalaku turun naik begitu saja
Mengiyakan tutur mereka yang memuakkan

Merekalah yang mengikis esensi keikhlasan
Karena sikap mereka yang begitu apatis
Tak peduli aku yang mereka caci maki
Dengan kata maaf dan belum sempat

Merekalah yang kupilih dengan seonggok harapan
Agar bisa bekerja sama dan saling pengertian
Bahwa hasil memang sejalan dengan kata
Namun kata tetap saja kata, bukan hasil

Merekalah yang kuanggap primadona
Karena geliat cendekia bersua dengan harinya
Namun akhirnya persepsi melepuh dan hilang
Kini bagiku sama saja tiada beda sampai kapanpun

Buat para penulis Jurnal, 11 Maret 2012

Mahasiswi, Mau Kemana?


Sebuah identitas yang menjadikan pemiliknya terpandang dan patut berbangga diri. Apalagi jika tambahan 'luar negeri' atau 'al-Azhar' mengekor di belakang identitas tersebut. Tidak hanya itu, dengan kondisi yang tergolong minoritas, tentu akan menjadikan pemiliknyanya terpandang dan meningkatkan nilai serta daya pikatnya. Pemegang identitas tersebut bukan hanya menjadi primadona dan dambaan pada komunitas yang ia tempati, melainkan di tanah kelahirannya sendiri, Indonesia. Ya, identitas sebagai seorang 'mahasiswi luar negeri' atau 'mahasiswi al-Azhar'.

Berdasarkan data statistik Wihdah-PPMI yang terbaru, jumlah mahasiswi Indonesia yang menempuh pendidikan di Bumi Kinanah ini sekitar 829 Mahasiswi. Jika dipersentasekan, maka jumlah mahasiswi tersebut hanya 24% dari total keseluruhan pelajar dan mahasiswa Indonesia yang berjumlah 3500 orang. Sedangkan jika melihat persentase kelulusan mahasiswi tahun sebelumnya, seperti kelulusan mahasiswi Departemen Syariah Islamiyah Fakultas Dirasat Islamiyah Banat misalnya yang mencapai 73% dari total kelulusan para pelajar dan mahasiswa yang hanya mencapai 57%. 

Artinya, kelulusan para mahasiswi tersebut di atas rata-rata. Bahkan yang mendapat predikat lulusan terbaik pada acara Wisuda Sarjana tahun 2011 kemarin juga dari kalangan mahasiswi. Dengan demikian, para mahasiswi sudah membuktikan eksistensi mereka, layaknya seorang akademisi. Akan tetapi jangan sampai pencapaian tahun kemarin, membuat para mahasiswi menjadi besar kepala dan merasa di atas angin. Dalam artian jangan sampai bermalas-malasan dan cenderung meremehkan pelajaran atau mata kuliah, sehingga mulai jarang menghadiri perkuliahan serta memangkas porsi membaca. Namun hal yang sepatutnya dilakukan para mahasiswi adalah semakin berbenah diri dan terus memperkaya khazanah keilmuan mereka.

Dalam hal ini Mesir (baca: keadaan) memang menyuruh sekaligus mengharuskan mahasiswi untuk bersikap pragmatis. Mengapa? Karena durasi empat tahun di Negeri Piramid ini tentu sangat tidak cukup untuk meraup khazanah keislaman dan kearaban secara maksimal, sesuai tujuan para mahasiswi meninggalkan kampung halamannya. Jika efisiensi waktu secara maksimal saja tidak cukup, apalagi jika para mahasiswi larut dalam imajinasi semu yang membuang-buang waktu serta aktivitas-aktivitas yang mengubah persepsi khalayak terhadapnya.

Dengan demikian, sudah sepatutnya mahasiswi menghargai dirinya sendiri dan sesegera mungkin menyadari esensi yang telah lama luput dari perhatiannya. Bahwa ia memang adalah seorang pilihan dan primadona yang menjadi dambaan khalayak. Sesaat kemudian, ia semakin berbenah diri dan mengatur waktu, serta menetapkan skala prioritasnya. Sehingga ia hanya akan melakukan sesuatu yang mendatangkan profit dan dampak positif saja kepadanya, terutama dalama hal keakademisan. Dengan begitu, ia akan semakin tekun mengahadiri perkuliahan dan giat mengikuti majelis-majelis keilmuan seperti di Masjid al-Azhar dan lain-lain.

