MELANKOLIS

Seharian sudah angin melankolis menyapu perasaanku. Senduku sesekali meneteskan air mata. Rapuhku membuat raga ini hanya bisa diam. Hanya instrumen-instrumen kesedihan yang sudi menemani, membawa pikiranku ke lautan kenangan yang tenang. Bayang tawa dan sedu membias gemercik isakan, betapa perihnya hati tertinggal pergi untuk selamanya.

Tak pernah terpikir jika ada masanya aku bakal tergantikan di hatimu. Sekarang, semuanya benar-benar terjadi. Apa yang tersisa dari kata-kata manismu? Apa yang tersisa dari lembaran-lembaran penenang jiwa yang kau goreskan?

Kamu memang bukan yang pertama dalam rantai pencarian jati diriku. Ada beberapa dara yang pernah mengajak perasaanku memasuki dimensi yang tak terbahasakan ini. Merasakan bagaimana indahnya saling merindu, bertukar tawa dan duka, mengecap manisnya tersekat oleh keadaan, dan beradu acuh saat kepenatan mengakhiri kebersamaan.

Semua jalinan itu terpilin menjadi pengalaman yang berharga. Menyadarkan jiwa, bahwa jalinan sepasang ciptaan sebelum masanya hanyalah awan kelam yang menyebabkan hujan tangis sepanjang jalan. Ada perasaan yang semestinya dirasa saat menapaki abstraknya kedewasaan. Namun karena jalinan itu, kelabilanku yang ringkih hanya merintikkan kenaifan jiwa.

Lalu apa yang membuatmu begitu beda dari para dara itu? Kamu pun ingat betul, bagaimana usahaku meyakinkan hatimu tanpa mengenal “siapa aku”. Kamu pun tahu, bagaimana keletihanku dipermulaan, lalu berjalan beriring setelah keluluhanmu. Kamu pun sadar, kalau aku sebentar lagi akan meninggalkan kampung halaman.

Hidup bertitah kalau aku kini tak bisa tegak seorang diri. Caraku menatap hawa tak lagi seperti aku masih kanak-kanak. Ada dorongan. Ada rasa ingin tahu. Ada sepucuk harapan saat menatap matanya. Ada hasrat untuk lebih dekat. Namun nyatanya, kejadian semacam ini memilih jalan yang bertolak belakang dengan mimpi saat senjaku nanti. Ia hanya memperlambat gerakanku untuk menggapai cita-cita, bahkan membuatku diam terpaku di tengah jalan.

Pencarian jati diriku selama ini, sudah lebih dari cukup sebagai pembelajaran hidup kepadaku. Jika tidak ada dara yang menjadi pasak jiwa, raga ini tak akan tegak berjalan. Sebab, mata tersibukkan untuk menoleh ke kiri dan ke kanan, sepanjang jalan pancapaian. Masaku pun habis di pertengahan jalan dan takdir pun berkata lain.

Aku pun berharap jika pelabuhan terakhir jiwa ini adalah pangkuanmu. Hingga aku pergi meninggalkanmu dengan kepala tegak. Mendulang perbekalan ilmu dan pengalaman untuk baya kita esok hari. Yakinku pun membisikkan kalau jarak tak berarti apa-apa selama kita jujur terhadap hati kita sendiri.

Akan tetapi kenyataan bertitah lain saat aku terpisah jauh darimu. Aku kehilangan jati diriku karena kebebasan yang terpasung. Kamu pun mulai mengungkap kesuraman masa lalu yang kau simpan rapat saat aku masih dalam pangkuanmu dulu. Hingga aku menyadari kalau jalinan ini hanya akan menguras perasaan yang berhiaskan keterpasungan. Kamu pun terdiam. Begitu juga aku.

Setelah mengintrospeksi diri, aku dan kamu pun bersepakat untuk berlepas diri dari kungkungan perasaan yang begitu abstrak ini. Aku tidak mau memasungmu dalam gerimis kesedihan. Jika ada pujangga pelipur lara yang berkenan mengusap air matamu, dan memperlakukanmu lebih baik dariku, ikutilah dia. Sedang di sini aku hanya bisa berjanji dalam rapuhku, “Aku tidak akan mencari penggantimu sampai sekembaliku nanti, hingga tiba saatnya aku tahu, kalau akau sudah tergantikan di hatimu.”

Aku hanya terkatung dalam spektrum nyata dan maya, antara sadar dan tidak, bahwa aku benar-benar sendiri mulai saat ini. Aku tak akan mencari lagi. Biarlah sosok itu datang sendiri suatu saat nanti. Membangunkanku dari keterpakuan ini lalu menggerakkan tanganku untuk memulai lagi menulis kisah cinta hingga menapak surga.

Memiliki cinta adalah kehidupan
Dengannya aku mencari dan berpeluh
Meski terkadang harus letih dipermulaan
Kemudian berjalan beriring setelah luluh

Bercinta hanya dengan suara manjanya
Bersama canda ria di kelopak matanya
Sesekali beradu acuh di depan biliknya
Bahkan meski saat berpisah tanpa kata

Kini jauh di cakrawala riak-riakmu yang menyebalkan
Atau terbawa angin sendu dedaunan kering isakanmu
Lalu jatuh dan menimbulkan gemercik kecil indahnya kenangan
Namun terkadang perasaan tak bisa terus terpasung di tempat itu

Ah, rasanya aku ingin kau menari dalam khayalan dan tatapan
Atau bernyanyi dengan senandung yang selalu kau perdengarkan
Bersama dingin malam dan desauan kecil rintik-rintik hujan
Esoknya pelangi bersua dengan kerinduan pada senyuman

Ini hari kau tak lagi dalam dekapan
Cinta ini terbawa bersama perpisahan
Kau telah terbang bebas di belahan sana
Sedang di sini bersama bingung terlupa

Islamic Missions City, 5 April 2013

2 komentar:

Neng Fauziya said...

Wuiiiih dalem banget mas...apa artinya ini benar-benar melepas si dia? Hmm POV nya ada yang loncat tuh dari "mu" ke "nya"terus ke "mu"lagi hihi tp itu g pnting. Bahasanya indah tp sedih bacanya hiks

Ahmad Satriawan Hariadi said...

Lebih dalam Cinta (Kemudian)-nya Neng... Bukan melepas, tapi dia yang memilih untuk tak lagi di sini..

Post a Comment

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India