Pergi Selamanya (Puisi)

aku tak menyangka kalau rasa yang terpendam akan berakhir iba. dengan nama Pencipta, namanya telah tersulam dalam malam. sulaman yang menemaniku sepanjang senja. dengan perasaan yang diam-diam, kutulis "Sehari Hidupku" untuknya. dengan menatapnya, kutulis "Sesal dan Harap" sebagai bingkah doa. dialah gadis jenjang bermata lentik yang cekatan merawan pujangga apa adanya.

lalu apa setelah ini?

kata-kataku terhenti menahan peri. rintihan sayup-sayup kesedihan bermuara dari sini. kau tak lagi luasa berterbangan di atas bunga-bunga yang ranum. pujangga itu tiba-tiba datang mendekapmu. jalanmu pun bermuara ceria dalam perasaan yang tak menentu. iya, kau telah menemukan kepingan hati yang tersurat dari langit. aku pun berakhir dalam sendu pertengahan jalan.

mengapa begini?

mengapa baru sekarang? padahal jiwa ini telah memaknai wujudmu sekian lama. merinaikan senandung ragamu yang membuat malamku kepayang. tak usah kau sangka, akulah yang mencari wujudmu diam-diam. membaca duniamu. mengeja kata-kata yang kau goreskan saat cahaya lembayung meredup lemah. bertanya-tanya, mengapa khayalmu selalu penuh dengan "camar" dan "peri"?

inilah masanya..

aku harus jujur dengan hembusan napas ini. letih rasanya menyimpan rapat, namun menyisakan harapan yang menyesakkan. kau telah didekap lalu pergi untuk selamanya. kau telah memerah jingga lalu terbenam selamanya. kau telah mengalir lalu bermuara selamanya. kau telah pergi lalu tak pernah kembali lagi selamnya.

inilah cerita tentang gundahnya hati tertinggal pergi. semoga bahagia hingga menapak taman surga. dalam sunyi, doa ini kupanjatkan untuk keabadian kalian berdua. akulah yang tak tahu harus berkata apa. remuklah aku dalam perasaanku. tak ada lagi perasaan dan harapan.

Hingga masaku tiba..


17 Januari 2013

Setelah menerima kabar bahagia itu langsung darinya

Fakih Eksklusif


Melihat kemampuan Imam Syafii dalam mengambil kesimpulan hukum fikih dan kedalaman analisisnya, pemuda itu pun bertanya kepadanya, “Bagaimana anda mencapai level setinggi ini dalam kesimpulan fikih dan analisis anda?” Imam Syafii menjawab, “Aku belajar seluk beluk kehidupan sosial selama 20 tahun lamanya untuk memudahkanku dalam mengambil kesimpulan fikih.”

Cerita di atas, terlepas dari kebenarannya, cukup menggambarkan kepada kita bagaimana seorang fakih, atau akademisi muslim pada umumnya, harus benar-benar matang, baik ilmu pengetahuan, wawasan, maupun pengalaman. Ia harus mempersiapkan dirinya secara multidimensi dan maksimal. Kesiapan multidimensi mencakup keluasan pengetahuan terhadap ilmu agama, kejelian pikiran dalam menyingkap makna-makna yang tersirat dalam teks-teks sumber hukum serta kaitannya satu sama lain, dan kelapangan dada untuk turun langsung ke ranah kehidupan untuk membaca realitas sosial dan konstelasi politik yang marak diperbincangkan. Selain itu, ia harus memiliki kesiapan yang maksimal, baik mental maupun fisik. Dengan kata lain, seorang akademisi muslim harus benar-benar all out di dalam kehidupan ilmiahnya, tidak boleh setengah-setengah.

