Jalinan Kedunguan

Katakan padaku!
Katakan juga pada mereka!
Apakah jalinan ini hanya menyisakan kedunguan?
Iya, kedunguan atas nama pengorbanan
Kedunguan berjubah kesetian
Kedunguan dalam kemunafikan

Setelah senja itu
Aku tak lagi melihat jarak
Aku tak lagi mendapati kejujuran
Aku tak lagi merasakan ketulusan
Aku tak lagi mengecap kerinduan

Dan kini!
Saat kita larut dalam keambiguan
Saat kita pupus bersama khayal kosong
Kita semakin jauh dari kewarasan
Kita semakin tertipu

Ah, mengapa kita tak cukupkan saja?
Agar tak ada lagi semua itu
Aga tak ada lagi kau dan aku


Musim dingin yang penuh dengan kedunguan
Islamic Missions City, 5 Desember 2014

Ahmad Satriawan Hariadi  

[Masih] Tentang Perempuan

Ketika seseorang memiliki kedalaman pemikiran dan segudang pengalaman, ia pada akhirnya akan sadar bahwa ia tidak ada apa-apanya di hadapan perempuan. Perempuan memang lemah. Namun sadarkah anda bahwa itulah satu-satunya senjata perempuan yang paling ampuh untuk membuat laki-laki bersimpuh padu di hadapannya, tunduk patuh terhadap perintahnya.

Kemudian akan lain ceritanya ketika kelemahan itu tercabut dari jati diri perempuan. Iya, konstelasi kehidupan laki-laki dan perempuan tak lagi seperti sediakala. Kesalingan yang dulu ada antara keduanya kini berubah menjadi persaingan. Perhatian dan belas kasih berubah menjadi ketidakpedulian dan kebencian. Perempuan tak bisa lagi bermanja-manjaan atau tersedu-sedu agar mendapat perhatian dari kaum laki-laki. Semuanya berubah. 

Inilah senjata aneh yang pernah dimiliki makhluk Tuhan di atas muka bumi ini. Namun lucunya kebanyakan --bahkan semua-- perempuan tidak suka dikatai sebagai ‘makhluk lemah’. Kaum perempuan akan sangat girang jika mereka disebut makhluk kuat. Padahal, jika mereka benar-benar kuat dalam arti yang sebenarnya, sudah tentu tak ada lagi mata-laki-laki yang tertuju padanya.

***

Jika kita ingin memberikan perumpamaan, maka perumpamaan yang paling tepat untuk perempuan adalah seperti gunung. Iya, gunung akan indah menawan jika anda menatapnya dari kejauhan. Namun ketika anda mencoba mendekatinya, maka keindahan tersebut akan lenyap sedikit-demi sedikit, untuk digantikan oleh ribuan pertanyaan yang menjadi misteri. Bahkan ketika anda sudah berada di lembah gunung tersebut, bisa dipastikan kalau anda sudah tak mampu lagi dunia sebagaimana sebelumnya.

Dari pemaparan di atas, saya tidak peduli apakah anda bisa menangkap apa yang saya maksud atau tidak. Yang jelas, saya hanya ingin menegaskan bahwa, jika seorang laki-laki ingin agar perempuan itu tetap cantik di matanya, hendaklah ia menjaga jarak darinya. Janganlah sekali-kali anda mencoba mendekatinya, sebab mendekatinya adalah sebuah kecerobohan terbesar di dalam hidup.

Anda tentu bisa membayangkan bagaimana rasanya tersesat di dalam hutan lebat yang sinar matahari pun tak mampu menerobos masuk ke dalamnya. Jika pun ia bisa keluar dari hutan tersebut, maka sudah tentu butuh tenaga dan masa yang tidak sedikit untuk itu. Lalu akan besar kemungkinannya jika anda bakal tetap terpasung di dalam hutan tersebut untuk selama-lamanya.


