Kepergian yang Dicinta

Benar sekali Gibran ketika berujar bahwa siksaan terberat dalam hidup bukan pada saat seseorang mengecap kematian, melainkan ketika satu demi satu orang-orang yang berada di sekelilingnya pergi meninggalkannya. Mereka, oleh Gibran, diumpamakan layaknya komponen-komponen penyusun jiwa. Lalu, ketika ada salah satu dari mereka yang pergi, di sanalah jiwa kehilangan separuhnya. Begitu seterusnya.

Adapun luka yang ada di tubuh, maka sungguh tak ada apa-apanya dibanding jiwa yang mulai rapuh karena komponen penyusunnya lepas satu persatu. Hal tadi akan begitu kentara terlihat ketika seseorang yang memiliki banyak kerabat dan sahabat setia, diuji Allah dengan sebuah penyakit. Anda akan melihat bagaimana ia begitu tenang dan bahagia berada di tengah orang-orang yang mencintainya; meski ia memikul beban penyakitnya.

Di lain waktu, ada seseorang yang memiliki kesehatan prima dan kekayaan yang melimpah, diuji Allah dengan kepergian orang-orang yang ia cintai. Anda tentu akan melihat bagaimana kekayaannya yang melimpah tersebut, tidak bisa berbuat apa-apa untuk menutupi riak-riak kesedihan ataupun menguatkan rapuh jiwanya. Kalaupun bisa, maka itu hanya sesaat saja. Kalaupun ada orang-orang baru, maka mereka datang hanya untuk melampiaskan ketamakan.

Perpisahan menunjukkan sejauh mana berartinya seseorang bagi yang ditinggal pergi. Ia mungkin akan tiba-tiba berubah menjadi dunia yang ditinggal pergi seutuhnya, sebab nama dan jiwanya telah membayang-bayangi kemanapun yang tertinggal pergi melangkahkan kakinya.


Hay Faisaliyah, 28 September 2016
Ahmad Satriawan Hariadi

Melempar Kenangan

kini tak ada lagi tempat untuk yang lalu
setelah kubuang jauh serakan pedihnya
lalu meratakan kuburan tua di ingatan
hingga di sana tak ada lagi persemayaman

kini tak ada lagi ruang untuk tangisan
di mana kenangan menuntut keabadian
saat wajah-wajah lama menahan langkahku
sementara cinta hanya tahu kesetiaan

lihatlah kini kenangan itu kulempar keras
lihatlah kini ringkih jiwaku menyeru langit
berharap terhujam lalu lenyap tak berjejak
berharap kisah cinta tak mengenal kata akhir


Mina, 12 Zulhijjah 1437H
Ahmad Satriawan hariadi

Ketiadaan

selebihnya, aku adalah ketiadaan
ketika keberadaanku tak berbayang
saat harapku hanya sampai lalu pintang
di situ, kadang raga hanya tahu kematian
-
selebihnya, aku adalah kerikil jalanan
mengabdi setia tanpa peduli siang malam
namun mana ada wajah-wajah kasih itu?!
hingga akhirnya tersadar aku telah hilang

-
Islamic Missions City, 3 April 2016
Ahmad Satriawan Hariadi

Belajar Cinta dari Zaid

Di atas bukit, ia hanya bisa duduk termangu seraya mengarahkan pandangannya ke arah sahara. Berkelebat di dalam benaknya, bilamana putra bungsunya kembali ke dalam dekapannya. Ia begitu ingat, ketika ia dengan berat hati mengiyakan kehendak istrinya untuk membawa sang putra menemui sanak dan kerabat ibunya yang berasal dari kabilah Thay’. Saat itu, ia sadar betul bahaya yang bakal menanti istri dan anaknya di tengah padang sahara. Lalu kini, setelah beberapa purnama berlalu, ia semakin yakin kalau apa yang dikhawatirkannya benar-benar terjadi.

Ya. Itulah yang dirasakan oleh Haritsah bin Syarahil, pembesar kabilah Kalb. Jika bukan karena posisinya sebagai tetua kabilah, ia mungkin sudah menjerit sekeras-kerasnya. Dalam sisa-sisa harapnya, sambil menitikkan air mata, ia hanya bisa menyenandungkan kesedihannya dalam beberapa bait puisi yang begitu menyentuh. Melihat hal ini, tak ayal, para kerabatnya pun melakukan berbagai macam upaya untuk menghiburnya. “Kami akan melakukan apapun untuk menemukan Zaid!” ujar salah seorang dari mereka. “Kami akan memberikan seluruh harta kami, bahkan jiwa raga kami, untuk menebusnya kembali!”

