Tak Kunjung Datang

Tak Kunjung Datang

Terkadang, semua ketidakpastian itu lebih baik daripada kepastian yang membuat kita terburu-buru, hingga akhirnya mengacaukan pencapaian. Namun sampai kapan keadaan menemaniku dengan ketidakpastian ini?

Bilamana kesal ini beranjak dari tempatnya? Berapa banyak sudah mimpi yang kugoreskan dalam doa dan tekad. Hanya saja kejenuhan ini terlalu kuat untuk ditaklukkan.

Apa yang tergapai selama ini hanyalah upaya untuk mempercepat kepastian eksistensimu, sayangku. Nyatanya kau masih saja diam dan betah dalam pertapaanmu. Masa penantianku akan sosokmu adalah kegelisahan jiwa yang terus mendorongku untuk terus menggerakkan tanganku menuliskan beberapa kata.

Untung saja idealisme yang bersemayam dalam jiwaku masih mampu menutupi gelora harapan itu agar tak tercium oleh mereka. Tetapi tahukah kamu, jika ruh tulisan-tulisan itu hanya menyebut namamu, sayangku.

Jika pun kamu masih ingin tetap di sana, tetaplah di sana. Semua akan baik-baik saja. Tekadku menyala. Semangatku terbakar. Aku pun kini berlari sekuat tenaga. Aku  hanya bisa berterima kasih kepadamu, karena telah menghujani aku dengan ide-ide. Tanganku tak akan letih menuliskan wahyu harapan ini.


Desember 2013

Ahmad Satriawan Hariadi

Cerita Terjalnya Keberjarakan

Haruskah perasaan ini mengubur pendengaran, hingga untuk mendengar cekikikan air, aku harus meminta Da Vinci melukiskan gemerciknya? Haruskah mata ini tak lagi membaca cahaya, hingga untuk mengerti isyaratmu, aku harus meminta gerimis malam menjelaskan maksudmu? Mengapa jalan menujumu begitu terjal, wahai Rabia?

Sungguh bukan kuasaku jika apa yang melekat pada diriku ini tak sempat membuatmu menoleh ke arahku beberapa detik saja. Ah! Rasanya aku ingin menari-nari di atas lembaran harapan agar kau bisa membacaku dengan ketulusanmu. Atau aku ingin menutup matamu agar kau tak sesak saat aku berada di dekatmu. Alangkah jauh keberjarakan ini!

Namun tahukah kamu, penantianku akan sosokmu lebih tegar dari bangunan usang yang kau lihat di negeri berjuta cerita ini. Akulah yang menjajal setiap kesempatan yang diberikan oleh kehidupan untuk membuat matamu lebih lama menatapku agar kata-kata yang tak kuasa terlafalkan ini bisa kau eja, meski terbata-bata.

Tetapi hingga kini kesempatan itu belum juga menampakkan bayangannya. Sedangkan perjalanan waktu yang sangat konsisten pada ritmenya mulai melayukan jasadku yang sebentar lagi usang dimakan zaman. Aku selalu bertanya kepada langit, mungkinkah suatu saat ketulusan bisa menjadi alasanmu untuk menyeka linang air mataku? Namun langit hanya diam. Ia terus saja diam dan diam.

Katakan padaku, apakah aku harus menggenggam dunia dulu untuk mendapatkan seutas senyumanmu? Atau aku harus kau injak-injak dulu agar bisa bernilai di matamu? Entahlah! Kaupun juga terdiam. Sama seperti langit. Lekaslah kemari jika kau telah menemukan ketulusan saat membaca hakikatku.