Hay Sabi, 17 Oktober 2014

Ahmad Satriawan Hariadi

Sekilas Muhammad Farid Wajdi


Si tamu begitu terheran-heran melihat tuan rumah selalu berdiri --sebagaimana ia menyambut tamunya-- setiap kali pembantunya masuk ke ruang kerjanya.
“Kenapa Anda harus repot-repot berdiri untuk pembantu Anda?” tanya si tamu.
Tahukah Anda apa jawaban si tuan rumah? Ya. Dia tak menjawab pertanyaan si tamu, tapi malah balik bertanya, “Lalu apa bedanya pembantu saya dengan para tamu saya yang lain?!”
Akhirnya si tamu berkata kepada dirinya sendiri, “Aku seperti melihat Nabi pada akhlak orang ini.”
Dari kisah di atas, saya mencoba merenungi mengapa si tamu mengatakan bahwa ia seperti melihat Nabi pada akhlak si tuan rumah. Beberapa saat kemudian, saya baru menyadari bahwa seseorang, sebelum ia menjadi diri dia saat ini --apakah itu dokter, guru, filsuf, pilot, entrepreneur, presiden, rakyat jelata, pembantu rumah tangga--; sebelum ia menjadi itu semua adalah seorang manusia.
Ya. Manusia yang telah dimuliakan oleh Allah jauh sebelum ia dilahirkan. Manusia yang harus dihormati dan dihargai, tanpa peduli jabatan dan strata sosialnya, tanpa peduli keyakinan dan kepercayaannya.
Saya pun teringat bahwa Nabi Muhammad pernah berdiri memberikan penghormatan kepada jenazah yang lewat di depannya. Manakala beliau diberi tahu kalau jenazah yang barusan lewat di depannya adalah seorang Yahudi, Nabi lantas berkata, “Bukankah dia adalah seorang manusia?!”
Tahukah Anda siapa si tuan rumah tersebut? Dialah Muhammad Farid Wajdi (1878-1954), sosok langka seorang muslim yang pernah dilahirkan di era modern ini. Sosok unik yang jarang sekali kita temukan tandingannya. Sosok yang menyelamatkan muka kaum muslimin di hadapan para orientalis saat ia menyaingi mereka dengan mengarang sepuluh jilid “Ensiklopedi Islam Abad 20” seorang diri selama sepuluh tahun.
Ensiklopedi yang seharusnya dikerjakan oleh puluhan ulama dan pemikir menurut kapasitas dan keahlian mereka, sebagaimana Ensiklopedi Islam yang ditulis para orientalis dalam kurun waktu puluhan tahun; namun oleh Farid Wajdi dikerjakan seorang diri hanya dalam tempo sepuluh tahun saja.
Lihatlah betapa dalam dan betapa luasnya pengetahuan tokoh ini! Apalagi jika kita menyadari kalau Farid Wajdi hanyalah lulusan SMP.

Cairo, 3 November 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Gegabah dalam Kehidupan Ilmiah (!)

Tidak ada yang lebih disayangkan dari kehidupan ilmiah seseorang, selain ketika ia terjebak di dalam kungkungan, yang menyebabkan ia tidak kuasa untuk menilik pendapat-pendapat yang lain, lalu melakukan komparasi antara pendapat-pendapat yang berseberangan, hingga akhirnya keluar dengan kesimpulan yang adil dan objektif.

Namun apa daya, orang-orang semacam ini hanya melihat satu pendapat (atau jika ia lebih terbuka sedikit, maka hanya terfokus pada satu pendapat di antara pendapat-pendapat yang ada di depannya); sehingga tanpa berpikir panjang, ia dengan begitu tergesanya menjustifikasi, lalu mendiskreditkan, bahkan jika perlu mengkafirkan.

Penyakit semacam ini biasanya mewabah dikalangan para pemula, karena naluri ketergesaan yang didorong oleh semangat yang berapi-api. Atau bisa juga mewabah di kalangan para tetua, karena naluri fanatis yang berawal dari akal yang stagnan dan mata yang tertutup. Atas dasar inilah mengapa kita seringkali mendapati beberapa pelajar yang masih ‘ingusan’, dengan mudahnya mendiskreditkan orang-orang besar dari para ulama maupun pemikir.