Titik tekan dari cerita di atas sebenarnya ada pada pentingnya seorang fakih untuk membaca realitas kehidupan. Inilah yang seringkali dipandang sebelah mata oleh beberapa kalangan akademisi muslim, karena beberapa sebab; di antaranya adalah terlalu terpaku pada teks sumber hukum atau pun  pada fatwa ulama-ulama terdahulu, begitu juga dengan pola pikir sang fakih yang sangat sempit, keengganan untuk melihat realitas umat dan bergaul dengan masyarakat luas (eksklusif), dan lain sebagainya. Akibatnya, hikmah Islam sebagai rahmatan lil alamin pun tergerus bersama hilangnya humanisme Islam, fleksibelitas, toleransi terhadap pemeluk Islam sendiri maupun pemeluk agama lain, dan empat karakteristik Islam lainnya sebagaimana dicatat oleh Sheikh Al-Qaradhawi di dalam al-Khashâ’ish al-‘âmmah li al-Islâm.

Tidak hanya itu, sifat eksklusif fakih ini juga berimbas pada perubahan paradigma masyarakat terhadap agama. Mereka menganggap agama hanya ritual-ritual yang menjadi rutinitas. Bahkan, mereka menganggap agama sebagai kungkungan yang setiap orang harus berlepas darinya, karena dianggap mengebiri hak-hak personal.

Hal ini juga tidak jauh berbeda dengan kondisi sastra. Suatu hari, Prof. Thahir Abdul Lathif, dosen mata kuliah Sastra Arab di Fakultas Dirasat Islamiyah, pernah ditanya, “Man huwa al-adîb?” (Siapakah sastrawan itu?) Ia menjawab, “Al-Adîb huwa alladzi yamsyî tahta aqdâm al-mujtama.” (Sastrawan itu adalah mereka yang berjalan di bawah telapak kaki masyarakat). Dalam hal ini sungguh jelas, bahwa sastrawan yang sebenarnya adalah mereka menggunakan bahasa yang sederhana, sehingga mudah dimengerti tatkala dibaca oleh berbagai lapisan masyarakat,  namun bermakna dalam dan penuh dengan pesan-pesan moral.

Dengan demikian, bisa disimpulkan bahwa adanya kemiripan antara “sastrawan aristokrat” dengan “fakih eksklusif” dalam hal orientasi dan cara pandang, yang masing-masing berusaha menjauhkan nilai-nilai dari sastra dan agama. Bahkan, fakih eksklusif inilah yang paling bertanggung jawab atas perubahan paradigma masyarakat terhadap agama. Jika sejatinya agama adalah pengatur seluruh aspek kehidupan manusia, mulai dari aturan personal hingga kehidupan berbangsa dan bernegara, maka agama di mata masyarakat saat ini adalah kumpulan ritual personal yang membosankan. Parameter takwa dalam konsep relasi vertikal, maupun parameter akhlak dalam konsep relasi horizontal, hanya tertulis di buku-buku sejarah para pendahulu. Tujuh kakteristik universal Islam yang seharusnya menjadi landasan konstitusi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara hanya sekedar teori yang tak kunjung diaktualkan.

Di samping itu, ada beberapa kalangan dari akademisi muslim yang hanya menjadikan Islam sebagai alat legitimasi untuk mempropagandakan ide-ide impor yang pada dasarnya sangat sulit diterima oleh nalar dan fitrah manusia. Permasalahan yang paling kentara dan banyak diperbincangkan oleh kalangan ini adalah kebebasan (liberty), persamaan (egality), dan kesetaraan (fraternity), yang berujung pada integrasi semua agama. Dalam hal ini, Islam jelas-jelas mempunyai jalan sendiri dalam memandang ketiga hal tersebut. Namun lagi-lagi, tidak banyak kaum muslimin yang mengetahuinya, apalagi mengamalkannya.

Jika ditelusuri, penyebab munculnya kalangan akademisi muslim yang seperti ini adalah karena hilangnya nilai-nilai spiritual yang menjadi fondasi sekaligus karakter setiap pemegang identitas muslim; seperti keikhlasan, kejujuran, dan lain-lain. Akibatnya, orientasi mereka dalam mempelajari agama bukan lagi untuk tegaknya kalimat Allah di muka bumi, namun karena tujuan-tujuan tertentu. sehingga mereka hanya mempelajari Islam secara umum, bukan secara mendetail.