27 Oktober 2013

Kuliah Kehidupan dari Ammu Musa

Setelah ditemani kepenatan selama setengah jam lebih untuk menunggu, akhirnya “Bus 65 Merah” kelihatan juga batang hidungnya. Aku pun bergegas menapaki pintu bus bagian belakang. Gerah, sumpek, dan letih membias sebuah mimik yang masam dan acuh. Memang, karena aku baru saja selesai mengikuti kursus kaligrafi di kantor ICMI orsat Kairo, Rab’ah El Adawea, selama tiga jam lebih lamanya. Ditambah lagi dengan keadaan bus yang sesak oleh para penumpang yang berjejalan.
Petang itu seakan menjadi sebuah neraka bagiku. Dengan tenaga yang sayup-sayup, aku terus menerobos jejalan manusia tersebut untuk mendapatkan tempat berdiri yang agak nyaman hingga asramaku nanti, meskipun harus berdiri sepanjang perjalanan. Usahaku pun tidak sia-sia, sempoyongan tanganku menggapai tiang yang berada di balakang supir bus. Aku pun menyandarkan pundakku pada tiang tersebut, sembari mendulang napas agar tenagaku pulih kembali.
Tiba-tiba aku merasakan lenganku ditepuk-tepuk pelan. Kualihkan pandanganku ke belakang dan selenting suara menyambutku, “Izayyak ya ibni?” Bagaimana kabarmu anakku?
Ternyata pemilik suara itu adalah satu dari ammu-ammu (pekerja) yang bertugas menjaga dan membersihkan flatku di Madinah Buuts Islamiyah (Islamic Missions City), asrama resmi mahasiswa al-Azhar yang didesain seperti sebuah kota mini dengan 47 apartemen, terletak di kawasan Abbasea.
“Ehh.. Ammu! Alhamdulillah,” jawabku dengan terbalak sambil keheranan. “Enta izayyak?” Kamu bagaimana?
“Alhamdulillah,” ujarnya sambil tersenyum. “Kamu dari mana?”
“Dari kursus kaligrafi,” balasku. “Kalau Ammu sendiri baru dari mana?”
“Dari Tanta.”
Perasaanku mulai mencair tenang. Sekat-sekat yang membuat jiwa begitu sempit, tergerus dengan suasana hangat obrolan kami yang begitu santai dan hidup. Keluh kesah dan letihku tersapu oleh candaan dan cekikikan kami. Dimensi ruang dan waktu seakan berlepas diri dari kami untuk beberapa saat lamanya. Ammu itu bercerita kalau ia menghabiskan liburan akhir pekannya untuk berkumpul bersama sanak keluarganya di Tanta.
Meskipun sudah tiga tahun lebih aku melihat Ammu ini, aku sama sekali belum mengetahui namanya. Aku hanya akrab dengan sapaan khas orang Mesir ketika kami ketemu ataupun berpapasan di jalan; seperti sapaan “Izayyak?”, “Amil eh?”, dan lain-lain. Dengan usia yang sudah tidak muda lagi, ia tetap setia menjaga kebersihan flat kami. Padahal, kernyitan alis dan dahinya senantiasa mengingatkannya bahwa dia saa ini tak sekuat dulu lagi.
“Nama Ammu siapa sih?” aku memotong pembicaraannya yang panjang lebar. “Kita sering ketemu, tapi tidak saling mengenal.”
“Saya Musa,” jawabnya. “Kalau kamu, Nak?”
“Saya Ahmad.”
Aku lalu melanjutkan obrolanku dengan Ammu Musa. “Ammu sudah berapa lama sih bekerja di Buuts?”
“Lebih dari tiga puluh tahun, Nak,” ujarnya. “Saya bekerja di sana sejak tahun 1981.”
Wah! Tenyata ia sudah sangat lama bekerja di asrama yang dibangun pada tahun 1954, di bawah komando Grand Imam Abdurrahman Taj (1886-1973) tersebut. Asrama itu memang sudah lebih dari setengah abad itu secara resmi dibuka pada tahun 1959 oleh Presiden Gamal Abdel Nasser (1918-1970), didampingi oleh Grand Imam Mahmud Shaltut (1893-1963).