Begitu juga sebaliknya, dengan kesadaran tersebut, segala bentuk kegiatan atau rutinitas yang berdampak negatif dan bersifat nonprofit dalam hal keakademisan tentu akan ditinggalkan dan dibuang  jauh-jauh oleh mahasiswi. Di antara hal-hal negatif dan runititas yang bersifat nonprofit—sebagaimana pengakuan sebagian mahasiswi dan yang kita lihat sendiri—seperti keranjingan menonton film dan cengengesan di depan komputer; terus menerus tidur dan berdiam diri di kamar tanpa melakukan kegiatan ilmiah seperti membaca, menulis, dan lain-lain; terlalu sibuk di organisasi dan kepanitiaan tertentu; keseringan jalan-jalan dan makan-makan di math`am tertentu bersama doi atau teman-teman; kecanduan ngobrol hingga lupa waktu; dan tentu masih banyak lagi bentuk disorientasi dan rutinitas tak bermutu ala mahasiswi Indonesia di Mesir, yang bisa jadi menenggelamkan pesona mahasiswi dan mengubah persepsi khalayak terhadapnya. Bahkan tidak menutup kemungkinan, jika kesamaan lifestyle mahasiswi al-Azhar dengan mahasiswi di tanah air, sedangkan persepsinya berbeda, membuat mahasiswi al-Azhar bersembunyi di balik pengkultusan masyarakat terhadap dirinya sebagai lulusan Timur Tengah (baca: al-Azhar), sehingga terkesan hipokritis.  

Dengan demikian sikap pragmatis memang sangat diperlukan, mengingat durasi studi yang amat singkat (empat tahun saja), sedangkan khazanah keislaman dan kearaban terlalu luas dan banyak untuk diraup dan digali di sini (Mesir). Jangan sampai ketika pulang nanti, kapasitas keilmuan mahasiswi sama seperti sebelum meninggalkan kampung halaman. Tentu hal ini sangat tidak diinginkan oleh siapapun, terutama mahasiswi yang bersangkutan.

Di antara hal yang paling penting untuk diperhatikan mahasiswi adalah bagaimana menjaga moodnya agar tetap stabil dan rileks. Inilah salah satu yang membedakan tingkat pencapaian mahasiswi pada umumnya, baik dalam hal keakademisan maupun keorganisasian. Sebab jika mahasiswi tidak pandai menjaga dan mengatur perasaan serta suasana hatinya, maka minat dan semangat untuk melakukan kegiatan ilmiah seperti kuliah, belajar, talaqqi, dan lain-lain akan semerawut juga. Begitu juga sebaliknya, jika mahasiswi pandai dan cekatan mengatur moodnya, maka bisa dipastikan kalau tahun depan, akan muncul para mumtazer yang jauh lebih baik dari sebelumnya dan geliat dinamika kemahasiswian—yang selama ini terkesan pasif—akan menyaingi hegemoni dinamika kemahasiswaan, serta semakin mewarnai ranah kemasisirian secara umum. Jadi, peranan mood memang tidak diragukan lagi sebagai motor penggerak kehidupan mahasiswi.

Selanjutnya dari segi lifestyle, kita akan menemukan gaya hidup sebagian mahasiswi Indonesia di Mesir—sebagaimana pengakuan beberapa mahasiswi—yang cenderung glamor dan modis. Hal tersebut sah-sah saja. Namun jika kita bandingkan dengan paradigma keazharan, tentu hal tersebut jauh dari nilai keazharan dan identitas sebagai seorang muslimah itu sendiri. Al-Azhar dan identitas sebagai seorang muslimah, memiliki konsekuensi logis untuk untuk bersikap dan berpenampilan ala al-Azhar dan layaknya seorang muslimah yang belajar ilmu-ilmu keislaman dan kearaban. Paling tidak, lifestyle kita merupakan cerminan dari aplikasi ilmu yang yang telah diraup dari al-Azhar,  sumber dan pusat keilmuan Islam Moderat di dunia.