Dalam hal ini, Imam Syafii merupakan tipe ideal seorang akademisi muslim. Ia merupakan sosok yang matang, baik ilmu, wawasan, maupun pengalamannya. Setelah mematangkan ilmu agamanya, ia tak segan-segan untuk mendalami berbagai disiplin ilmu sosial dan bahasa, yang secara tidak langsung sangat membantunya dalam memecahkan berbagai macam permasalahan fikih. Sehingga aktualisasi Islam sebagai rahmatan lil alamin benar-benar termanifestasi di dalam dirinya sebagai seorang akademisi muslim teladan sepanjang sejarah.

Di era modern, kita melihat beberapa fakih/akademisi muslim  yang yang patut dijadikan teladan dalam membaca realitas sosial dan konstelasi politik; seperti Syeikh Yusuf al-Qaradhawi dalam bukunya Fiqhu al-Aulawiyât (Fikih Prioritas), Fiqhu al-Aqaliyyât al-Muslimah (Fikih Muslim Minoritas), Min Fiqhi al-Daulah (Fikih Bernegara), dan lain-lain; begitu juga dengan Grand Syeikh Muhammad Sayyid Tantawi dalam Muʻamalât al-Bunûk wa Ahkâmuha al-Syarʻiyyah (Hukum-hukum Syariah Transaksi Perbankan); demikian pula halnya dengan Syeikh Muhammad Imarah dalam Fiqhu Muqâwamah al-Istibdâd al-Siyâsi (Fikih Melawan Tirani), salah buku yang ia tulis pascarevolusi 25 Januari 2011 kemarin.


Mereka semua telah membuktikan bahwa hidup seorang fakih/akademisi muslim tidak hanya berkisar antara rumah atau perpustakaan. Seorang fakih justru harus membaca realitas dan mengikuti perkembangan zaman. Ia harus berbekal dengan berbagai ilmu-ilmu sosial kemasyarakatan. Seorang akademisi muslim harus pandai memainkan kejelian pikirannya—dengan asas takwa dan jujur—untuk menguraikan hikmah dan kemudahan ajaran Islam. Sehingga Islam benar-benar menjadi pola hidup manusia, baik yang berkaitan dengan relasi vertikal maupun horizontal, di tangan para akademisi muslim yang sejati. Begitu juga Islam menjadi dasar konstitusi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Shaqr Quraisy, 15 Januari 2013
Artikel ini dimuat di Buletin Terobosan, Edisi Interaktif Liburan, 31 Januari 2013

Pembaringan Tua

(Untuk Imam Syafi'i, Waki', Al-Layts, Ibnu Hajar, Jalaluddin As-Suyuthi, Ibnu Daqiq al-'Ied, dll)    
 
aku berdiri di depan pembaringan tua
menyekar tempat terakhirmu melihat dunia
menengadah ke langit untuk kasih dan ketenangan
meski telah lama sebelumku untaian itu mengalir
melihat tempat tidurmu yang harum
hingga pikir menyadarkanku hakikat hidup
bahwa yang abadi hanyalah ilmu yang kau goreskan saat senjakala
sementara jasadmu telah menyatu dengan pijakan
jerih payah dan ketulusan telah mengukir namamu di langit
meski kau tenggelam, generasi esok hari tetap melihat cahayamu
mengagumi lalu berdoa untukmu sepanjang jalan

jika bukan karena ilmu dan goresan itu
kamu seperti ciptaan yang lain
ada, hidup, lalu hilang tak berjejak
tak ada mata yang tertuju padamu

begitulah! keabadian hanya bersama karyamu
bukan kekuasaan yang disalahgunakan
biarkan langit menjadi saksi
aku yang berjalan di atas titianmu
walau bukan seperti wujudmu

20 Desember 2012
(Saat ziarah ke makam para ulama. Mulai kutulis di makam Imam Syafi'i, dan selesai di makam Ibnu Atha'illah)

Inilah Mahasiswa


Masa-masa saat menjadi mahasiswa memiliki rasa dan pengaruh tersendiri bagi yang merasakannya. Saya melihat idealisme terbakar di ubun-ubun mereka, yang kemudian mempengaruhi gaya pikir dan corak hidup mereka. Bahkan, pada masa inilah mereka berusaha menunjukkan eksistensi dengan karya-karya mereka yang muncul ke permukaan. Mereka bekerja seharian, bertekad merampungkan pekerjaan hingga dini hari. Mereka tak peduli dengan sayup-sayup keletihan yang terpancar di wajah mereka. Ya! Inilah mahasiswa.