Ammu Musa tenyata sungguh setia menjaga para pelajar asing yang menimba ilmu di negeri Kinanah ini, begitu juga memelihara flat-flat di asrama tersebut. Aku pikir dia sudah sangat pengalaman terhadap tabiat mahasiswa dari berbagai belahan dunia, serta bagaimana bermualah dengan mereka. Bagaimana tidak, mahasiswa asing yang tinggal di Buuts berasal dari 105 negara, bahkan lebih. Sedangkan jumlah keseluruhan mereka berkisar antara 3500-4000 mahasiswa, mahasiswi dan pelajar.
Para pelajar asing di Buuts selama ini hanya bisa menikmati indahnya menimba imu di Mesir, tanpa sedikit pun memikirkan para Ammu yang melayani mereka dengan luar biasa. Fasilitasnya pun tak ada yang bisa menandinginya; sebut saja perpustakaan yang besar, tampat fitnes, gelanggang olahraga, taman-taman yang asri dan pepohonan yang teduh, asupan gizi yang tinggi, pelayanan antar-jemput kuliah, kuliah-kuliah umum dari ulama-ulama berkaliber, flat-flat yang nyaman, uang pesangon tiap bulan, dan masih banyak lagi.
Bisa anda bayangkan, betapa nikmatnya menjadi mahasiswa. Anda tinggal belajar dan belajar, tanpa harus memikirkan beban hidup. Namun nyatanya tetap saja, para Ammu itulah yang membuat Madinah Buuts menjadi surga dunia bagi para pelajar asing tersebut, sebelum mereka menapaki surga akhirat kelak.
Aku kembali melihat wajah Ammu Musa. Ada sebuah ketulusan yang membuat jiwanya acuh tak acuh dengan guratan-guratan keletihan itu. Rasa penasaranku terhadap sosoknya semakin membuncah.     
“Terus berapa umur Ammu sekarang?”
“Lima puluh delapan tahun.”
“Anak-anak Ammu?”
“Saya punya dua anak laki-laki dan tiga anak perempuan.”
“Lalu anak-anak Ammu pada sekolah di mana saja?”
“Yang paling besar, Muhammad, sudah lulus dari Fakultas Teknik, Universitas Tanta, dan sekarang bekerja di salah satu perusahaan minyak,” ceritanya penuh semangat. “Yang kedua, Amr, masih duduk tingkat akhir Fakultas Ekonomi. Sedangkan Amera, Su’ad dan Fatimah masing-masing duduk di bangku SMA, SMP dan SD.”
Subhanallah! Luar biasa sekali orang ini!
Aku hanya bisa terpaku dalam kekagumanku pada sosok pahlawan ini. Ammu Musa rela mengorbankan hari-harinya bersama keluarga demi pendidikan anak-anaknya. Aku bisa memastikan bahwa sumber penghasilan Ammu Musa untuk menafkahi keluarganya hanya dari Buuts. Bagaimana tidak, dia hanya menghabiskan waktu selama enam hari penuh untuk bekerja dari pagi hingga pagi lagi.
Alur kehidupan yang telah Tuhan desain memang sangat logis dan teratur. Ada satu hukum yang menjadi konstitusi dasar para makhluk dalam menjalani kehidupan mereka. Tidak lain hukum tersebut adalah hukum kausalitas, atau sunnatullah dalam bahasa Aquran. Sehingga, setiap mereka hendak melakukan sesuatu, mereka harus memperhatikan betul hukum sebab-akibat, sebab al-jaza’ min jinsi al-ʻamal, besar balasan itu tergantung perbuatan.
Nabi pun diperintah untuk berpegang teguh dengan sunnatullah dalam keadaan bagaimanapun, bahkan saat beribadah. Jika anda tidak percaya, silakan cermati bagaimana Allah memerintahkan Nabi dan kaum muslimin—saat berperang—untuk senantiasa berikhtiar semaksimal mungkin agar kemenangan bisa direngkuh.
Allah berseru kepada Nabi agar tidak lengah sedikitpun, meskipun sedang menunaikan salat [4:102]: “Dan kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang salat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus.”