Haritsah hanya membalas kata-kata mereka dengan senyuman tipis yang begitu dipaksakan.

Setelah beberapa waktu, salah seorang anggota kabilahnya mengabarinya tentang keberadaan Zaid. “Ketika sedang duduk di pelataran Ka’bah, aku melihat Zaid bersama orang ternama dari kabilah Quraisy,” kata orang tadi. “Kalau tidak salah, ia adalah Muhammad, putra Abdul Muttalib, pemimpin kabilah Quraisy.”

Tanpa membuang-buang waktu, Haritsah menyiapkan seluruh hartanya seraya mengajak adiknya untuk pergi ke Mekah. Jika ada yang berkelebat di pikirannya, maka itu tiada lain adalah Zaid dan Zaid. Baru kali ini ia merasakan kebahagiaan yang menggebu-gebu dalam setiap langkah perjalanannya di padang sahara, yang semua perjalanan sebelumnya selalu dihantui rasa takut yang mendalam. Ketika ia menginjakkan kakinya di pelataran Ka’bah, tanpa menunggu waktu, ia berteriak sekeras-kerasnya, “Wahai kaum Quraisy, adakah di antara kalian yang menujukkan kepadaku di mana Muhammad, putra Abdul Muttalib?”

Tanpa menuggu waktu, ia pun diantar salah seorang penduduk Quraisy ke tempat yang ia tuju. Di sana, tanpa berbasa basi ia langsung mengutarakan keinginannya kepada Muhammad, yang waktu itu belum diutus sebagai nabi dan rasul. “Kami siap membayar berapapun untuk menebus Zaid,” ujar Haritsah.

Akan tetapi Haritsah bukannya mendapat jawaban berapa nominal tebusan yang harus ia bayar, melainkan mendapat tawaran yang sama sekali tidak pernah terbesit dalam benaknya. Ia malah ditawari Muhammad untuk memberikan Zaid pilihan, apakah dia memilih bapak dan sanak keluarganya, lalu dia dikembalikan tanpa tebusan; ataukah memilih Muhammad dan keluarganya lalu, mau tidak mau, bapak dan keluarganya harus merelakan pillihan Zaid. Mendengar tawaran ini, ia hanya bisa ternganga penuh kagum melihat keluhuran budi Muhammad seraya memujinya.

“Aku tidak akan memilih siapapun lagi setelah memilihmu,” jawab Zaid setelah ditanya Muhammad terkait pilihannya. “Bagiku, Anda adalah ayah dan ibuku.”

“Yang benar saja kau Zaid,” timpal Haritsah seakan tidak percaya. “Memilih hidup sebagai budak ketimbang hidup merdeka bersama ayah, paman dan sanak keluargamu?!”

“Ya,” jawab Zaid penuh yakin. “Aku telah melihat sesuatu dari Muhammad yang membuatku enggan memilih siapapun setelah memilihnya.”

Mendengar hal tersebut, tanpa menunggu waktu, Muhammad menggenggam tangan Zaid lalu membawanya ke pelataran Ka’bah. “Wahai saudara-saudara sekalian,” Muhammad berkumandang. “Saksikanlah bahwa mulai hari ini, Zaid adalah anakku. Aku mewarisinya sebagaimana ia mewarisiku.”

Setelah hari itu, Zaid, oleh orang-orang, dipanggil Zaid bin Muhammad. Sebab, Zaid, menurut tradisi bangsa Arab saat itu, telah resmi menjadi anak Muhammad, dalam artian ia telah memiliki semua hak yang dimiliki anak kandung; seperti hak waris mewarisi, hak kasih sayang, hak penghidupan, dan lain-lain. Mulai saat itu pula, ia menjadi sosok yang paling dicintai Muhammad dan paling dekat dengannya, bahkan hingga setelah diangkat menjadi nabi dan rasul. Bagaimana tidak, ia telah menjadi satu-satunya putra Muhammad yang masih tersisa, dan orang kedua yang masuk Islam setelah Khadijah. Tak ayal, sebagai ayah Zaid, Muhammad mempersunting untuk Zaid putri bibinya, Zainab binti Jahsy. Sehingga jika ada lelaki yang paling tahu hakikat Muhammad, maka orang tersebut tidak lain adalah Zaid. Kemudian jika ada orang yang paling memiliki naluri kepemimpinan Muhammad dan mental perwiranya, maka orang tersebut tidak lain juga adalah Zaid.

