Tentang Kita


Kita adalah terjemahan dari dua suara hati yang hanya ingin bersama, meskipun seluruh dunia memberikan seribu alasan untuk berpisah. Kita adalah dua ego yang selalu beradu mulut agar selalu diprioritaskan, namun beberapa saat kemudian keduanya tak bisa berbuat apa-apa, saat rindu dan takut kehilangan mulai bicara.
Kita adalah ketika aku dan kamu berhasil membuat kesedihan dan kesunyian menjadi tidak nyaman, lalu melangkahkan kaki meninggalkan kita untuk selama-lamanya. Kita adalah ketika aku hanya melihat dan memikirkan kamu, meskipun aku dan kamu terpisah jarak dan waktu.
Kita bukan seperti plot novel atau film, di mana cerita selalu berhenti ketika tokoh lelaki dan perempuan berhasil bersatu sebagai sepasang kekasih. Justru kita adalah perjuangan tanpa henti untuk mempertahankan ‘kita’ setelah menjadi sepasang kekasih.
Kita bukan seperti atasan dengan bawahan, atau majikan dengan pesuruh. Kita adalah di mana yang di belakang memberikan dorongan, yang di samping menghilangkan kesendirian, dan yang di depan mengayomi dan membimbing.
Kita adalah dunia itu sendiri. Kehilanganmu berarti aku kehilangan duniaku, di mana tak ada lagi tempat berpijak, tak ada lagi tempat merebahkan badan, dan tak ada lagi tempat menutup mata. Aku hilang saat aku kehilangan kamu.

Cairo, 21 Mei 2015
Ahmad Satriawan Hariadi


Nilai Sebuah Kreativitas

Ahmad ibn Tulun Mosque, Egypt. (Taken by Ahmad Satriawan Hariadi)
Jika Anda diberikan pilihan untuk menjadi orang yang berilmu atau orang yang kreatif, apa yang bakal Anda pilih? Pilihan ini, pada awalnya, mungkin akan membuat Anda bingung. Namun setelah direnungi dengan dalam, saya dan Anda, pasti akan memilih menjadi orang kreatif.
Mengapa? Inilah inti tulisan saya kali ini.
Untuk menjadi seorang ilmuan yang kompeten dan mumpuni di bidang tertentu, Anda hanya butuh kemauan sekeras baja, motivasi setinggi gunung, dan kesabaran seluas samudera. Ya. Itulah modal utama seorang ilmuan yang sejati, di samping kebutuhan lain yang sangat substansial, yaitu sarana dan fasilitas penunjang.
Sebab percuma sekali Anda memiliki sarana dan fasilitas terlengkap di dunia, namun pada satu waktu Anda tidak memiliki kemauan, semangat, dan kesabaran. Atau sayang sekali Anda memiliki potensi untuk menjadi ilmuan ternama sepanjang sejarah, namun sarana dan fasilitas untuk menggapainya tidak memadai, atau bahkan tidak ada sama sekali.
Lalu apa pentingnya sebuah kreativitas? Jika orang-orang mengartikan kreativitas sebagai kemampuan untuk mencipta, maka saya, lebih melihat kreativitas sebagai kecermatan mendeteksi masalah, lalu menganalisisnya, dan akhirnya memecahkannya dengan efisien. Ya. Artinya orang kreatif tidak pernah memiliki masalah dalam hidupnya.
Dalam hal ini, terlihat begitu jelas pentingnya sebuah kreativitas; yaitu ketika ia dihadapkan pada sebuah permasalahan, ia hanya butuh beberapa saat untuk memecahkannya. Kekurangan saranan dan prasarana tidak pernah sedikitpun menjadi sebuah permasalahan di mata orang kreatif.
Orang kreatif, dengan imajinasi tak terbatas dan daya cipta tak terhenti; akan selalu membuat perbedaan di manapun ia singgah dan menapakkan kaki. Ia akan menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekelilingnya. Ia bahkan akan menjadi otak dari narasi besar yang harus diaktualkan.
Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika sosok ilmuan dan sosok kreatif berintegrasi dalam diri seseorang. Di sinilah sosok ini akan menjadi guru besar manusia sepanjang masa. Mereka adalah oase di tengah gurun yang panas dan tandus. Di sinilah nilai sebuah kreativitas.

Islamic Missions City, 25 April 2018
Ahmad Satriawan Hariadi


Tentang Calon Doktor Memilukan

Miris sekali ketika Anda sedang menempuh program doktor, namun Anda masih terkungkung oleh cara pandang dan pola pikir yang sangat sempit. Apa jadinya jika Anda seumpama murid sekolah dasar; yang masih harus dituntun untuk belajar ini dan itu, didikte untuk berguru pada guru ini dan menjauhi guru itu, dan membenarkan begitu saja semua yang Anda baca atau dipaparkan kepada Anda.
Melihat hal ini, kita tentunya gigit jari, karena seorang yang berada di program doktor, harusnya tidak mudah terbawa opini, tidak mudah terprovokasi, dan tidak menjadi alat propaganda oknum tertentu. Justru aneh sekali ketika seseorang dalam posisi dia, tidak terbiasa, bahkan naik pitam dengan perbedaan dan hal paradoks yang ada di depan matanya.  
Hal memilukan ini, paling tidak menunjukkan kepada kita semua, bahwa tingginya strata pendidikan bukanlah sebuah garansi dari matangnya keilmuan, luasnya cara pandang, terbukanya pemikiran, dan lapangnya dada untuk menerima perbedaan.
Kita harusnya mengerti bahwa untuk cara terbaik untuk menjustifikasi seseorang—sebagaimana kata Dr. Muhammad Imarah—adalah dengan membaca langsung karya dan pemikirannya, bukan dengan mentaklid buta orang lain yang pernah menjustifikasinya. Kita juga harus mengerti bahwa ketika orang yang menjadi objek penelitian kita menyelisihi pendapat kita, bukan berarti kita harus mengabaikan puluhan sisi positifnya, apalagi sampai membutakan mata sendiri, lalu mengecap objek kita sesat dan melarang orang lain untuk mendekatinya.
Apa yang saya sampaikan ini sama sekali bukan hal baru. Sama sekali bukan. Akan tetapi kejadian miris di atas membuat saya harus menyampaikannya lagi dan lagi. Sebab kejadian ini, dikhawatirkan akan menciptakan iklim keilmuan yang sangat-sangat tak sehat di kalangan kita mahasiswa Al-Azhar. Saya kira tidak ada salahnya mengadopsi perkataan seorang pemikir Mesir, “Jika Anda membenarkan semua yang Anda baca (dan dengar), sebaiknya Anda berhenti membaca (dan mendengar) dari sekarang.”

Cairo, 29 Maret 2018
Ahmad Satriawan Hariadi


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Justin Bieber, Gold Price in India