Jangan sampai pada akhirnya ilmu dan wawasan keislaman dan kearaban yang ada dan melekat, hanya berkutat di batang lidah dan ujung pena saja. Sementara diri kita sendiri jauh, bahkan keluar dari nilai-nilai keislaman dan kearaban itu sendiri. Bangsa Indonesia kini benar-benar butuh pada sosok-sosok jebolan Timur Tengah yang memiliki kematanganan ilmu dan wawasan keislaman dan kearaban yang komprehensif, kemudian disertai pembangunan integritas dengan paradigma keazharan. Sehingga kesadaran dan introspeksi diri mahasiswi saat ini memang sangat-sangat diperlukan, terutama para mahasiswi yang hendak menyelesaikan studinya.

Pada akhirnya, kita juga harus mengakui bahwa kita—mahasiswa maupun mahasiswi—memang berada dalam masa transisi dari jenjang remaja menuju tahap kedewasaan. Dalam hal ini, kita juga harus mengakui bahwa masa transisi ini merupakan masa kelabilan yang sangat rentan untuk mengintervensi mindset dan lifestyle mahasiswa maupun mahasiswi. Sehingga tahap ini merupakan sarana yang paling tepat untuk pembelajaran kedewasaan baik dari cara berpikir maupun bersikap. Dengan demikian, tahap ini juga mengukuhkan bahwa betapa mahasiswi sudah tidak bisa lagi diperlakukan seperti anak sekolahan, apalagi seperti anak kecil. Mereka sendirilah yang lebih tahu esensi dirinya sendiri, sehingga ia akan tahu apa yang mesti dilakukan dan apa yang tidak perlu. Dalam hal ini timbul pertanyaan, "Mahasiswi, mau kemana?"