Ya. Zaid adalah tangan kanan Nabi nomor satu, hingga ia menemui ajalnya pada tahun 8 Hijrah, saat perang Mu’tah. Hal ini terbukti ketika Nabi selalu menjadikannya panglima kompi (sariyyah) yang bertugas untuk berpatroli di sekitar Madinah, pada awal-awal hijrah. Begitu juga ketika ia selalu diberikan mandat untuk sebagai pemimpin Madinah, saat Nabi melakukan perjalanan ke luar kota. Bukan Abu bakar, ataukah Umar, ataukah Utsman, bahkan Ali sang sepupu.

“Aku pernah ikut berperang bersama Nabi sebanyak tujuh peperangan,” ungkap Salamah bin al-Akwa’, salah seorang sahabat Nabi. “Dan bersama Zaid sembilan peperangan. Dia, oleh Nabi, selalu dijadikan panglima perang kami.”

“Rasulullah tidak pernah mengirim Zaid dalam sebuah pasukan kecuali menjadikannya sebagai panglima,” kata Aisyah, istri Nabi. “Jika Zaid masih hidup, beliau pasti menunjuknya sebagai khalifah.”

Jika sahabat-sahabat Nabi yang lain termaktub di dalam Alquran dengan kata ganti ʻdia’, atau ʻkalian’,  atau ʻmereka’, maka Zaid merupakan satu-satunya sahabat Nabi yang namanya diabadikan di dalam Alquran. Yaitu ketika Allah mengundangkan pelarangan adopsi (tabanni) di dalam surat al-Ahzab, beberapa saat setelah perang Khandaq. Mulai saat itu juga, ia tak lagi dipanggil Zaid bin Muhammad, melainkan Zaid bin Haritsah.

Lalu apakah sikap Nabi kepada Zaid berubah dengan turunnya pelarangan adopsi tadi? Tidak. Nabi bahkan semakin mencintai Zaid. Jika sebelumnya rasa cinta Nabi lebih didasarkan cinta seorang ayah kepada putra semata wayangnya, maka cinta Nabi setelah pelarangan adopsi tadi lebih pada cinta seorang kepada sosok kekasih yang sangat dikaguminya. “Wahai Zaid,” kata Nabi kepadanya. “Kamu adalah tuanku, kamu bagian dariku, kamu adalah orang yang paling aku cintai.”

Wujud kecintaan Nabi kepada Zaid tercermin begitu jelas ketika berita kematiannya di perang Mu’tah sampai kepada Nabi. “Beistigfarlah kalian untuk Zaid. Ia telah masuk surga dalam keadaan berlari,” perintah Nabi kepada kaum Muslimin. “Ya Allah. Ampunilah Zaid! Ampunilah Zaid! Ampunilah Zaid! Ampunilah Ja’far dan Abdullah bin Rawahah!”

Begitulah! Nabi memintakan ampunan untuk Zaid sebanyak tiga kali secara khusus, dan sekali untuk Ja’far bin Abu Talib dan Abdullah bin Rawahah dalam waktu bersamaan. Bahkan sebelum itu, Ja’far memprotes keputusan Nabi yang memilih Zaid sebagai panglima utama pasukan kaum Muslimin, ketimbang dirinya yang tidak lain adalah sepupu Nabi. Namun Nabi kukuh dengan pendiriannya, yaitu menjadikan Zaid sebagai panglima, dan Ja’far sebagai wakilnya.

Demikian pula halnya ketika Nabi melihat putri Zaid menangis di hadapannya setelah mendengar kabar gugurnya Zaid. Ya. Nabi menangis hingga tersedu-sedu. Menyaksikan hal demikian, sahabat Nabi, Saad bin Ubadah hanya bisa tercengang. “Wahai Rasulullah, apa-apaan ini?!” tanya Saad kepada Nabi seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Ini adalah kerinduan seorang kekasih kepada kekasihnya,” jawab Nabi.

