Jika dengan merasakan
kehinaan pada masa pembelajaran yang penuh dengan kelabilan ini,
meskipun harus menelan kembali ludah sudah terbuang, maka itu sungguh
lebih baik baik ketimbang harus seperti itu saat keadaan tak mengizinkan
lagi untuk mencoba-coba seperti sekarang ini. Aku rela hal itu untuk
menempa diri dan mental dalam menghadapi intimidasi dan kritikan di masa
yang akan datang.
Jika kemarin telingaku begitu perih
saat mendengar kata politik, maka hari ini aku harus merelakan kepalaku
diinjak-injak orang lain, karena kesediaanku menjadi pelaku politik itu
sendiri. Tidakkah kau lihat, pembantaian manusia yang terjadi di negeri
Piramid ini, bermula dari perselisihan para pelaku politik itu?
Jika
kemarin dengan seenaknya saja kritikan-kritikan pedas kulayangkan ke
arah wajah para pelaku politik itu, maka hari ini aku sudah menyiapkan
punggungku untuk dicambuk oleh kritikan mereka. Dengan politik, aku
melihat wajah asli manusia yang selama ini mereka tutupi dalam-dalam.
Hari ini pun aku harus merelakan tirai hakikatku yang tertutup begitu
rapat, tersingkap oleh politik itu sendiri.
Jika kemarin
aku berkoar-koar mengenai permukaan politik yang begitu halus, namun
menyimpan serakan duri kepentingan di dalamnya, yang siap mengoyakkan
jalinan antarmanusia yang telah lama dirajut oleh cinta dan kasih; maka
hari ini aku menyaksikan eksistensiku mulai terbungkus kepentingan
politik yang kejam dan tak mengenal ketulusan. Bahkan sedetik dari
tatapan ini menyimpan untaian kepentingan yang busuk.
Aku
memilih kepahitan ini semata-mata untuk meringankan beban penghidupan
saat menginjak Bumi Pertiwi kelak, di mana mata-mata kepentingan
mengawasi siang dan malamku. Aku memilih kehinaan ini untuk mengurangi
rajutan kehinaan yang hendak menemaniku karena hasrat ingin tahu
bagaimana rasanya hidup bersama politik kelak. Aku memilih digasak timah
panas politik, untuk menambah keyakinanku bahwa politik adalah
kesengsaraan bersama takwa, dan menjadi alat penindasan bersama
kemunafikan.
Jika pun takdir menuliskan percobaan
politikku ini hanya sampai di depan gerbang kekalahan, maka itulah
kemenanganku yang sebenarnya, karena politik meyakinkanku bahwa
kebencianku padanya mengabadi hingga masaku nanti.
Wahai
politik, jabatlah tanganku! Aku menantangmu. Aku ingin tahu, sejauh mana
kamu mampu memporak-porandakan hidupku. Aku ingin tahu, sejauh mana aku
bisa menahan gempuran kritikan mereka, yang disebabkan oleh ulahmu.
31 Juli 2013
=Ahmad Satriawan Hariadi=