Islamic Missions City, 10 Maret 2012

Zuhairi Misrawi dan Paradigma Keazharan


Seseorang tidak lain adalah hasil rumusan takdir yang telah ditetapkan Tuhan dalam lintasan kehidupan. Apapun dan bagaimanapun bentuk dan rupa seseorang, serta rentetan peristiwa yang mengiringi perjalanan hidupnya, merupakan bagian dari naskah ketetapan Tuhan yang pasti dan akan tetap berlaku kepadanya.
Begitu juga keyakinan dan mindset seseorang. Apapun yang diyakininya, tiada lain merupakan goresan abadi takdir kehidupan. Namun Tuhan, dengan segala kesempurnaan-Nya, telah menjadikan akal manusia sebagai sarana berpikir tentang hakikat dirinya sendiri dalam menjalani kehidupan. Ditunjang dengan fitrah yang sama dan merata untuk menjadikan naluri sebagai pondasi kesadaran dan ketundukan, bahwa ia memang diciptakan hanya untuk menyembah kepada-Nya, tanpa mengikutsertakan siapapun dan apapun bentuknya dalam kekhususan tunggal tersebut.
Sedangkan mindset merupakan buah dari pergolakan-pergolakan kehidupan manusia. Jadi, mindset memiliki ikatan yang amat kuat dengan kondisi lingkungan dan kekuatan emosional seseorang. Sehingga kita akan mendapati perbedaan mindset  yang amat mencolok antara mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di Timur Tengah dengan mahasiswa yang menimba ilmu di Negara-negara  Barat. Hal tersebut bisa kita lihat dari perbedaan gagasan-gagasan yang mereka canangkan, sekaligus lifestyle mereka secara keseluruhan.
Inilah yang aku temukan pada sosok Zuhairi Misrawi, saat aku bertemu dengannya pada Acara Temu Kangen Keluarga 'Buletin Informatika' beberapa waktu yang lalu di kantor ICMI Orsat Kairo (21/2). Sebagai perintis dan pendiri buletin—yang kini memiliki nama di kalangan mahasiswa Indonesia di Kairo—tersebut, ia bercerita panjang lebar tentang latar belakang pendiriannya. Kalimat demi kalimat dilantunkan, sesekali dipoles dengan pengalaman-pengalamannya selama belajar di Kairo dan kegiatannya setelah pulang ke tanah air. Tidak ketinggalan juga motivasi-motivasinya yang meyegarkan kembali semangat kami. Selain itu, ia juga menyelipkan pandangan dan gagasannya, serta mencoba mengintervensi mindset kami dengan pola pikir pragmatis sekaligus oportunistis yang lebih cenderung money oriented di ujung penyampaiannya.
Kalimatnya memang cukup lugas. Sesekali tawa cekikikan mengiri celotehannya. Namun aku sendiri lebih cenderung memperhatikan substansi dan meraba mindset-nya dari pada ikut terhanyut. Sehingga secara tidak langsung, di balik tawa cekikikan dan motivasi tersebut, ternyata terselip pesan-pesan yang secara implisit mengajak kami yang ada di tempat tersebut untuk meniru langkah-langkahnya—baik mindset maupun sikapnya—saat pulang ke tanah air nanti.
Namun secara keseluruhan, ajakannya untuk lebih giat mengkaji dan menulis memang bagus bahkan sebuah kemestian. Namun ide dan gagasannya terkait orientasi seorang lulusan al-Azhar ala Zuhairi yang kulihat lebih cenderung mencari pamor dan money oriented, dibanding menyebarkan Islam Moderat yang sesuai dengan metode al-Azhar—secara pemikiran maupun aplikasi—sepertinya kurang tepat. Bahkan tidak tepat, karena tidak sesuai dengan kepribadian dan karakteristik al-Azhar itu sendiri.
Al-Azhar, sebagaimana yang telah kita ketahui, terus berupaya menanamkan esensi keikhlasan kepada mahasiswanya, begitu juga dengan usahanya untuk terus meringankan biaya perkuliahan. Ditunjang lagi eksistensi majelis-majelis yang ada di Masjid al-Azhar, yang membuktikan bahwa keikhlasan dan semangat al-Azhar tetap ada dan menyala dalam upaya menyebarkan misinya.
Esensi keikhlasan inilah yang setidaknya telah terkikis dalam diri Zuhairi Misrawi, layaknya lulusan al-Azhar. Sehingga aku melihat dorongannya kepada kami untuk banyak membaca dan produktif menulis dalam menelurkan karya tulis, serta bersikap berani, tiada lain bertujuan untuk membangun citra pemikir, mencari pamor, dan tentu money oriented.
Adapun tiga peranan lulusan Timur Tengah—seperti peranan keilmuan, kemasyarakatan, dan politik—saat tiba di tanah air nanti tentu tidak akan berjalan maksimal, jika orientasi 'miring' tersebut telah merasuk ke alam bawah sadar dan mindset setiap lulusan al-Azhar. Pasalnya, esensi 'Duta al-Azhar'—atau biasa di sebut 'Azhary'—yang  semestinya mendarah daging dan merasuk ke alam bawah sadar, justru hanya tertinggal namanya saja.
Sehingga mindset dan sikapnya tidak lagi 'Azhary', melainkan mindset dan sikap yang hanya mengatasnamakan 'Azhary'. Begitu juga dengan konsep Islam Moderat yang digadang al-Azhar, tentu tidak akan sama dengan 'Islam Moderat imitatif' yang digadang dan dipropagandakan oleh 'Azhary Imitatif' tersebut.