Inilah Zaid, sosok yang paling dicintai Nabi, bahkan hingga keturunannya. Anda tentunya tahu ketika beberapa saat sebelum wafat, Nabi mengirim pasukan terakhirnya untuk melawan pasukan Romawi di bawah pimpinan Usamah, putra Zaid yang masih berusia belasan tahun. Saat itu orang-orang yang berada di dalam pasukan itu adalah para pembesar sahabat Nabi semisal Abu bakar, Umar, dan lain-lain. Meskipun begitu, tetap saja ada sahabat Nabi yang keberatan keputusan Nabi tersebut. “Jika kalian masih mempermasalahkan kepemimpinan Usamah, maka kalian sebelumnya telah melakukan hal yang sama, yaitu mempermasalahkan kepemimpinan bapaknya,” kata Nabi. “Demi Allah! Sungguh bapaknya memang benar-benar layak memimpin kalian. Sungguh dia adalah orang yang paling aku cintai. Dan ini (seraya menunjuk Usamah), adalah orang yang paling aku cintai setelah bapaknya.”

Kecintaan Nabi kepada Zaid, yang melebihi cintanya kepada siapapun, tidak semata-mata ada begitu saja, tanpa sebab yang pasti. Tidak. Zaid telah menyemai kekaguman dan kecintaannya kepada Muhammad sejak lama, yaitu ketika Muhammad belum diangkat menjadi Nabi dan Rasul; lebih tepatnya ketika Muhammad baru-baru berumah tangga dengan Khadijah. Di sanalah Zaid membuktikan ketulusan cintanya kepada Muhammad ketika ia lebih memilih Muhammad, majikannya, ketimbang orang tua kandungnya. Ya. Ketika ia lebih memilih tetap menjadi budak asal tetap bersama Muhammad, ketimbang hidup bebas merdeka melakukan apapun yang ia inginkan. Ketika ia lebih memilih hidup terasing di negeri orang demi bersama Muhammad, ketimbang hidup di kampung halaman bersama sanak saudara.

Kemudian ketika fajar Islam mulai terlihat riak-riaknya di ufuk timur, kecintaaan Zaid kepada Muhammad semakin menjadi-jadi. Ia menapaki titian ujian dan cemoohan saat di Mekah yang tak mengenal kata henti dengan tegar dan tabah, sebagaimana ketegaran dan ketabahan Muhammad. Ya. Zaid adalah satu-satunya orang yang menemani Nabi berdakwah di Tha’if. Ia adalah satu-satunya orang yang mandi darah karena berusaha sekuat tenaga melindungi Nabi, saat kabilah Tsaqif, penduduk Tha’if, menghujani mereka berdua dengan lemparan batu dan cemoohan.

Setelah menguraikan kisah Zaid di atas, sudah saatnya kini kita mengintrospeksi diri. Jika kita benar-benar mencintai Rasulullah, apa saja yang kita lakukan saat beliau dilecehkan? Apa saja sumbangsih kita terhadap agama yang beliau bawa ini? Apa saja upaya yang kita lakukan untuk memajukan umatnya yang masih betah bersemayam di bawah kubangan kebodohan, perpecahan, perdebatan tak berguna, dan fitnah tak berujung? Ataukah jangan-jangan kita ini hanya ingin masuk surga sendiri?!


Islamic Missions City, 12 Februari 2016
Ahmad Satriawan Hariadi

Sumber dan Referensi:
  • Ibnu Saad, Muhammad. 2012. Kitab al-Thabaqat al-Kabir. Cairo: Maktabah al-Khanji.
  • Ibnu Hisyam, Abdul Malik. tt. al-Sirah al-Nabawiyyah. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
  • Mubarakfury, Shafiyyurrahman. 2010. al-Rahiq al-Makhtum. Mansoura: Dar al-Wafa.
  • Gulen, Muhammad Fethullah. 2007. al-Nur al-Khalid. Istanbul: Dar al-Nil.
  • Hussein, Taha. 1998. ʻAla Hamisy al-Sirah. Cairo: Dar al-Ma’arif.