Di samping obsesi yang tinggi terhadap ilmu dan wawasan yang baru, mereka juga amat peduli dengan konstelasi politik dan hingar bingar bangsa. Mereka keluar ke jalanan, lalu berteriak lantang. Mereka haus akan kebenaran. Mereka benci konspirasi-konspirasi kotor para penguasa negeri. Mereka ingin, maling-maling itu dipancung di hadapan mereka sendiri. Ya! Inilah mahasiswa.

Namun kehidupan mahasiswa tidak seindah yang anda bayangkan. Meskipun mereka adalah tulang punggung keseimbangan bangsa, tapi kebanyakan mereka hidup dalam ketidakseimbangan. Skala prioritas hidup mereka hanya tertulis rapi dalam angan-angan dan perkataan, sementara mereka sendiri dalam kebingungan. Ide-ide inspiratif mereka rupanya berbanding terbalik dengan tingkah laku mereka sehari-hari. Meskipun akhirnya kita sadar, kalau kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa. Ya! Inilah mahasiswa.

Jika selama ini pakar psikologi menyatakan bahwa kelabilan hanya menjadi corak hidup remaja, maka saya tidak sepenuhnya setuju dengan pernyataan ini. Saya melihat jiwa mahasiswa jauh lebih labil. Mereka akan berdecak kagum dengan hal baru yang membuat hati mereka terkesima. Lalu secara pelan-pelan mengaguminya secara diam-diam. Mereka bahkan sangat idealis saat melihat lawan jenis mereka. Bagi mereka, lawan jenis merupakan ladang yang paling empuk untuk belajar metode kritik. Ya! Inilah mahasiswa.

Jika anda bertanya, apakah yang paling diinginkan oleh mahasiswa? Apakah kesuksesan? Apakah pasangan yang jelita? Apakah strata pendidikan yang tinggi? Maka saya menjawab, semuanya memang diinginkan oleh mereka. Namun tahukah anda apa yang paling mereka inginkan? Jawabannya adalah “pengakuan”, yaitu pengakuan atas eksistensi. Para pemangku kebijakan di negeri ini seperti pura-pura tidak tahu, kalau yang paling mereka butuhkan adalah pengakuan. Ya! Inilah mahasiswa.

Akhirnya, saya berkesimpulan, kalau masa-masa mahasiswa adalah masa-masa kejayaan dalam hidup. Sebab, pada masa inilah wujud karakter seseorang mulai mencapai derajat kesempurnaan. Apakah itu berupa karakter keilmuan, karakter pribadi, ataupun yang lainnya.  Pada masa inilah kematangan potensi diri termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari. Pada masa inilah orang-orang mulai mengenal siapa dia sesungguhnya. Pada masa inilah tabiat menjadi sempurna, yaitu tabiat yang bakal ia bawa sampai mati kelak. Ya! Inilah mahasiswa. 


Islamic Missions City, 15 Desember 2012

Hingga Masaku Tiba

hingga masaku tiba
langkah menunjukkanku dua wajah mereka
persepsiku pun membias sedih dan duka

hingga masaku tiba
masa-masa bimbang hanya bermuara pada diam
hari esok pun menjadi kelam tak ada mentari

hingga masaku tiba
obsesi darah muda adalah simbol kegigihan
yang menghancurkan tirani yang tak bernurani

hingga masaku tiba
jalinan sepasang ciptaan sebelum masanya hanyalah awan kelam
yang menyebabkan hujan tangis sepanjang jalan

hingga masaku tiba
kesungguhan dan kesabaran adalah mata air kehidupan
yang menjadikan tegar di tengah ketidakpedulian

hingga masaku tiba
ketenangan dan kedamaian ada pada simpuh tulus
hingga akhirnya kembali ke pangkuan keesaan


 
H-6, 20 Muharram 1434 H 09.37

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India