Selanjutnya pada kesempatan tersebut, Zuhairi juga mengkomparasikan al-Azhar dengan perguruan-perguruan tinggi yang ada di barat. Ia mengatakan bahwa mahasiswa di barat itu benar-benar dimanja dan diperhatikan serta didukung oleh fasilitas yang benar-benar mendukung terbentuknya watak keilmuan seorang mahasiswa dan kemampuan menulisnya. Ia juga menyarankan kami untuk mengambil pendidikan pascasarjana di luar al-Azhar. Sebab, di samping memakan waktu yang lama, program pascasarjana di al-Azhar—menurutnya—lebih cocok buat orang Timur Tengah, terutama orang Mesir. 
 Dari segi fasilitas, al-Azhar memang ketinggalan dengan perguruan tinggi di Barat. Namun demikian, al-Azhar tidak bisa sepenuhnya didiskreditkan. Apalagi yang mendiskreditkannya adalah lulusan strata satu al-Azhar sendiri, sungguh ironis. Dalam hal ini, Zuhairi rupanya lupa juga dengan esensi kesabaran yang di ajarkan Mesir dan al-Azhar kepadanya. Sebut saja Thabur (antre) di Syu`un maupun Jawwazat, atau berjam-jam menunggu Bus 80 coret, dan masih banyak lagi yang benar-benar menempa kesabaran dan keuletan para 'Azhary'.
 Jika yang ditonjolkan Zuhairi dari kemudahan mendapatkan refrensi di Barat, maka di Mesir gudangnya refrensi, baik yang berbentuk buku maupun manuskrip kuno yang sudah berusia ratusan tahun. Al-Azhar, sebagaimana perkataan Dr. Osama Sayyid Azhary, memberikan kita segalanya (baik dari para syeikh dan dosen yang mumpuni, maupun karya para ulamanya), namun kita hanya mengambil sedikit.
Begitu juga dengan program pascasarjana al-Azhar yang memang tidak meminta biaya yang begitu tinggi, namun yang dimintanya adalah umur serta kesabaran mahasiswanya. Artinya, pascasarjana di al-Azhar memang membutuhkan waktu yang lama. Jika di UIN program S2—sebagaimana dikatakan Zuhairi dan sedang ia tempuh saat ini—bisa ditempuh satu tahun, maka anda jangan sekali-kali bermimpi bisa menempuh S2 di al-Azhar kurang dari lima tahun.
Pada saat inilah seorang mahasiswa pascasarjana digodok betul, baik dari segi intelektualitas maupun kesabaran. Prof. Dr. Sayyid Hamur, Dosen Sejarah dan Peradaban Islam di kampusku mengatakan, "Hakikat kuliah di al-Azhar itu ada di program pascasarjananya, dan kalian tidak akan mendapati manisnya belajar di al-Azhar kecuali di sana (program pascasarjana)." Dengan demikian, produktivitas menulis 'Azhary' memang rata-rata mencuat setelah ia mengenyam pendidikan pascasarjananya secara akademik.
Hal tersebut memang terlihat di berbagai toko buku, bahwa para 'Azhary' yang menjadi penulis buku tersebut tidak lain kecuali telah bergelar profesor atau doktor. Jadi kesabaran dan waktu yang lama dalam menempuh pendidikan merupakan keniscayaan bagi seorang akademisi, bukan secara instan, sehingga tidak menghasilkan 'akademisi imitatif' dengan berbagai gelar yang menyertai namanya.
Kemudian pada bagian akhir tulisan ini, aku ingin meraba sosok Zuhairi dari segi kepribadiannya yang ia sendiri mengakui dirinya saat ini adalah seorang pemikir dan analis di kancah nasional, dan sikap publik kepadanya. Dari gaya bicaranya, ia memang lugas dan vokal, namun cenderung berlebihan dalam mengekspos dirinya. Sehingga terkesan sombong dan cenderung meremehkan sekaligus merendahkan orang lain.
Sebuah sikap dan kepribadian yang seharusnya tidak dimiliki seorang 'Azhary' yang mengaku sebagai intelektual. Jadi, selain mempelajari dan memahami esensi keikhlasan dan kesabaran, seorang 'Azhary' juga mempelajari sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai keluhuran budi pekerti, seperti yang dicontohkan oleh para syeikh dan dosen al-Azhar; sebut saja sifat kesahajaan, kerendahdirian, kedermawanan, dan kepatuhan.
Sehingga seorang 'Azhary' sejati adalah seorang yang memiliki kapabilitas keilmuan yang komprehensif (`alim mausu`i) dan integritas, yang membuat dia disukai dan dicintai oleh seluruh elemen masyarakat, bukan hanya sebatas komunitas tertentu, sehingga namanya menjadi harum dan disegani di tengah-tengah masyarakat.
Akhirnya siapapun dan bagaimanapun bentuk dan rupa seseorang, serta sikap dan tingkah lakunya ujungnya akan kembali kepada dirinya sendiri. Akal yang diberikan Tuhan hanyalah sarana untuk menemukan Tuhan itu sendiri, tentunya dengan dorongan naluri dan fitrah yang dianugerahkan-Nya.
Berangkat dari akal dan fitrah tersebut, kita mengambil yang baik-baik dan bermanfaat saja, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Adapun berbagai bentuk keburukan dan ketidaklayakan, sudah sepantasnya untuk kita hindari dan membuangnya jauh-jauh.  Aku teringat perkataan Nabi Syu`aib yang diabadikan di dalam al-Quran surat Hud ayat 88, "Aku tidak bermaksud kecuali mendatangkan kebaikan semampuku. Dan tidak ada taufik bagiku kecuali dengan pertolongan Allah. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan kembali."
Hanya Allah yang tahu!

Islamic Missions City, 23 Februari 2012

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India