Dengan demikian, tidak sepatutnya seorang musli m untuk putus asa karena sempitnya penghidupan dan beratnya ujian kehidupan. Sebab agamanya menyuruhnya untuk bekerja dan bekerja [9:105], bukan menjadi sosok yang kumal dan pemalas, atau hanya sibuk beribadah saja tanpa bekerja. Dia pun sangat percaya dan  yakin, siapa yang menanam dia akan mengetam.
Aku melihat hal ini telah disadari betul oleh Ammu Musa. Sehingga dia percaya, kalau kegigihannya dalam mengais rezeki Allah untuk menafkahi keluarganya, akan selalu tercatat sebagai amal ibadah dan ketaatan tehadap perintah Allah. Dia juga yakin, kalau dia hanya berleha-leha dan bermalas-malasan, maka kehidupan keluarganya bakal terlantar dan semrawut, pendidikan anak-anaknya pun akan tersengguk-sengguk tak karuan.
Aku pun ingin tahu, bagaimana ia menafkahi keluarganya, menyekolahkan anak-anaknya, dan memenuhi kebutuhan rumah tangganya.
“Untuk biaya hidup keluarga dan pendidikan anak-anak Ammu bagaimana?”
Dia terkekeh-kekeh.
Kok ketawa sih?!
Aku penasaran. Apa yang menyebabkan Ammu Musa tertawa lepas untuk beberapa saat lamanya? Aku yakin, tidak ada yang lucu dari pertanyaanku itu. Tiba-tiba dia mengarahkan tangan kanannya ke pundakku.
“Nak! Allah yang telah mencukupi semuanya,” ujarnya. “Aku hanya berusaha dan bekerja semampuku…”
Subhanallah! Tawakal macam apa ini?! Sungguh luar biasa! Aku terkagum-kagum.
Ammu Musa lalu menceritakan panjang lebar perihal biaya hidup dan pendidikan anak-anaknya. Benar dugaanku sebelumnya, kalau dia honornya di Buuts merupakan satu-satunya sumber pemasukan keluarga dari dirinya. Aku pun berpikir, kalau hanya buuts saja sembernya, maka bisa dipastikan tidak akan mencukupi. “Iya.. Istriku juga membantu kebutuhan kami dengan mendirikan kios di pinggir jalan,” katanya.
“Salah satu kelebihan istriku adalah kelihaiannya mengatur keuangan keluarga,” lanjut Ammu Musa. “Itulah yang membuatku tenang dan nyaman bekerja di Buuts, meskipun honornya tidak seberapa.
Aku selalu menanamkan di dalam jiwa anak-anakku untuk selalu merasa cukup, bagaimana pun kondisinya. Sebab, siapa yang merasa cukup, Allah akan mencukupinya. Istriku senantiasa mengingatkanku untuk tetap ikhlas bekerja di Buuts, agar mendapatkan barakah Al-Azhar, sumber ilmu dan ulama.
Memang, aku pernah mendapati kesulitan untuk membiayai Muhammad, saat ia masih duduk di bangku perkuliahan dulu. Aku harus meminjam uang di sana-sini. Tapi alhamdulillah, dia sekarang sudah bisa membantu kami membiayai pendidikan adik-adiknya.”
Aku hanya bisa berkaca-kaca dengan keteguhan dan ketegaran orang yang berada di depanku ini. Tiba-tiba aku mendengar teriakan.
“Elley ʻauz Buuts!”Yang mau turun di Buuts!
Tidak terasa, akhirnya kami tiba juga di Buuts. Akhirnya kami kembali juga ke dimensi kehidupan. Aku merasa baru saja mendapatkan kuliah kehidupan. Bagaimana konsistensi seorang hamba untuk berusaha dalam mengambil sebab keberhasilan, bagaimana sempurnanya keyakinan bahwa Allah sama sekali tidak akan menyia-nyiakannya sedikitpun.
Muhammad, katakan kepada manusia!
Yang sibuk mengubur hidupnya
Antara benalu-benalu kesenangan
Pun mereka yang membumi lemah
Atau terperosok di kawah ketakutan
Sekali lagi katakan wahai Muhammad!
Kepada mereka yang menunggu kematian
Juga yang tak kuasa membuka mata
“Bekerjalah! Bekerjalah wahai manusia!
Bekerjalah karena Tuhan!
Karena mengharap rida Tuhan
Bekerjalah untuk kebaikanmu sendiri!
Jangan diam dan mengeluh saja!
Tuhanmu akan melihatnya
Muhammad akan melihatnya
Seluruh manusia akan melihatnya.”


