Layakkah Menjadi Alumni Al-Azhar?
Perubahan adalah tabiat kehidupan. Dengan kata lain, alam semesta beserta isinya ini tidak mengenal kata diam.
Risalah Perempuan
Perempuan. Iya, makhluk itu bernama perempuan. Keberadaannya adalah keseimbangan kehidupan. Jika kafilah kehidupan itu seperti burung, maka burung itu tidak akan pernah beranjak dari tempatnya, jika hanya mempunyai satu sayap. Begitu pula dengan kehidupan. Perempuan dan laki-laki adalah sepasang sayap yang membuat burung kehidupan bisa berterbangan membelai alam raya dalam keseimbangan dan ketenangan.
هذا الذي نريده من الطلبة الإندونيسيين
للحياة آمال لا تعد، وتزداد بغِيَر الدهر، حتى لكثرتها تُنسى وتفوت، والناس نوعان؛ فمنهم من في الحياة متيقّظ ومنهم نائم. فأما المتيقظ فسرعان ما يسلك المسلك الذي خططه لنفسه ليكون ما يشاء في الحال والمستقبل، ويبذل في نيل المطالب جهدَه إلى حدّ ما، وأرواح المتفائل ممتزجة في حركاته وسكناته، فتطمئن قلبه، ويستقر ضميره، متوكلا على الله جل شأنه. وأما النائم فهو عن حياته متجاهل، فلا يبالي بما له ومن حوله، وهو في الحقيقة ميّت بَيْدَ أن نفسه حيّة تسعى، وآماله تزداد طولا غير أنه باق على حاله كالماء الراكد، وهكذا
Memusuhi 'Diam'
Taha Hussein, Pemilik Uslub yang Menakjubkan
Namun setelah membaca al-Syaikhan, Jannah al-Syauk, al-Ayyam, makalah-makalah Taha Hussein yg dimuat di Majalah Al-Azhar, dan buku-buku dia yang lainnya; saya percaya kalau statemen el-Gindy terlalu dipaksakan, alias tidak dibangun di atas istiqra yang menyeluruh.
Itu semua karena perhatian el-Gindy, saat membangun statemennya, terlalu tertuju pada buku Fi al-Syi'ri al-Jahily, Mustaqbal al-Tsaqafah, dan al-Wa'du al-Haqq milik Taha Hussein. Apalagi jika kita mencermati kebiasaan para penulis Arab dalam mendiskreditkan orang yang tidak sepaham dengannya; pada ujung-ujungnya semakin membuat kita yakin kalau pendapat el-Gindy jauh dari kata 'inshaf'.
Saya lebih setuju dengan pendapatnya Dr. Muhammad Imarah, yang mengatakan bahwa Taha Hussein mengalami tiga fase pemikiran di dalam hidupnya, di mana pada fase terakhir ia mengakui kekeliruan-kekeliruannya yang dulu.
Pada fase inilah akhirnya ia secara lantang menyatakan bahwa Islam adalah agama (din) dan negara (daulah). Setelah sebelumnya ia mengakui, bahwa ia ikut serta bersama Syaikh Ali Abdul Raziq dalam mengarang buku "al-Islam wa Ushul al-Hukm", salah satu karya seorang azhary yang membakar api perdebatan di kalangan ulama maupun pemikir Mesir pada dekade 20-an. Begitu juga dengan pemikiran-pemikiran menyimpang Taha Hussein yang lainnya.
Namun saya cenderung tidak peduli dengan semua itu. Sebagai penikmat sastra, perhatiaan saya lebih tertuju pada gaya bahasa Taha Hussein yang menakjubkan. Menurut para kritikus, uslubnya seakan-akan diciptakan untuk dirinya seorang. Sedangkan orang lain hanya menikmati, namun tak kuasa menirunya.
Ketika dosen saya, Prof. Dr. Mustafa al-Qadhy, memberikan mata kuliah "Sastra Arab Modern" terkait uslubnya Taha Hussein, ada teman mahasiswa yang bertanya, "Kenapa harus Taha Hussein? Bukankah dia begini dan begitu?"
Sang dosen pun tersenyum sambil mengisyaratkan tangannya agar si penanya tetap tenang dan sabar. Ia sembari mengatakan, "Wahai anakku, tahukah kamu apa itu 'inshaf'?! Sungguh setiap orang mempunyai kebaikan dan kesalahan. Ketika seseorang misalnya mempunyai kebaikan sebesar 70% dan kekeliruan sebesar 30%, apakah yang 30% ini akan menghilangkan yang 70%?! Haihat! Tidak mungkin! Oleh karena itu, inilah makna moderatisme (wasathiyah) yang diajarkan al-Azhar, yaitu terbuka untuk mengambil mana yang baik, dan meninggalkan mana yang tidak baik."
Saya teringat kalau rujukan sastra di al-Azhar alm. Prof. Dr. Muhammad Abdul Mun'im Khafaji (1915-2006), pernah mengkaji uslubnya Taha Hussein secara detail di dalam buku "al-Adab al-Araby al-Hadits", jilid empat. Ia mengatakan, "Musikalitas dan arsitektur uslubnya yang seimbang, adalah dua hal yang paling menonjol dari gaya bahasa Taha Hussein."
Kemudian bagi anda yang ingin menjajali keindahan uslubnya, lihatlah bagaimana ketika Taha Hussein berbicara tentang hal yang mainstream --semisal kisah Umar bin Khattab pada 'Tahun Kebinasaan' (18H)-- dapat menjadi gambaran terkait apa yang saya katakan sebelumnya.
Dalam hal ini, anda akan mendapati bagaimana hal yang sudah sangat mainstream, menjadi begitu memukau dan terasa begitu spesial, setelah mendapat sentuhan uslub Taha Hussein.
Oleh karena itu tak heran mengapa Mustafa Sadiq al-Rafi'i, sastrawan yang pernah menjadi musuhnya, menganalogikan Taha Hussein itu sebagai salesman profesional, yang dengan kemampuannya bisa membuat barang yang biasa-biasa saja, menjadi 'wah' dan menakjubkan di mata pembeli.
Islamic Mission City, 13 Juni 2014
Ahmad Satriawan Hariadi
Menanti Mesir Baru di Bawah al-Sisi
Mencari Muka
Dikisahkan bahwa seorang murid yang masih belia pernah bertanya kepada gurunya, "Tidakkah kau lihat orang itu.. Dulu ia sangat anti dengan yang namanya mencari muka. Lalu sekarang, saat ia makin uzur, ia semakin gemar mencari muka?"
Sang Guru pun menjawab, "Karena ia dulu dengan leluasa mengandalkan kekuatannya saat masih muda. Lalu manakala ia sudah uzur dan kekuatannya berangsur-angsur hilang, ia menggunakan 'mencari muka' sebagai tongkat, agar ia tetap kuasa berjalan."
Kini tidak ada yang perlu diherankan dari sikap para tetua itu. Karena itu sudah lazim bagi mereka.
Akan tetapi yang perlu dipertanyakan adalah mereka, para pemuda, yang sedang berada di puncak kekuatannya; sangat gemar mencari muka. Ada apa ini? Apakah jiwa dan semangat kita sudah menua, seperti para tetua itu? Ataukah kita memang benar-benar sudah tua, karena otak kita yang sudah kering dari air pengetahuan, alias tidak kuasa lagi untuk didayagunakan?
Semoga saja tidak!
22 Mei 2014
Ahmad Satriawan Hariadi



Ahmad Satriawan Hariadi