Alquran dan Sastra; Sebuah Benang Merah

Hampir semua orang, menurut saya, termotivasi belajar bahasa Arab karena ingin memahami Alquran. Lalu, orang-orang tadi, beranggapan bahwa untuk memahami Alquran, Anda cukup memahami kaidah-kaidah dasar bahasa Arab; yang terdiri dari Nahwu dan Sharf. Maka, ketika Anda sudah memahami buku semisal Matn Ajurrumiyah dan Ilmu al-Tashrif dengan baik, Anda, menurut anggapan orang-orang di atas, dapat dipastikan sudah bisa memahami Alquran.

Benarkah demikian?

Sebelum kita menjawab pertanyaan di atas, alangkah baiknya kita menegaskan bahwa Alquran adalah lambang supremasi kefasihan bahasa dan estetika sastra; sebelum menjadi konstitusi agama dan lentera hidayah bagi umat manusia sepanjang zaman.

Artinya, jika kita tidak memahami dan merasakan langsung kedua aspek di atas dengan baik, saat berinteraksi dengan Alquran; maka kemukjizatan Alquran yang sering kita dengar di mana-mana itu, bagi kita, hanya cerita belaka. Sebab, kita hanya tahu kalau Alquran itu adalah mukjizat; tanpa tahu bagaimana hakikat kemukjizatan Alquran, sehingga membuat para pujangga Arab Jahiliyah hanya bisa ternganga, bahkan memutuskan berhenti berkarya untuk selama-lamanya setelah membaca Alquran, seperti yang dilakukan penyair besar Arab Labid ibn Rabiah.

Setelah kita tahu esensi kedua aspek di atas, kita bisa pastikan bahwa anggapan orang-orang di atas, jauh dari realitas. Terlebih lagi jika kita tahu, bahwa banyak permasalahan-permasalahan Nahwu dan Sharf dalam teks Alquran yang membingungkan para ulama; yang tak terbahas di dalam buku-buku Nahwu ataupun Sharf yang dengan menguasainya, sebagaimana kata mereka, Anda sudah bisa memahami Alquran. Jika Anda masih ragu juga, mari kita ambil beberapa ayat Alquran sebagai contoh.

Pertama, kaidah Tadhmin pada ayat:

 ﴿عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُوْنَ♂
Atau bacaan salat kita:

 «سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَه»

Kedua, perdebatan yang terjadi terkait hakikat pola atau shighah «المحيض» dan pengaruhnya terhadap permasalahan fikih dalam firman Allah:

﴿يَسْأَلُوْنَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ♂

Atau hakikat pola «تَفَعَّلَ» dan impaknya terhadap perbedaan fukaha dalam firman Allah:

﴿فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ♂

﴿وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ♂

Dua contoh di atas merupakan gambaran dasar, betapa kelirunya anggapan di atas, sekaligus menujukkan kepada kita, bahwa untuk memahami Alquran dengan baik dan benar, kita harus meluangkan waktu lebih banyak lagi untuk menelaah karya para ulama Nahwu dan Sharf; semisal Amali milik Ibn al-Syajari, Syarh al-Mufassal milik Ibn Ya’isy, al-Muhtasab milik Ibn Jinny, dan buku-buku para ulama yang lain.

Selanjutnya, apakah dengan menjadi spesialis Nahwu dan Sharf cukup menjadi garansi seseorang untuk merasakan langsung kemukjizatan Alquran? Tentu tidak cukup. Mengapa? Karena ilmu Nahwu, sebagaimana yang kita baca di dalam buku Nasy’ah al-Nahwi milik Syaikh Muhammad al-Tantawi, diciptakan untuk mengantisipasi kesalahan di dalam membaca Alquran; dengan asumsi betapa fatalnya akibat yang ditimbulkan oleh kesalahan bacaan, yang bisa bermuara pada lembah kemusyrikan dan kesesatan. Ditambah lagi jika kita cermati lebih dalam, kalau tema Nahwu hanya berkisar pada ‘benar atau tidaknya sebuah struktur kalimat (tarkib)’. Adapun yang berkaitan dengan ‘mengapa strukturnya harus begini, dan mengapa tidak demikian, padahal sama-sama benar’, maka hal ini tidak lagi menjadi pembahasan Ilmu Nahwu, tapi sudah merangkak ke Filsafat Nahwu, atau yang populer dengan sebutan Ilmu Balagah.