Islamic Missions City, 14 April 2013

Antara Pembunuhan Karakter dan Pengkultusan

Sebagai insan akademis, seharusnya kita membangun nalar kepekaan dan kekritisan di atas istiqra yang menyeluruh dan jauh dari tendensi personal. Bukan sebaliknya. Dengan begitu, kita akan keluar dengan analisis yang tajam dan kesimpulan yang objektif, namun tetap menjunjung tinggi norma dan perinsip agung Islam, yang mengedepankan kelapangan dada, menghargai perbedaan perndapat, dan tanpa mendiskreditkan mereka yang tidak sepaham dengan kita.

Namun karena terlalu berambisi untuk meyakinkan manusia bahwa pendapat kita-lah yang paling benar, kita seringkali mengabaikan fondasi istiqra yang menyeluruh. Akibatnya, orang yang berbeda pendapat dengan kita pun menjadi korban dari duri lidah dan racun tulisan kita.

Lihatlah analisis tendensius saudara-saudara kita terhadap mauqif Syaikh Ahmad Tayyib! Tulisan-tulisan mereka terus mendiskreditkan Grand Syaikh kita tersebut. Nalar-nalar kritis yang menjadi mahkota seorang insan akademis, tergerus oleh api kemarahan yang membuat mereka mencukupkan diri dengan mauqif beliau saat pemakzulan Presiden Mursi, dan tidak mau lagi mendengar atau mengikuti mauqif-mauqif beliau setelah itu.

Akibatnya, kekritisan saudara-saudara kita tersebut sudah kehilangan makna dan implementasinya di dalam perkataan maupun tulisan mereka. Lebih parahnya lagi, mereka melakukan barbagai macam upaya untuk melegitimasi analisis tendensius mereka yang menghilangkan respek saudara-saudara mereka sesama insan akademis.

Logika pengalaman yang menjadi bahan pertimbangan dalam kehidupan akademis adalah "la ya'rifu qadra rajulin illa rajulun mitsluh", yang berarti tidak akan tahu kadar keilmuan seseorang kecuali orang yang semisal dengannya. Dengan mantik seperti inilah kita harus tahu, mengapa para ulama atau pemikir seperti Syaikh Hasan Syafii, Dr. Muhammad Imarah, Fahmi Huwaidi, Dr. Muhammad Salim al-Awwa, Dr. Muhammad Mukhtar al-Mahdi, Syaikh Muhammad Isa al-Maasarawi dan lain-lain; tetap menaruh respek yang besar terhadap Syaikh Ahmad Tayyib, meskipun mereka berbeda pendapat dengan beliau.

Dengan mantik seperti itu pula kita harusnya berkaca diri dengan para ulama itu, bukan hanya mengambil pendapat mereka yang menolak kudeta ini, lalu mengabaikan kesantunan dan kelapangan dada mereka terhadap Grand Syaikh. Sehingga menyebabkan ketimpangan yang begitu signifikan dalam kepribadian dan keilmuan kita. Kita menganggap diri berilmu karena belajar di perguruan tinggi Islam ternama, namun realisasi keilmuan dan wawasan keazharan, yang mengedepankan kematangan akal dan pikiran, kerendahan hati, kesantunan, dan kelapangan dada dalam perbedaan; sama sekali nol dan tidak bisa diharapkan sedikitpun.

Pengkultusan Al-Azhar dan Grand Syaikh
Saya tidak heran dengan reaksi yang ditunjukkan oleh saudara-saudara saya yang begitu mencintai Al-azhar dan Grand Syaikhnya; saat melihat Al-Azhar dan Grand Syaikhnya didiskreditkan hingga melampaui titik naluri kewajaran. Lebih anehnya, yang melakukan penghinaan dan pembunuhan karakter ini adalah saudara-saudara saya sesama penimba ilmu di Al-Azhar. Kita tentunya sangat menyayangkan, ada sekelompok mahasiswa Al-Azhar yang meludah di piring tempat mereka makan.  

Reaksi tersebut merupakan akibat yang tak terelakkan dari pembunuhan karakter Syaikh Al-Azhar yang mereka gembor-gemborkan lewat beberapa media. Bahkan kemarahan saudara-saudara saya yang begitu mencintai Grand Syaikh semakin tersulut saat media partai politik di Indonesia memasang karikatur Grand Syaikh --yang mengenakan seragam resmi tentara Mesir dengan serban azhari sebagai penutup kepalanya-- pada artikel pendek yang ditulis oleh seorang mahasiswa Al-Azhar, meskipun kini sudah diganti dengan foto Raja Abdullah dan Jenderal Al-Sisi. 

Namun yang membuat kita semua gigit jari adalah ketika karikatur Grand Syaikh diletakkan  pada artikel yang tidak menyebutkan secuil pun nama Grand Syaikh. Oke, paragraf pertama sampai ketiga memang mengulas permasalahan fatwa yang mungkin bisa mengaitkan Grand Syaikh. Akan tetapi, analisis dangkal dan pengabaian istiqra yang menyeluruh pada tulisan anda, tidak akan mungkin mengantarkan anda pada hakikat, dan justru meyakinkan kami kalau analisis tendensius anda semata-mata untuk mengokohkan kepentingan politik dan golongan anda sendiri.