Di antara ulama dan pemikir yang seenaknya didiskreditkan oleh orang di atas adalah Sayyid Jamaluddin Al-Afghany dan Syeikh Muhammad Abduh. Kita harus akui bahwa ada beberapa ‘ketimpangan’ yang membuat kita bertanya-tanya atau bahkan gigit jari, di dalam kehidupan ilmiah, sosial, dan politik mereka berdua.

Dan ketimpangan semacam ini di dalam kehidupan orang-orang besar dari para ulama maupun pemikir; merupakan hal yang yang lumrah. Sehingga --mengutip perkataan Dr. Muhammad Ramadan Al-Buty ketika membuka pembahasannya mengenai Sayyid Jamaluddin Al-Afghany-- akan jarang kita temukan sosok yang aktivitasnya melintasi sebuah negara dengan karakter pergerakannya yang bertaraf internasional; yang tidak lepas dari beberapa ‘ketimpangan’ di dalam perjalanan hidupnya.

Namun apakah ketimpangan ini akan membuat kita menutup mata terhadap hal-hal besar yang mereka persembahkan untuk agama dan umat? Apakah ketimpangan ini akan membuat kita memandang rendah mereka? Apakah ketimpangan ini akan membuat kita yang masih ‘ingusan’ dan ‘kerdil’ ini merasa sejajar dengan mereka? Apakah sikap kritis seorang ulama terhadap mereka bisa melegitimasi kita untuk merendahkan mereka?

Jika orang di atas mencoba untuk lebih teliti dan lebih sabar terhadap dirinya sendiri, ia akan mendapati Syeikh Al-Buty di dalam buku “Syakhsiyat Istauqafatni”, mengajarinya bagaimana sikap kritis, namun senantiasa menjaga adab, bagaimanapun rupa atau bentuk ketimpangan yang ia dapati, saat membaca perjalanan hidup para pemikir maupun ulama.

Namun sebagaimana karakter para pemula, yang baru membaca beberapa buku, lalu merasa sudah di atas angin; kata-kata orang di atas mengisyaratkan bahwa ia seakan lebih alim, lebih fakih, dan lebih kritis dari Sayyid Jamaluddin Al-Afghany, Syeikh Muhammad Abduh, dan Dr. Muhammad Imarah.

Bahkan jika orang di atas lebih kritis lagi dengan tidak terpaku pada satu sumber, ia tentu akan meragukan perkataan Dr. Al-Buty ketika menjelaskan bahwa Syeikh Muhammad Abduh tidak lagi berada pada ‘rel kebenaran’ setelah beliau berguru pada Al-Afghany, sembari terheran, bagaimana mungkin kita membela orang yang suratnya kepada Al-Afghany penuh dengan ‘kekufuran’.

Mengapa?

Karena semua buku-buku Syeikh Muhammad Abduh yang terkenal dan diakui validitas berikut kualitasnya, semisal Risalah Tauhid, Tafsir Juz Amma, dan Al-Islam wan Nasraniyah; ditulis setelah beliau pulang dari pengasingan. Karena Syeikh Muhammad Abduh benar-benar memulai kehidupan ilmiahnya dalam menelurkan semua karyanya dan mendidik murid-murid yang nantinya bakal menjadi para Pemimpin dan Grand Syeikh (seperti Saad Zaghlul, Syeikh al-Maraghy dan Syeikh Mustafa Abdul Raziq) dan melakukan reformasi multidimensional di Al-Azhar; setelah beliau kembali dari pengasingan.

Artinya apa? Kita seyogianya tak langsung membenarkan begitu saja, ketika Syeikh Al-Buty mengatakan demikian, meskipun kita tetap yakin bahwa ketimpangan-ketimpangan --seperti beberapa fatwa ataupun surat-surat beliau kepada Al-Afghany, sebagaimana dicontohkan Dr. Al-Buty-- akan selalu ada di dalam perjalanan hidup Syeikh Muhammad Abduh.