Setelah kita tahu bahwa menjadi spesialis Nahwu dan Sharf saja tidak cukup untuk menyingkap lalu merasakan kemukjizatan Alquran, lantas apa yang membuat kita bisa seperti itu? Inilah inti pembicaraan kita. Sebelum membahas lebih lanjut apa saja yang membuat kita menyingkap lalu merasakan kemukjizatan Alquran, baiknya kita mengerti betul hakikat kemukjizatan Alquran yang sering kita dengar itu. Ya, kita harus mengerti apa saja yang membuat Alquran itu beda dengan yang lainnya, sehingga dikatakan sebagai mukjizat.

Ketika kita mengatakan Alquran adalah lambang supremasi kefasihan bahasa, kita harus paham betul bahwa keistimewaan Alquran dalam konteks ini, teraktualisasi mulai dari pemilihan setiap diksinya, lalu teraktualisasi pada penyusunan diksi-diksi terpilih tersebut ke dalam sebuah struktur kalimat, kemudian teraktualisasi pada korelasi setiap struktur dengan struktur lainnya; hingga mendatangkan ketepatan dan keserasian makna yang diinginkan dengan konteksnya.

Begitu juga ketika kita mengatakan Alquran adalah lambang supremasi estetika sastra. Kita harus tahu bahwa puncak estetika sebuah karya sastra, apapun genrenya, tercermin pada seberapa kuat pengaruh yang ditimbulkan di dalam jiwa pembaca maupun pendengarnya. Namun, sebelum kita mengupas hal ini lebih jauh, mari kita kembali pada sejarah ketika Alquran diturunkan. Ya, Alquran diturunkan ketika bangsa Arab dipenuhi oleh para pujagga brilian dan para orator ulung. Ya, Alquran diturunkan ketika kehormatan dan kebanggan terpusat pada kemampuan mengolah kata menjadi karya-karya sastra yang menyihir.

Setelah kita tahu hal ini, kita paling tidak akan mengerti, mengapa Alquran yang turun dari langit sebagai konstitusi kebahagiaan dunia dan akhirat ini; memilih menggunakan metode sastrawi, ketimbang metode perundang-undangan pada umumnya. Jika Anda tidak percaya, mari kita perhatikan ketika Alquran mengundangkan pelarangan gibah. Apakah Alquran mencukupkan diri hanya dengan mengatakan, “Janganlah kalian saling menggunjing!”? Tentu tidak. Namun Alquran menggunakan metode sastrawi, dengan melayangkan sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak membutuhkan jawaban, “Adakah seseorang di antara kalian yang mau memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentulah kalian merasa jijik.” Tujuannya pun tidak lain, yaitu agar kaum Muslimin merasakan betapa keji dan joroknya sebuah gibah, lalu meninggalkannya atas kemauan sendiri.

Hal ini, secara otomatis, tidak berarti bahwa Alquran itu adalah karya sastra. Tidak! Alquran tetap merupakan wahyu, namun menggunakan metode sastrawi di dalam penyampaiannya, yang mana impaknya terhadap pembaca maupun pendengarnya, melebihi impak mahakarya sastra itu sendiri.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah orang-orang seperti kita ini, yang datang 15 abad setelah Alquran diturunkan; mampu merasakan apa yang pernah dirasakan oleh bangsa Arab pada masa itu, terkait estetika sastranya? Jika kita mampu, apakah ada upaya yang bisa kita tempuh untuk itu?

Untuk bisa merasakan pesona dan sihir Alquran seperti yang pernah dirasakan oleh bangsa Arab 15 abad yang lalu, Anda harus memiliki kapabilitas --atau yang sering disebut dengan malakah-- seperti mereka. Malakah ini tidak akan bisa Anda dapati, jika Anda tidak memahami betul kondisi bangsa Arab saat itu; mulai dari iklim, kondisi geografis, keadaan sosial, dan terutama karakter dan corak bahasa yang dipakai bangsa Arab saat itu. Tidak hanya itu, malakah juga harus selalu diasah dengan interaksi yang intens dengan karya-karya sastra pada masa itu; mulai dari menajamkan pemahaman terhadapnya, lalu menghapalnya di luar kepala, hingga malakah tadi benar-benar tertanam dan menyatu dengan diri kita.  

Inilah mengapa kita harus belajar sastra Arab!


Islamic Missions City, 30 Januari 2016
Ahmad Satriawan Hariadi

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India