Sekali lagi saya tidak heran dengan pembelaan mati-matian para pecinta Grand Syaikh yang terlihat sampai pada tahap pengkultusan. Bahkan pembelaan tersebut memunculkan paradigma baru bahwa Al-Azhar adalah hakikat yang menjadi lumbung kebenaran. Menyalahi Al-Azhar dan Grand Syaikhnya adalah menyalahi kebenaran. Apapun mauqif Grand Syaikh adalah kebenaran yang wajib didukung. Begitu seterusnya.

Saya melihat betapa perlunya kita membaca Al-Azhar dari awal samapi akhir. Mengapa demikian? Karena paradigma destruktif yang demikian hanya akan mengubah orientasi Al-Azhar dan menebalkan awan kelam kemunduran Al-Azhar itu sendiri. Dengan membaca Al-Azhar, kita akan tahu betapa humanisnya Al-Azhar dan para ulamanya, sehingga kita pun menatap Al-Azhar dan ulamanya dengan tatapan yang humanis, mantiki, dan penuh respek.

Kita, para azhari, setelah mendapatkan pengajaran dari para dosen dan masyayikh di kampus maupun di Masjid Al-Azhar, tentunya sangat memahami paradigma seorang mujtahid/alim. Kerangka berpikir seorang mujtahid adalah keyakinan bahwa kebenaran pendapat kita itu mengandung kesalahan; dan keyakinan bahwa kesalahan pendapat orang lain itu mengandung kebenaran. 

Dengan demikian, tidak ada alasan yang rasional untuk sebuah pengkultusan, baik Al-Azhar itu sendiri maupun Grand Syaikhnya. Al-Azhar pun --di dalam pandangan kita-- tetap menjadi rujukan ilmu-ilmu keislaman (marji'iyah ilmiyah), bukan menjadi rujukan Islam itu sendiri (marji'iyah diniyah). Sebab, yang menjadi rujukan Islam adalah Allah dan Nabi Muhammad, bukan Al-Azhar, bukan Grand Syaikh, bukan Mufti, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, kita kembali menegaskan bahwa bagaimanapun juga, Grand Syaikh tetap seorang manusia, yang memegang teguh identitas dan tabiat menusia itu sendiri. Kita, selaku anak-anak asuh beliau, harus tetap menatap beliau dengan tatapan hormat dan humanis. Jika hari ini kita mungkin sepakat dengan beliau, maka boleh jadi besok atau lusa kita bisa saja berbeda pendapat dengan beliau. Namun tetap saja, kita harus menghargai dan menghormati beliau, bukan mendiskreditkan dan membunuh karakter beliau.

Grand Syaikh tentunya sangat mengharapkan anak didiknya kritis dan peka dengan pekerti azhari. Saya pun berani menjamin, kalau Grand Syaikh tidak akan rida kalau anak didiknya seperti keledai yang membawa tumpukan buku bermanfaat, namun tidak tahu apa yang dibawanya, apalagi untuk memahami lalu mengamalkan.[]


Saqr Quraish, 30 Agustus 2013

Air Kita

lihatlah air kita ini!
kau dan aku bermula dari sini
dalam dekapnya kita terlelap tenang
lalu saat pagi kita berenang ria
menyuarakan cekikikan harapan
semoga tawa ini tiada akhir

kini matahari sudah tergelincir
kita tak lagi seperti dulu
aku menemukan diriku
kamu menemukan dirimu
langkah kita kini berkepentingan
tak ada lagi budaya cuma-cuma

tapi tahukah kamu?
air kita tetap saja seperti sediakala
memberi kita napas kehidupan
menawarkan untaian mimpi
menghilangkan sekat kegelisahan

kini kita terkuasai hasrat kekuasaan
aku ingin terdepan di hati manusia
begitu juga kamu
air kita pun terkena imbas
kita ingin menguasainya sendiri-sendiri
air kita pun berkeruh darah kita
demi air, kita saling makan
aku bersimbah darah
kamu terkulai lemas
aku menangis
kamu tersedu
air kita tertelap
sesal selamanya


Ahmad Satriawan Hariadi
Bawwabah, 14 Agustus 2013
Saat pembantaian manusia menjadi-jadi di Nahdhah dan Rab’ah

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India