Apalagi jika kita tahu, kalau faktanya Syaikh Muhammad Abduh belum pernah berfatwa ataupun menulis buku, sebelum bertemu dengan al-Afghany. Jika adanya demikian, bagaimana mungkin kita bisa menjustifikasi bahwa fatwa dan tulisan Syeikh Muhammad Abduh sebelum bertemu dengan Al-Afghany seluruhnya benar, atau berada di atas rel kebenaran; sementara instrumen untuk menjustifikasi tidak ada?!

Lalu kita akan dibuat terheran dan tidak habis pikir oleh orang di atas, saat dengan santainya mengatakan, “Dr. Muhammad Imarah sudah mencoba mengadakan pembelaan terhadap Jamaluddin Al-Afghany di dalam kitabnya tentang Al-Afghany. Hanya saja, menurut saya, pembelaan itu hanya tafalsuf belaka.”

Mengapa? Karena dari pemaparannya saja, kita berani berkesimpulan kalau orang tersebut belum pernah membaca buku Dr. Imarah yang ia maksudkan. Dengan kata lain, ia mendengar tentang buku ini dari orang lain. Jikapun ia pernah membacanya, maka bisa dipastikan bahwa ketika ia membaca buku ini, akal dan pikirannya entah kemana, sehingga tidak sanggup meraba titik jangkau kenapa buku ini ditulis.

Jikapun ia pernah membacanya, tentu ia akan bisa membedakan antara tahqiq (penelitian) dan tafalsuf (berfilsafat), saat Dr. Imarah menghabiskan 29 halaman untuk melakukan tahqiq terhadap asal usul Al-Afghany dari 80 halaman yang dikhusukan untuk Bitaqah Hayah. Jikapun ia pernah membacanya, ia tidak akan begitu saja mengatakan Dr. Imarah sudah mencoba mengadakan pembelaan. Mengapa? Karena tujuan buku ini ditulis adalah untuk memaparkan ide dan gagasan reformis Al-Afghany, berikut beberapa pengalaman Al-Afghany di dalam pergerakan politiknya. []


Hay Sabie, 10 Oktober 2014
Ahmad Satriawan Hariadi

Cerita Kebersamaan

Cerita itu bermula dari halte tua
di alun-alun yang kini ringkih tak terurus
Ingatkah kamu perahu lusuh
yang kemudian kita naiki bersama?
Menyisir gemercik ketenangan sungai Nil saat senjakala
Mengisi untaian detik dengan kelakar-kelakar ringan
hingga akhirnya kita menyadari
bahwa yang berinteraksi bukan hanya tatapan kita,
bukan hanya napas kita,
bukan hanya raga kita.

Lihatlah!
Lihatlah jiwa kita yang kini mulai saling memahami!
Lihatlah makna-makna yang dipancarkan aura kita ini
mulai berbicara dalam diam,
mulai berbisik dalam harap,
mulai bersimpuh dalam doa!

Lihatlah ruh kita mulai berlepas
dari jasad kita yang kaku,
lalu berterbangan di langit ketulusan
lalu ikut berlarian bersama awan pengorbanan!

Lihatlah bagaimana kata-kata begitu iri dengan kita berdua
karena tak kuasa
melukiskan suasana langit yang menyelimuti kita ini!

Biarlah jiwa kita yang berbicara,
memahamkan kita bahwa kebersamaan dan keakraban ini
sama sekali tak membutuhkan kata-kata
untuk menjelaskan siapa keduanya,
sama sekali tak membutuhkan istilah
untuk membuat ia tak lekang oleh waktu.

Biarlah diam ini sebagai bukti,
bahwa ruh kita ingin terus bersama
dan selalu akrab hingga akhirnya.

Biarlah ketidakpastian ini sebagai tanda,
bahwa kita tak mau tertipu oleh kata-kata
yang seringkali membuat dua menusia berjauhan,
lalu tersekat dalam ambigunya sebuah jalinan.


Senin, 6 Oktober 2014, pukul 01.54 dini hari
Ahmad Satriawan Hariadi

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India