Untuk kesekian kali rasa ini menutupi mata
Menjebak hasrat pada tanya-tanya yang sama
Akhirnya rasa dan langkah membias pelangi
karena makna mulai bersemayam dari sini
Jika kemarin ada semalam untuk selamanya
Maka hari ini ada sehari untuk mengabadi
Ragaku berakar menembus celah kehampaan
Sedang ia meniti jejak kehidupan esok hari
Apalah arti rasa, jika tak ada sempat untuk menoleh ke belakang lagi?
Senandung malam kueja terbata
Tak kuasa menafsirkan makna dari keterbukaan itu
Jiwa hanya merintih bingung saat fajar di ufuk
Melangkahi hari bersama desauan angin musim gugur
Islamic Missions City, 2 Zulhijjah 1433 H
Layakkah Menjadi Alumni Al-Azhar?
Perubahan adalah tabiat kehidupan. Dengan kata lain, alam semesta beserta isinya ini tidak mengenal kata diam.
Risalah Perempuan
Perempuan. Iya, makhluk itu bernama perempuan. Keberadaannya adalah keseimbangan kehidupan. Jika kafilah kehidupan itu seperti burung, maka burung itu tidak akan pernah beranjak dari tempatnya, jika hanya mempunyai satu sayap. Begitu pula dengan kehidupan. Perempuan dan laki-laki adalah sepasang sayap yang membuat burung kehidupan bisa berterbangan membelai alam raya dalam keseimbangan dan ketenangan.
هذا الذي نريده من الطلبة الإندونيسيين
للحياة آمال لا تعد، وتزداد بغِيَر الدهر، حتى لكثرتها تُنسى وتفوت، والناس نوعان؛ فمنهم من في الحياة متيقّظ ومنهم نائم. فأما المتيقظ فسرعان ما يسلك المسلك الذي خططه لنفسه ليكون ما يشاء في الحال والمستقبل، ويبذل في نيل المطالب جهدَه إلى حدّ ما، وأرواح المتفائل ممتزجة في حركاته وسكناته، فتطمئن قلبه، ويستقر ضميره، متوكلا على الله جل شأنه. وأما النائم فهو عن حياته متجاهل، فلا يبالي بما له ومن حوله، وهو في الحقيقة ميّت بَيْدَ أن نفسه حيّة تسعى، وآماله تزداد طولا غير أنه باق على حاله كالماء الراكد، وهكذا
Sehari Hidupku
Layakkah Menjadi Alumni Al-Azhar?
Setiap tahun, ratusan wisudawan dan wisudawati Indonesia lahir dari rahim al-Azhar. Ibu Pertiwi patut berbangga dengan hal ini. Bagaimana tidak, pendidik-pendidik bangsa yang baru telah lahir dan siap ikut serta membangun dan memajukan bangsa dan negara. Karena mendidik—sebagaimana kata Anies Baswedan—adalah pekerjaan orang yang terdidik.
Sebagai lulusan al-Azhar, disamping kematangan akal dan pikiran, kapasitas keilmuan dan wawasan juga harus berbading lurus dengan penampilan. Artinya, jangan sampai alumni al-Azhar disibukkan oleh penampilan luarnya saja, sementara pemahaman ilmu dan perbendaharaan wawasan masih dibawah standar.
Hal ini bukan hanya mencoreng harga diri alumni dan nama besar Universitas al-Azhar yang berada di pundaknya, tapi nama baik agama yang kita peluk dan banggakan ini. Karena stabilisas agama Islam—sebagaimana kata Syeikh Muhammad al-Ghazali di dalam Khuluq al-Muslim—hanya akan tetap terjaga pada pengetahuan yang matang dan pikiran yang bijak.
Akal dan Kesalahan yang Sama
Aku Heran
Padahal mereka melihat ciptaan Tuhan
Aku heran dengan kematian yang dilupakan
Aku heran dengan kehidupan setelah mati yang diingkari
Padahal mereka melihat kehidupan dari ketiadaan diri
Aku heran dengan kefanaan yang dimakmurkan
Namun mereka membiarkan kebadiaan dihancurkan
Aku heran dengan keangkuhan dan kesombongan manusia
Padahal kemarin mereka berupa air lalu esok menjadi jasad tak bernyawa
(Terinspirasi dari perkataan Khalifah Umar bin Khattab)
23/9/2012
Bayi Itu Saudaramu!
Balita itu terkubur reruntuhan
Bukan sekali dua kali mata memandangnya
Ada wajah-majah mungil di Palestina
Yang harus kembali lagi kepada Tuhan
Setelah menikmati dua tiga teguk napas kehidupan
Ada sedu-sedu bayi di Irak saat fajar
Namun kembali sunyi dibawah cahaya lembayung
Ada juga di Bosnia, Rohingya, Kashmir, dan pelosok-pelosok Dataran Biru
Raga ini tegar bersama miris jiwa yang menangis
Namun belakangan ini raga dan dan jiwaku sama-sama ringkih
Aku melihat bayi di Syiria terkubur reruntuhan rumahnya sendiri
Setengah raganya masih terbenam di bumi
Tidurnya pulas sekali
Rambutnya menguban
Kulitnya memutih
Iya, sisa-sisa reruntuhan melapisi tubuhnya
Jika sebelumnya para pembantai adalah musuh yang dituliskan Alquran
Maka di Syiria pembantainya adalah saudara mereka sendiri
Ia adalah teman bermain masa kecil
Sama-sama berlari mengitari kampung kelahiran
Lalu berteriak sekeras-kerasnya
Kekuasaan telah menutupi mata hatinya
Jabatan telah melenakan siang malamnya
Kini ia berpijak di atas kepala rakyatnya
Berjalan dan berlari seharian
Bayi itu terlalu lemah untuk dijadikan pijakan
Bayi itu seharusnya diiming-iming dengan kasih
Bayi itu adalah saudaramu, Kawan!
Jangan heran! Bayi itu akan jadi bumerang suatu saat nanti
Islamic Missions City, Syawal 1433 H



Ahmad Satriawan Hariadi



